Ahmad Tohari dan Isu-Isu Kemanusiaan

Ahmad Tohari dan Isu-Isu Kemanusiaan

Ahmad Tohari lahir dan tumbuh di lingkungan santri. Kesehariannya yang sederhana dan sarat akan muatan agama membuat sosoknya dekat dengan masyarakat. Kedekatan itulah yang membuatnya konsisten membela kemanusiaan dalam tulisan-tulisannya.

Karya monumentalnya, trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (pertama terbit 1982), diakui sarat muatan dakwah., sekalipun banyak kalangan mempertanyakan alasan Tohari mengangkat tema Ronggeng yang memiliki citra buruk kala itu.

Memang, pembaca mafhum bahwa intrik yang dibawa Srintil secara gamblang justru menampakkan hal yang tabu. Tetapi, pergulatan batin Srintil yang berujung pada pilihannya untuk ‘bertaubat’ dan menjadi ibu rumah tangga biasa, kental akan pesan dakwah yang klise: ‘semua orang, selalu berhak memiliki kesempatan kedua. Sebab Tuhan maha welas asih. Maha pemaaf.’

Read More

Melihat Ronggeng Dukuh Paruk yang ditulis pada kurun 80-an dan berlatar tahun 1965, kita mengingat Kabinet Pembangunan yang dibawa Soeharto. Waktu itu memang ketimpangan sosial terjadi di mana-mana, terutama di lingkungan terpencil.

Ketimpangan yang terjadi bukan saja di ranah ekonomi, pun di bidang lainnya. Salah satunya bidang pendidikan. Ia menyampaikan perspektif dengan imajinasi desa; yang primitif dan nir-edukasi selalu kalah dengan imajinasi kota yang maju dan berpendidikan.

Lewat novel yang kelak mendapatkan banyak penghargaan ini, Tohari nekat menyampaikan kritik tentang moralitas dan penghargaan kepada sesama manusia yang tak dimiliki masyarakat Dukuh Paruk yang sarat akan dogma tradisi yang memenjarakan ‘suara’ perempuan. Pesan kemanusiaan juga tergambar dalam tragedi yang terjadi pada tahun 1965 dalam novel tersebut.

Belakangan, kita menyadari bahwa kepedulian terhadap sesama manusia dan pemuliaan terhadap perempuan memang mesti ada dalam ihwal pendekatan ikatan dengan Tuhan.

Sebelum Ronggeng Dukuh Paruk, pembaca telah bertemu Kubah (1980), yang menceritakan Karman, seorang yang mulanya sederhana, rendah hati dan taat terhadap agama, tersebab pengaruh ‘luar’,  ia terjerumus ke Partai Komunis Indonesia (PKI) dan kerap menentang nasihat-nasihat orang-orang yang berjasa membesarkannya.

Pasca Gerakan 30 September 1965, ia pun ditangkap dan diasingkan di Pulau Buru. Selepas bertahun-tahun ia menghuni sekaligus merenungi segala perbuatannya, ia pulang kampung dan disambut orang-orang di sekitar dengan tangan terbuka. Ia pun bertaubat dan kembali menjadi muslim yang taat.

Kita sadar dalam Novel ini, imajinasi desa yang ‘kalah’ dengan stigma kuno dan udik, tetap dapat menang dalam soal watak kemanusiaan: murah hati, ramah dan pemaaf.  Tohari menyoroti makna kultural masyarakat desa yang tak boleh hilang tergerus modernitas masyarakat kota.

Imajinasi tentang desa yang unggul dalam kemanusiaan juga kemudian terlahir melalui novel Bekisar Merah (1993), Di Kaki Bukit Cibalak (1994),  cerpen-cerpen dalam buku Senyum Karyamin (1989), Orang-orang Proyek (2003) dan sejumlah cerpen mutakhir yang terbit di media massa.

Sejak kemunculun karya pertamanya, pembaca sering diajak menyusuri keindahan dan keasrian alam pedesaan. Latar yang memang relevan dengan masa kecilnya yang dibesarkan di lingkungan pedesaan.

Penggambaran alam ini mungkin menjadi penghajaran imajinasi kita memaknai alam yang ‘remeh’, kerap serta merta membabat habis ia atas nama pembangunan, tanpa merenungkan ‘jasa’ yang dilakukan alam dalam melayani manusia.

Ahmad Tohari, melalui rangkaian katanya, seperti berpesan agar manusia tidak lalai dalam menjaga salah satu anugrah Tuhan yang dititipkan kepada kita. Latar dan suasana lantas menjadi keindahan deskripsi yang berharap dapat diselesaikan pembaca dengan gelimang renungan.

Di kemudian hari, karya-karya besar Ahmad Tohari terus lahir, dengan konsisten menyampaikan pesan kemanusiaan. Pesan kemanusiaan yang diwartakan pun tak pernah dibubuhi dengan ayat-ayat yang dapat mengimajinasikan pembaca terhadap ‘ceramah’ dan ‘khotbah’. Oleh karena itu, karyanya diterima secara universal oleh pembaca dan tak putus direnungkan sekaligus dikaji oleh para akademisi.

Sejak dulu, Tohari memang menunjukkan watak memberontak terhadap sesuatu yang ia pikir mencederai kemanusiaan. Ketika ia menyaksikan salah seorang guru sekolah dasarnya mesti dieksekusi di lapangan setempat karena dituduh PKI, batinnya berontak dan tak berhenti berdamai untuk membela dan menyuarakan.

Itulah mengapa karya Kubah dan Ronggeng Dukuh Paruk ngotot ia selesaikan dan terbitkan tempo waktu kala zaman orde baru masih menggeliat di pusaran Indonesia.

Ia tak sampai hati, melihat orang-orang kampungnya yang diduga terlibat, ikut menerima konsekuensi dieksekusi tanpa peradilan, “Saya terhitung saksi mata, sekelas tukang kambing, tukang cari kayu, dihukum tanpa peradilam,” batinnya nggrentes, dikutip dari laman beritagar.id.

Belakangan, dikabarkan di usianya yang senja, Tohari mengasuh pondok Pesantren Al Falah di desanya. Ia tak lagi menulis novel dan hanya sesekali menghadiri undangan menjadi pembicara.

Sejak kecil hingga tua, Ahmad Tohari tetap menjaga kesederhanaan, kerendah-hatian dan kesantuan dalam tampilan dan perbuatan. Semua ia saripatikan dari jamak pengalamannya dan muatan agama yang diajarkan di lingkungan keluarga. Pada kisah hidupnya yang berliku dan tak mudah, ia mencerap pelbagai hal untuk mendapatkan pelajaran tentang lelaku manusia dan idealitas yang berlaku dan diperlukan dalam keadaan dan situasi mutakhir.

Kini, Ahmad Tohari telah mewariskan ajaran-ajaran kebenaran kepada kita, agar turut membaca situasi dan pengalaman, untuk kemudian membela kemanusiaan dengan keberanian. Belakangan, produksi tulisannya memang tidak sebanyak dulu, dan hanya sebentuk cerita pendek. Tetapi konsistensinya menerakan tentang lelaku kemanusiaan tetap menjadi kenangan yang berharga untuk pembaca. Semua warisannya patut kita renungkan tanpa banyak alasan.

 

Semarang, 2 Desember 2018

 

*penulis dan sejumlah temannya, pernah mendapatkan pengalaman berharga dan mengesankan bersama sosok Ahmad Tohari ketika beliau menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Pendidikan di Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang pada Mei 2017.