Selepas Ramadan, Bagaimana Wajah Kesalehan Digital Kita?

Selepas Ramadan, Bagaimana Wajah Kesalehan Digital Kita?

Ramadan di dunia digital kita yang bising hanyalah satu cerita. Ibadah personal dalam kesunyian pun bisa jadi hilang atau semakin pudar di Ramadan akan datang. Entahlah.

Selepas Ramadan, Bagaimana Wajah Kesalehan Digital Kita?

Kesalehan digital, apa itu? Pertanyaan ini mungkin terlintas paling awal ketika membaca judul tulisan ini. Di tengah ledakan digitalisasi dan internet, beragam hal dalam kehidupan pribadi kita turut berubah, termasuk kesalehan. Kita tidak lagi sekedar beragama atau menjalankan ritual, namun di saat bersamaan kita juga menghadirkannya di internet atau dunia digital.

Internet dan dunia digital sudah semakin personal. Keberagamaan kita pun turut terseret di dalamnya. Dulu banyak kita percaya kesalehan dibangun di ruang-ruang sunyi. Namun, hari ini, kesalehan personal telah berkelindan dengan ruang publik yang jauh lebih luas bernama internet. Kita pun tak ragu atau segan menghadir beragam aktifitas keberagamaan di ruang digital atau internet.

Bayangan paling awal terkait kesalehan di ruang digital berkisar pada swafoto atau tayangan beragam kegiatan keagamaan di Youtube. Imaji ini sebenarnya tak menjelaskan sepenuhnya apa itu kesalehan digital. Sedikitnya, kesalehan digital di kalangan Muslim adalah beragam aktifitas, ekspresi, impressi hingga konsumsi beragam konten terkait keberagamaan kita di ruang-ruang digital atau internet.

***

Jika merujuk ajaran agama, maka puasa adalah kesalehan paling pribadi, karena bersifat rahasia, pribadi, dan terhubung langsung dengan Allah SWT. Bahkan, Allah SWT. sendirilah yang akan memberikan ganjarannya secara langsung. Bahkan, sebagian ulama terdahulu meliburkan seluruh kegiatan dakwah untuk bisa memanfaatkan bulan suci secara maksimal, untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Puasa, sebenarnya, adalah ibadah personal. Akan tetapi, setiap ritual ibadah juga terdapat beragam realitas sosial yang mengelilinginya. Puasa di bulan Ramadan adalah salah satunya. Kita sendiri merasakan, melihat, hingga menjadi bagian di dalam beragam aktifitas, acara, hingga budaya lokal terkait bulan puasa.

Media sosial berperan besar dalam menghadirkan beragam fenomena atau budaya baru dalam bulan puasa. Di saat bersamaan, entah disadari atau tidak, kita akhirnya menyeret puasa menjadi ibadah yang lekat dengan dinamika kerumunan, artinya kita beribadah atau ritual yang kita jalankan berkerumun dan melibatkan massa yang banyak.

Ibadah Qiyamul Lail, misalnya, tidak lagi diselenggarakan secara personal dan dalam kesunyian. Sekarang, beribadah secara personal dan dalam kesunyian terasa tidak lagi selaras dengan semangat zaman. Tahun ini kita menyaksikan atau malah terlibat di berbagai kegiatan keagamaan yang disodorkan, ditawarkan, diduplikasi, atau sengaja baru diciptakan oleh media sosial. Dunia digital kita telah mengubah beragam hal dalam dinamika berpuasa seorang Muslim.

Ibadah-ibadah Ramadan tidak lagi sama dengan apa yang pernah kita jalani sebelumnya. Sebelum Qiyamul Lail, kita lebih dahulu menjumpai beragam postingan terkait target-target di bulan Ramadan. Checklist atau daftar goals terkait ritual ibadah di bulan Ramadan dibagikan secara luas, untuk diisi atau digunakan secara luas. Berbeda dengan daftar isian yang dimiliki anak-anak sekolah dasar, kegiatan keagamaan yang dihadirkan lebih banyak dan beragam.

Masih di awal Ramadan, siniar berkelindan dengan narasi agama pun mendadak meledak. Sepertinya, kesuksesan siniar “Login” yang diasuh Habib Ja’far dan Onad diduplikasi dan dihadirkan dengan wajah dan narasi yang berbeda-beda. Gelombang masyarakat untuk lebih saleh pun disambut

Denny Sumargo, salah satu siniar top di Indonesia, pun pernah mengatakan bahwa jumlah penonton konten bertema Islam di kanal miliknya selalu membludak. Bisa dikatakan, potensi pasar siniar konten keagamaan di masyarakat Muslim Indonesia masih sangat besar. Walhasil, wajar jika beberapa pemilik kanal Youtube membuat siniar khusus Ramadan. Istilah “Login” milik Habib Ja’far dan Onad pun hari ini mendapatkan saingan dengan istilah “Sign in.”

Selain itu, linimasa media sosial pun pernah dihebohkan dengan narasi “War Takjil.” Perbincangan ini memang membawa angin segar untuk narasi toleransi di Indonesia, paling tidak di dunia maya. Apakah perbincangan ini bisa memberikan dampak langsung ke kehidupan nyata? Pertanyaan ini harus menjadi renungan kita bersama.

Sebagaimana disebutkan di atas, di akhir Ramadan, kita mulai mendapati gelombang ibadah Qiyamul Lail yang disokong besar oleh media sosial. Masjid-masjid mengumumkan pelaksanaan ibadah di malam-malam akhir Ramadan lewat media sosial. Masyarakat Muslim pun merespon dengan memposting konten video aktifitas mereka, baik personal, berdua bersama teman atau istri, atau kegiatan massal di malam tersebut.

Lailatul Qadar pun mulai mendapatkan atensi publik. Dulu ibadah di malam-malam ganjil ini biasanya dilakukan secara mandiri atau personal di rumah masing-masing. Cerita-cerita mereka yang mendapatkan beragam keajaiban pun sangat jarang terjadi di rumah-rumah ibadah, malah di sekitar rumah pribadi.

Media sosial menghadirkan beragam meme, postingan, hingga narasi terkait Lailatul Qadar cukup massif. Tutorial mendapatkan malam Lailatul Qadar pun turut mengemuka di akhir Ramadan. Menariknya, beragam amalan atau ritual yang biasa beredar lewat ceramah-ceramah para ulama cukup jarang ditanyakan kesahihan-nya. Kelompok-kelompok di masyarakat Muslim mulai cair, walaupun kadang masih ada beberapa friksi di dalamnya.

Media sosial kita di seminggu terakhir bulan Ramadan juga dijejali dengan iklan-iklan belanja, yang “bersanding” dengan iklan badan zakat atau lembaga filantropis lainnya. Momentum Ramadan tidak sekedar makin saleh, juga di saat bersamaan makin konsumtif.

***

Di masa akhir Ramadan, kita sering mendengar soal renungan terkait mempertahankan ritme dan rutinitas keberagamaan kita. Para ulama atau otoritas agama lainnya biasanya memuat narasi ini di ceramah-ceramah mereka.

Mungkin, diantara bulan Hijriyah lain, Ramadan adalah momentum paling populer untuk lebih religius atau saleh. Kesalehan digital pun turut terasa. Kita telah menguliknya di atas. Ramadan telah berpisah dengan kita. Mungkin, kesalehan di dunia digital kita mungkin masih terasa, walaupun intensitas dan atensinya tidak segegap gempita bulan Ramadan.

Secara gamblang, kita bisa menyebut Ramadan tahun ini cukup bising di media sosial. Klaim ini jelas masih bisa kita perdebatkan. Namun, kita tidak menutup mata, beragam ritual di bulan Ramadan telah berkelindan dan berkalibrasi dengan media sosial.

Ramadan di dunia digital kita yang bising hanyalah satu cerita. Ibadah personal dalam kesunyian pun bisa jadi hilang atau semakin pudar di Ramadan akan datang. Entahlah.

Fatahallahu alaina futuh al-arifin