Semakin Dekat dengan Tuhan, Mengapa Akhlak Kita Justru Mencerminkan Sebaliknya?

Semakin Dekat dengan Tuhan, Mengapa Akhlak Kita Justru Mencerminkan Sebaliknya?

Di era yang serba terbalik ini, lumrah ditemukan sekumpulan orang yang rajin ikut kajian keislaman, namun laku hidupnya jauh dari apa yang Islam sendiri ajarkan. Kasus Wahyu Dwi Nugroho adalah contohnya.

Semakin Dekat dengan Tuhan, Mengapa Akhlak Kita Justru Mencerminkan Sebaliknya?

Menurut logika sederhana, makin dekat seseorang dengan Tuhannya, makin mulia pula akhlaknya. Namun, logika itu terbantahkan. Di era yang serba terbalik ini, lumrah ditemukan sekumpulan orang yang rajin ikut kajian keislaman, namun laku hidupnya jauh dari apa yang Islam sendiri ajarkan.

Mereka membuka mata lebar-lebar saat melihat jadwal pengajian, namun menutup mata rapat-rapat ketika melihat saudaranya butuh bantuan. Lebih parah, tak jarang merekalah yang justru menjadi sebab orang disekitarnya menderita.

Baru-baru ini, seorang pedagang asal Bojonggede, Kabupaten Bogor, Wahyu Dwi Nugroho, memantik perbincangan publik. Ia menjadi pesakitan di sel tahanan setelah dilaporkan oleh Majelis Ta’lim Zaadul Muslim Al-busyro usai mengkritik spanduk majelis taklim yang melarang berbelanja di warung-warung selain di seputar majelis taklim.

Sebenarnya, kasus Wahyu sudah terjadi sejak September 2022 lalu. Kasus tersebut masih berlangsung hingga hari ini. Dilansir Detik, Wahyu mengikuti sidang kesembilan dengan agenda pemeriksaan saksi pada Selasa (18/7/23).

Kasus berawal ketika pada bulan Juli 2022, Wahyu mengunggah sebuah video di media sosial TikTok. Dalam video tersebut, dirinya mengkritik spanduk yang dipasang oleh Majelis Ta’lim Zaadul Muslim Al-busyro di lingkungan tempat tinggalnya.

Spanduk tersebut bertuliskan, yang intinya, bahwa anggota majelis taklim dilarang untuk membeli kebutuhannya di warung yang tidak terafiliasi dengan majelis terkait.

Istri Wahyu Dwi Nugroho, Ana Sona Sonia mengatakan, pemasangan spanduk tersebut sudah dilaporkan kepada Ketua RT setempat. Namun, sambungnya, respons dari Ketua RT setempat dianggap tidak memuaskan. Karena itu, suami Ana pun mengunggah video protes di TikTok terkait spanduk tersebut.

Video itu memang mengundang banyak simpati. Namun rupanya, majelis itu menganggapnya sebagai sebuah ujaran kebencian. Celakanya, alih-alih mencari jalan tengah, kelompok ini langsung gercep melaporkannya ke polisi dengan UU ITE.

Saya tidak paham mengapa pihak majelis taklim tidak bertabayun dulu dengan keluarga Wahyu. Rasa-rasanya, jika ada kritikan atau ujaran yang menyenggol majelis taklim ini, kok langsung diterjemahkan sebagai kebencian. Sikap yang sebetulnya menyelisihi perintah Rasulullah, yakni berbaik sangka.

Namun, rasa husnuzan sepertinya telah hilang dalam kamus kehidupan mereka. Sebagai informasi, Majelis Ta’lim Zaadul Muslim Al-busyro memiliki banyak bisnis afiliasi di Bogor. Kemudian, majelis melarang anggotanya untuk membeli barang dari toko-toko yang tidak tergabung dengan majelis taklim.

Istri Wahyu Dwi Nugroho, Ana Sona Sonia, mengutip Tribunnews, mengaku setelah dipasangnya spanduk tersebut, banyak pelanggannya yang merupakan anggota Majelis Ta’lim Zaadul Muslim Al-busyro enggan untuk membeli barang dari tokonya. Hal tersebut karena toko milik suaminya tidak bergabung dengan majelis taklim tersebut.

Justru saya bertanya, apakah itu murni “ketersinggungan” atau “keresahan” akibat hadirnya saingan bisnis. Mungkin majelis taklim itu sedang membentuk sebuah gerakan ekonomi untuk memberdayakan jemaahnya. Tetapi, mengapa lalu bertindak semena-mena terhadap ladang usaha orang lain. Bukankah kompetisi dalam berbisnis adalah lazim di dunia yang fana ini.

Memang bagus meningkatkan taraf ekonomi di antara jemaahnya dengan cara bertransaksi dengan sesama jaringan jemaah. Atau majelis taklim mempunyai jaringan usaha sendiri yang target pasarnya adalah jemaah. Namun menggunakan kekuatan majelis untuk membunuh pesaing secara terang-terangan jelas memunculkan banyak pertanyaan dalam benak saya.

Apakah Wahyu harus bergabung ke majelis taklim dulu untuk bisa nyaman menjalankan bisnisnya? Jika demikian, itu tak jauh beda dengan logika mayoritarianisme yang rentan merusak negeri ini.

Toh, jika benar jemaah majelis taklim itu mengikuti saran pimpinannya untuk hanya bertransaksi dengan sesamanya saja, itu saja sudah membuat warung milik Wahyu sempoyongan. Tidak perlu harus memenjarakan Wahyu.

Video Wahyu di TikTok sebenarnya adalah caranya mengatakan bahwa ia punya hak memprotes dan mempertahankan lahan penghidupannya. Tidak lebih. Namun, ia berdiri sendiri di hadapan nama besar majelis taklim yang mempunyai sumber daya luar biasa.

Sebetulnya, Wahyu sudah menuruti perintah majelis taklim untuk meminta maaf dalam bentuk video yang kemudian diunggah ke platform yang sama. Namun rupanya, itu belum cukup. Menurut mereka, “dosa” Wahyu tidak bisa “diampuni” hanya dengan sekedar permintaan maaf.

Wahyu adalah seorang Muslim. Hanya ia tidak tergabung dalam majelis taklim itu. Ia memilih jalur ibadah lain, yaitu menafkahi keluarganya. Mengapa mereka lebih memilih menghancurkan usaha Wahyu, dibanding sekedar membuka pintu maaf.

Perlawanan Wahyu demi nafkah keluarganya hancur lebur hanya karena ada sekelompok orang berusaha menjaga “nama baik” majelis taklim tersebut. Menurut saya, memaafkan Wahyu saja sudah termasuk dari bagian menjaga nama baik. Melaporkannya hanya akan menunjukkan arogansi majelis. Menurut saya loh ya.

Kenapa majelis taklim yang awalnya bisa menjadi media untuk melaksanakan sunnah Rasul justru menjauh dari nilai-nilai keadilan yang diajarkan Rasul. Kenapa majelis taklim, yang saya yakin, mengajarkan cara-cara masuk surga, justru menjauhkan jemaahnya dari surga.

Pengajian dan nasihat tentang akhirat mestinya makin membuat kita memiliki akhlak yang baik. Bukan sebaliknya.

 

Wallāhu a‘lam bis ṣawāb