Saya, Jihad, dan Perang

Doa agar terhindar dari segala prilaku dan tindakan orang-orang jahat

Saya, Jihad, dan Perang

Dulu saya begitu bergairah kalau mendengar ayat-ayat tentang jihad. “Allah telah membeli dari orang-orang mukmin itu diri dan harta mereka. Mereka berperang di jalan Allah, kemudian membunuh atau terbunuh…..” Sering saya menangis membaca ayat itu. Menangis karena saya belum kunjung mencapai taraf itu, berada di jalan Allah dengan membunuh atau terbunuh. Tapi sering juga tangisan itu berupa harapan, bahwa suatu saat saya akan berada di jalan itu.
 
Siapa yang akan saya perangi? Siapa yang akan saya bunuh? Musuh utama Islam adalah Yahudi dan Nasrani. Quran dengan tegas mengatakan bahwa mereka tidak akan pernah rela dengan kaum muslimin sampai kaum muslimin itu mengikuti agama (millah) mereka. Masa itu adalah masa Orde Baru. Pemerintah meski dipimpin oleh seorang muslim, ia adalah musuh Islam menurut saya. Ia memberangus segala jenis perjuangan umat Islam, memenjarakan bahkan membunuh tokoh-tokohnya. Di belakangnya berdiri tokoh-tokoh sipil dan militer yang beragama Kristen.
 
Sementara itu orang-orang Kristen gencar melakukan pemurtadan terhadap orang-orang Islam. Mereka menjadikan kaum muslim sebagai target, mereka ubah iman kaum muslim dari Islam ke Kristen. Gerakan ini didukung oleh kekuatan internasional dengan dana yang sangat besar, sulit ditandingi oleh orang-orang Islam. Bersamaan dengan itu negara-negara Barat yang dimotori oleh Amerika tidak pernah berhenti merongrong dan mengganggu negara-negara Islam dengan berbagai cara. Ini semua sekali lagi menegaskan bahwa orang-orang Kristen itu adalah musuh yang nyata.
 
Maka saya menyiapkan diri saya untuk berperang. Kapan perangnya berlangsung, saya tak tahu. Yang jelas saya sangat mengharapkan bisa terlibat dalam perang itu.
 
Berbagai kerusuhan di akhir dekade 90-an banyak mengubah saya. Kerusuhan Ambon dan Poso sempat mempertebal kebencian saya pada orang-orang Kristen. Tapi kemudian saya dihentakkan oleh kerusuhan Sambas. Dalam kerusuhan itu orang-orang Sambas yang Melayu dan orang-orang Madura yang bertikai, keduanya sama-sama muslim. Masihkah relevan menganggap kerusuhan itu sebagai wujud dari permusuhan Islam vs Kristen? Lalu saya lihat korban-korbannya. Apa yang dihasilkan dari kerusuhan dan peperangan? Mayat-mayat. Orang-orang yang kehilangan kekasih. Anak-anak terlantar. Kerusakan. Kepiluan dan kepedihan.
 
Kemudian saya mulai berpikir bahwa perang harus dihentikan. Permusuhan harus ditangkal, dan perdamaian harus dipromosikan. Tapi bukankah Quran sendiri yang menegaskan bahwa permusuhan itu ada, dan kita harus waspada? Itulah salah satu masalahnya. Bila Quran itu dianggap sebagai panduan apa adanya, maka permusuhan itu harus ada dan abadi. Maka saya memilih untuk melihatnya secara berbeda. Bagi saya ayat-ayat seperti itu adalah catatan sejarah saja. Permusuhannya boleh kita tinggalkan. Ajaran utama Islam bukan bermusuhan, melainkan berdamai. Permusuhan seharusnya adalah sesuatu yang sementara saja sifatnya.
 
Tidakkah pandangan itu naif? Bukankah secara nyata memang pihak Kristen dan Yahudi selalu mencari-cari masalah dengan umat Islam? Tidak. Itu cuma soal perspektif saja. Amerika itu bergerak demi kepentingan politik-ekonomi mereka. Yang mereka usik tidak cuma negara-negara Islam, tapi juga negara-negara Kristen, seperti di Amerika Selatan. Ini sebenarnya soal uang dan kekuasaan.
 
Manusia manapun tidak ingin berperang. Berdamai itu lebih nyaman bagi semua orang. Ini adalah sesuatu yang alami. Kita menjadi tidak lagi alami, bahkan tidak manusiawi ketika kita dibakar oleh ayat-ayat yang kita sangka ayat-ayat suci. Sangkaan atau tafsir yang demikian adalah salah. Kita harus kembali ke kodrat kita sebagai manusia, yaitu yang menginginkan perdamaian.
 
Permusuhan tidak akan berhenti bila kita tidak berhenti memusuhi. Kita tidak akan berhenti selagi kita menganggap pihak sana sedang memusuhi kita. Maka kita harus berhenti percaya bahwa mereka memusuhi kita. Kalau mereka memusuhi, maka kita harus menawarkan perdamaian. Lingkaran setan permusuhan harus kita putus.
 
Kini kalau saya mendengar ayat-ayat jihad, saya bergidik ngeri. Bukan karena saya takut mati. Tapi saya sedih, karena di luar sana masih banyak orang-orang seperti saya di masa lalu. Orang-orang yang siap membunuh dan terbunuh, orang-orang yang hilang kemanusiaannya, karena sesuatu yang mereka anggap suci. []
*) Diambil dari blog Kang Hasan