Begini Skema Murur di Muzdalifah Pada Musim Haji 2024

Begini Skema Murur di Muzdalifah Pada Musim Haji 2024

Skema murur diputuskan untuk dilaksanakan pada tahun ini setelah pemerintah melakukan evaluasi penyelenggaraan ibadah haji pada tahun lalu (2023).

Begini Skema Murur di Muzdalifah Pada Musim Haji 2024
Di Muzdalifah, ada banyak sisi yang tidak kita ketahui

Islami.co (Haji 2024) — Pemerintah Indonesia telah merilis konsep murur bagi jemaah haji asal Indonesia di Muzdalifah pada tahun 2024 ini. Murur dalam pengertian ini adalah melintas dan berhenti sebentar di Muzdalifah tanpa bermalam (mabit).

Skema Murur di Muzdalifah

Skemanya, para jemaah haji yang akan murur, bergerak dari Arafah, lalu berhenti sebentar di Muzdalifah tanpa menginap, dan langsung menuju ke Mina untuk mabit dan persiapan Jamarat.

Skema murur diputuskan untuk dilaksanakan pada tahun ini setelah pemerintah melakukan evaluasi penyelenggaraan ibadah haji pada tahun lalu (2023). Salah satu yang menjadi amatan dan evaluasi pemerintah pada haji tahun lalu adalah keterlambatan pendorongan jemaah dari Muzdalifah menuju Mina. Rute Muzdalifah-Mina ini adalah salah satu rute kritis yang perlu dibenahi.

“Titik kritis di rute Muzdalifah-Mina ini perlu kita cermati. Pergerakan dari Muzdalifah-Mina ini cukup singkat,” ujar Subhan Cholid, Direktur Layanan Haji Luar Negeri Kementerian Agama di kantor Daker Makkah, Kamis (6/6/2024).

Menurutnya, skema murur ini diterapkan sebagai bagian dari iktiar menjaga keselamatan jiwa jemaah haji. Hal ini mengingat potensi terjadinya kepadatan jemaah haji di Muzdalifah. Sebagaimana jamak diketahui bahwa area Muzdalifah sangat terbatas.

Subhan menyebut area yang ditetapkan Saudi untuk jemaah haji Indonesia sekitar 82.350 m2. Pada 2023, area ini ditempati sekitar 183.000 jemaah haji Indonesia. Mereka terbagi dalam 61 maktab. Sementara ada sekitar 27.000 jemaah haji Indonesia (9 maktab) yang menempati area Mina Jadid. Sehingga, setiap jemaah saat itu hanya mendapatkan ruang atau tempat (space) sekitar 0,45 m2 di Muzdalifah.

“Ini saja sudah sangat sempit dan padat,” ujar Subhan Cholid.

Pada tahun ini, area Mina Jadid tidak ditempati oleh jemaah haji Indonesia. Artinya, luas area yang ditetapkan pemerintah Arab Saudi akan ditempati oleh seluruh jemaah Indonesia (213.320 jemaah dan 2.747 petugas haji). Tentu, space setiap orang akan semakin sempit dari sebelumnya.

Belum lagi saat ini pemerintah Arab Saudi melakukan pembangunan toilet di Muzdalifah. Pembangunan toilet ini memakan tempat seluas 20.000 m2. Sehingga, ruang yang tersedia untuk setiap jemaah jika semuanya ditempatkan di Muzdalifah hanya 0,29 m2. Angka itu didapat dari area untuk Jemaah Indonesia-area toilet baru (82.350 m2 – 20.000 m2 = 62.350 m2/213.320 = 0,29m2).

Hukum Murur di Muzdalifah

Skema murur yang diterapkan pemerintah Indonesia ini mendapat dukungan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), PBNU, Muhammadiyah, dan Persis. Keempat organisasi ini menyebut, murur di Muzdalifah itu hukumnya sah. 

Menurut Kepala Daker Makkah Khalilurrahman, jika seluruh jamaah haji Indonesia dipaksakan mabit di Muzdalifah, kata dia, bisa mengakibatkan kematian dan menimbulkan bahaya kesehatan bagi jamaah haji Indonesia. 

“Kalau dipaksakan untuk melaksanakan mabit di Muzdalifah akan berdampak terhadap kemafsadatan atau kerusakan yang besar,” kata Khalil.

(AN)