Kisah Sahabat Nabi Muhammad SAW: Barakah “Rewelnya” Ukasyah bin Mihshan

Kisah Sahabat Nabi Muhammad SAW: Barakah “Rewelnya” Ukasyah bin Mihshan

Kisah sahabat yang satu ini memang tak semasyhur nama-nama sahabat ring satu Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Tapi di balik itu justru memberi kita (yang awam agama ini) sebuah kabar gembira.

Kisah Sahabat Nabi Muhammad SAW: Barakah “Rewelnya” Ukasyah bin Mihshan
Ilustrasi: @artsgaf/Alwy

Kisah sahabat yang satu ini memang tak semasyhur nama-nama sahabat ring satu Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Tetapi, setidaknya, sependek pengetahuan saya, sahabat “biasa-biasa” saja ini justru sangat mengejutkan dan menginspirasi dengan dua hal yang terkait dengannya. Salah satu peristiwanya bahkan sampai membuat sahabat terkemuka Anas bin Malik r.a sangat luar biasa gembira.

Pertama, Ukasyah bin Mihshan merupakan “aktor nekat” yang tampil di jelang hayat Kanjeng Nabi Muhammad, saat Beliau SAW untuk terakhir kalinya berkhutbah di masjidnya di hadapan para sahabat dalam suasana pilu.

Dalam keadaan sakit keras, Kanjeng Nabi SAW naik ke mimbarnya, lalu berkhutbah. Di akhir khutbah, Beliau SAW mempersilakan para sahabat, siapa pun, untuk meminta tebusan padanya jika Beliau SAW pernah melakukan kesalahan.

Semua orang tertunduk dalam isak haru–bayangan perpisahan sungguhlah nyata di depan mata.

Tak diduga, tiba-tiba sosok Ukasyah bin Mihshan ini mengacungkan tangan dan bersuara memecah keheningan bahwa ia pernah terkena cambuk unta Kanjeng Nabi SAW dalam suatu perjalanan. Ukasyah bin Mihshan dengan lantang menuntut tebusan kepada Beliau SAW dalam bentuk cambukan pula. Tentu saja para sahabat sangat geram melihatnya.

Mulai Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq yang mengajukan diri untuk dicambuk menggantikan Kanjeng Nabi SAW, lalu Sayyidina Umar bin Khattab, hingga Sayyidah Fathimah yang diberitahu oleh Bilal bin Rabah yang diperintah Kanjeng Nabi SAW untuk mengambil cambuk di rumah.

Tapi Ukasyah bin Mihshan bergeming. Ia hanya mau “qishahs” itu dijalankan oleh Nabi Muhammad sendiri. Dan Kanjeng Nabi SAW pun mengijinkannya.

Beliau SAW lalu melepas bajunya, sebagaimana tuntunan Ukasyah bin Mihshan, dan bersiap menerima cambukan. Para sahabat menangis semua menyaksikan detik-detik menegangkan itu–tentu geramnya tiada tara kepada Ukasyah bin Mihshan.

Detik-detik yang menegangkan itu serentak patah bertantakan tatkala Ukasyah bin Mihshan melempar cambuknya lalu menghambur memeluk tubuh polos Kanjeng Nabi SAW. Ia menangis menderu-deru, lalu berkata dengan suara serak bahwa semua ini ia lakukan semata karena sangat ingin kulit tubuhnya bersentuhan langsung dengan kulit tubuh mulia Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Tak dinyana, peristiwa “bengal” Ukasyah bin Mihshan ini justru menjadi sebab (asbabul wurud) bagi dawuh Kanjeng Nabi SAW ini: “….al-mar-u ma’a man ahabba yaumal qiyamah, orang akan dikumpulkan dengan orang yang dicintainya di hari kiamat (akhirat)….

Anas bin Malik r.a betapa gembiranya atas lahirnya dawuh tersebut. Beliau bergembira karena itu menjadi dalil bagi jaminan akan kembali berkumpulnya dirinya dengan Baginda Nabi Muhammad SAW kelak di akhirat. Rewelnya Ukasyah bin Mihshan menjadi barakah yang luar biasa…. (dalam riwayat lain, dawuh Beliau SAW tersebut terkait dengan seorang Arab Baduwi, bukan Ukasyah bin Mihshan).

Kedua, lagi-lagi Ukasyah bin Mihshan “berulah”. Dalam kitab tafsir Ibnu Katsir, di bagian surat Ali ‘Imran 110, di bagian akhir-akhir dari khazanah dalil dan atsar yang ditampilkan Ibnu Katsir, terdapat sebuah kisah sahabat atas nama Ukasyah bin Mihshan. Diriwayatkan bahwa saat itu Kanjeng Nabi SAW sedang bersama sejumlah sahabat di sebuah bukit, di antaranya adalah Sayyidina Umar bin Khattab. Kanjeng Nabi SAW lalu menuturkan tentang 70.000 orang umatnya yang akan masuk surga tanpa dihisab. Semua orang menyimak dengan ta’dhim.

Tak dinyata, usai dawuhan tersebut, tiba-tiba Ukasyah bin Mihshan “nyeluthak”, begini:

“Wahai Rasulullah SAW, tolong doakan aku supaya masuk ke dalam golongan tersebut.”

Kanjeng Nabi SAW pun memenuhi permintaan tersebut, mendoakannya, lalu bersabda, “engkau termasuk ke dalam golongan tersebut.”

Betapa gembiranya Ukasyah bin Mihshan. Sikapnya yang blak-blakan, bolosuko, sat-set begitu menjadikannya meraih bagian dari barakah Kanjeng Nabi SAW, bahkan didoakan secara khusus begitu.

Melihat kejadian tersebut, sahabat yang lain (tak disebutkan namanya) sontak melakukan hal yang sama dengan Ukasyah bin Mihshan, memohon kepada Beliau SAW agar didoakan dan dimasukkan ke dalam golongan bebas hisab tadi. Kanjeng Nabi SAW dawuh, “Aku akan mendoakanmu, tetapi tolonglah aku dan dirimu dengan meningkatkan amal-amalmu….”

Jawaban ini tak sama persis dengan jawaban Beliau SAW kepada Ukasyah bin Mihshan. Entahlah, waLlahu a’lam bish shawab.

Dengan nada bercanda, saya acap menukilkan riwayat Ukasyah bin Mihshan buat teman-teman di sekitar saya, betapa mungkin saja “rewelnya” seseorang dalam hal cinta dan cinta yang mendalam kepada seseorang (dalam hal ini kepada Kanjeng Nabi SAW, dan tentu para pewarisnya cum para ulama kini) menjadi wasilah, sebab, bagi dikaruniakanNya rahmat dan berkahNya kepada orang tersebut. Saya bercanda menyebutnya “tarekat nyeluthak”–tentu, nyeluthak yang saya maksud adalah dalam konteks Ukasyah bin Mihshan tadi.

Baca Juga, Hadis Arbain: Bahkan Kelon Pun Bisa Bernilai Sedekah

Riwayat tentang kisah sahabat bernama Ukasyah bin Mihshan ini pun bisa menjadi inspirasi betapa umpamapun kita bukan siapa-siapa, nasab kita ya awam-awam belaka, tetapi dengan jalan cinta dan cinta kepada Kanjeng Nabi SAW, dan para ulama kini, dengan kepolosan yang murni begitu rupa, sangatlah terbuka jalan-jalan barakah, rahmat, dan syafaat untuk kita.

Semoga inspirasi ini bisa menambahkan sifat ta’dhim kita kepada para ulama dalam niatan tawassul barakah dan rahmat dari sisi Allah Ta’ala dan syafaat dari sisi Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Amin.