Ramadhan Adalah Bulan Spesial, Maka Perbanyaklah Amal

Ramadhan Adalah Bulan Spesial, Maka Perbanyaklah Amal

Mau bagaimanapun kondisi rohani suatu amal yang kita lakukan, sebutlah belum benar-benar bisa ikhlas, setengah ikhlas, agak ikhlas, dan bahkan penuh harap kepada balasanNya, ya amalkan saja, lakukan saja, eksekusi saja. T

Ramadhan Adalah Bulan Spesial, Maka Perbanyaklah Amal
ini baiknya bulan intropeksi pamali

Sejak hari pertama Ramadhan 2021 ini –yang lagi-lagi masih dalam bekapan pandemi walau tak lagi semencekam Ramadhan tahun lalu—yang sehari sebelumnya–artinya sehari sebelum masuk Ramadhan—ndilalah saya dirawuhi Gus Muhammad Sidqi –dikenal dengan sebutan Gus Ciki—dan dia berkata supaya saya ngaji kitab-kitab ringan, jadilah saya nekat ngaji bersama anak-anak muda di lingkaran saya setiap malam dimulai pukul 00.00, dengan rangkaian ngaji al-Qur’an satu juz, lalu ngaji kitab, lalu Asyraqalan, lalu dipungkasi sahur bareng. Pilihan saya, mengikuti bisikan Gus Ciki, adalah ngaji kitab Hujjatu Ahlis Sunnah wal Jamaah karya Mbah Ali Maksum.

Kitab ini tipis, ringan, praktis, tetapi sangat kaya keterangan refrensi, membahas perkara-perkara pokok peribadatan –yang ndilalah pada sejumlah kalangan dinyatakan polemis, seperti hukum talqin, ziarah kubur, dan sebagainya. Semua perkara khilafiyah itu menjadi sangat clear kedudukan landasan refrensinya. Dan, yang lebih relevan dengan saya khususnya ialah karena kitab tersebut telah banyak diterjemahkan, sehingga kadangkala bila blank atas suatu kata atau kalimat, ya tinggal ngintip terjemahnnya. Sayangnya, maaf kata, sebagian terjemahan kitab ini terasa “main terabas”. Ya mungkin karena gaya nerjemahnya pakai gaya bebas.

Oke.

Apa yang saya coba lakukan di bulan Ramadhan ini, yang tidak biasanya saya lakukan di bulan-bulan lainnya, sebagaimana mudah diterka, ialah karena saya senang dan gembira dengan hadirnya kembali bulan Ramadhan ke dalam kehidupan saya. Tak usah diperpanjang, ya, pokoknya begitu. Selebihnya, biar jadi perkara kenikmatan hati personal saja.

Berikutnya, perjalanannya serupa dengan apa-apa yang kerap saya alami sebelum-sebelumnya. Yakni tatkala saya sedang menyukai sesuatu, begitu sangat suka, al-Qur’an bagai hadir menyeruak begitu saja ke pikiran dan hati saya dengan menyodorkan ayat-ayat yang terkait hal itu. Jelas, tentu sekali, ini menurut saya, perasaan saya, pikiran saya. Disebut klaim juga tiada masalah.

Apa gerangan yang bisa saya lakukan dalam mengisi ruang-ruang gembira kepada disampaikanNya saya ke bulan berkah ini? Lazim, umum, memperbanyak amal-amal. Ya amal apa saja.

Tepat pada arah demikianlah, al-Qur’an “menyodorkan” ayat-ayat yang terkait dengan keutamaan dan kebenaran beramal. Semakin ke sini, adanya syak di masa-masa sebelumnya atas “ganjilnya mempeng ngamal” di hadapan takdir Allah Swt sebagai Pemegang dan Pengarunia RahmatNya kepada siapa pun yang dikehendakiNya –sebaliknya, takkan terjadi kepada orang-orang yang tak dikehendakiNya walau setekun apa pun ngamal—yang notabene RahmatNya itulah “kunci” bagi selamat dan diridhainya kita olehNya, luruh. Ya, diluruhkan pertama kali oleh ayat-ayat yang “disodorkan” al-Qur’an terkait penting, pokok, dan utamanya amal.

Ayat ini di antaranya:

Sesungguhnya Rahmat Allah Swt dekat kepada orang-orang yang berbuat (beramal) kebaikan.” (QS. Al-A’raf 56).

Dengan munasabah, misal, ayat ini:

Dan siapa yang beramal kebaikan-kebaikan dan dia mukmin maka tidak ada rasa takut padanya atas perilaku zalim terhadapnya (dari orang lain) dan pula berkurangnya haknya.” (QS. Thaha 112).

Lalu saya bertemu keterangan Imam Ghazali dalam Ayyuhal Walad bagian awal yang terkait erat dengan ayat-ayat tersebut.

Kanjeng Nabi Saw bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan hawa nafsunya dan melakukan amal-amal untuk kehidupan setelah mati (akhirat) dan orang bodoh adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan berharap mendapatkan karunia-karunia dari Allah Swt.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib memberikan keterangan yang nampaknya menjadi penjelas kepada hadis ini: “Orang yang menyangka bisa sampai kepada (ridha) Allah Swt tanpa mau bersusah-payah beramal hanyalah orang yang mengingau; orang yang menyangkap bisa sampai kepada (ridha) Allah Swt dengan amalnya belaka, ia takkan pernah sampai.”

Ayat 112 dari surat Thaha itu bagaikan memberikan dua clue buat saya: beramallah dan berimanlah. Kiranya, pada titik inilah apa yang dimaksud Sayyidina Ali bin Abi Thalib pada frase kedua itu, yakni jangan (pula) hanya mempeng beramal sampai alpa bahwa ridha Allah Swt dikaruniakanNya beriring dengan keimanan first.

Ihwal iman, itu perkara hati, melekat pada setiap inidvidu kita, dalam pelbagai dinamika dan jalarannya. Itu bukan bahasan saya.

Saya pengin fokus pada ranah keduanya, yakni beramal. Seseorang tentulah akan dikatakan makin ihsan, makin ihsan, makin muhsin bila semakin lekat ia dengan amal-amal kebaikan, baik yang murni peribadatan maupun beranah sosial kemanusiaan. Makin ihsannya seseorang –dengan ditandai makin cintanya ia dengan amal-amal baik, termasuk yang sunnah-sunnah—menandakan makin dekatnya Rahmat Allah Swt kepadanya. Begitu al-A’raf 56 menuturkan.

Jadi, kesimpulan saya, mau bagaimanapun kondisi rohani suatu amal yang kita lakukan, sebutlah belum benar-benar bisa ikhlas, setengah ikhlas, agak ikhlas, dan bahkan penuh harap kepada balasanNya, ya amalkan saja, lakukan saja, eksekusi saja. Toh sesuai dengan sunnatuLlah sendiri, semakin lama seseorang melakukan suatu amal niscaya akan semakin menep derajat rohaninya kelak, semakin kelak, dan kelak sekali. Jadi, lagi-lagi, ngamal sajalah, semoga semakin mempeng, mempeng, lalu makin cinta, cinta, dan cinta….

Suatu hari, jauh sebelumnya, saya nyantol sama ayat lain ini, surat al—An’am ayat 125. Rupanya, keterangan lebih jauhnya saya dapatkan pas kala saya diguyuri ayat-ayat ngamal ini di bulan Ramadhan ini. Nanti saya ceritakan…