Pengda Organisasi Airsoft Pelajar Jawa Tengah: Kegiatan Airsoft itu Murni Olahraga, bukan Ideologis!

Pengda Organisasi Airsoft Pelajar Jawa Tengah: Kegiatan Airsoft itu Murni Olahraga, bukan Ideologis!

Menurutnya, Liga Airsoft Pelajar bahkan sudah dimulai sejak 2014. Mengapa yang ini dipermasalahkan?

Pengda Organisasi Airsoft Pelajar Jawa Tengah: Kegiatan Airsoft itu Murni Olahraga, bukan Ideologis!

Sebuah foto sejumlah santriwati berpose mengangkat senjata laras panjang beredar di media sosial. Foto itu menampilkan enam siswi mengenakan seragam atasan merah, bawahan rok panjang, dan kerudung warna biru. Siswi tersebut diduga merupakan santriwati dari Pondok Pesantren Baitul Quran Al Jahra Magetan, Jawa Timur.

Dilansir Detik, Enam santriwati itu difoto saat mengikuti sosialisasi ekstrakurikuler airsoft gun yang menjadi bagian dari acara Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menggandeng PT Airsoft Pelajar Indonesia sebagai pihak ketiga penyelenggara (EO).

Selain memegang senjata laras panjang, keenam santriwati itu mengenakan rompi mirip anti-peluru (kevlar vest). Sedangkan latar belakang foto tampak area persawahan dan sedikit tampak bangunan masjid.

Foto tersebut mengundang reaksi publik. Salah satunya adalah unggahan Islah Bahrawi di Instagram yang tampak mengecam foto tersebut. Dalam caption, ia mempertanyakan jenis pendidikan yang diberikan kepada anak-anak dalam foto itu.

Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia itu mengatakan bahwa pendidikan, seperti yang dicitrakan dalam foto, itu hanya akan menanamkan glorifikasi perang bagi generasi muda. Alih-alih memiliki keinginan untuk memajukan agamanya melalui ilmu pengetahuan.

Pernyataan Islah itu dibantah oleh Ketua Pengda Organisasi Airsoft Pelajar Jawa Tengah, M. Alief Abdussalam. Menurut Alief, apa yang dilakukan santriwati itu tak lebih dari sekedar olahraga yang mengasyikkan.

“Saat ini cabor airsoft sudah berada bawah Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI). Kami punya SK resmi, punya instruktur berlisensi, kegiatannya legal,” tutur Alief saat berbincang dengan tim islami.co via virtual meeting.

Menurutnya, airsoft adalah cabang olahraga resmi dan berbadan hukum resmi. Jadi kegiatan ekstra airsoft di Ponpes tersebut tidak melanggar hukum apapun. Hadirnya airsoft di Ponpes Al Jahra justru sekaligus mengenalkan kepada santri bahwa olahraga tersebut legal dan bisa dimainkan.

“Liga Airsoft Pelajar bahkan sudah dimulai sejak 2014. Mengapa yang ini dipermasalahkan?”

Ia mempertanyakan, mengapa ketika pelajar non-pesantren yang memainkan airsoft tidak distigma macam-macam, namun justru ketika santri pondok pesantren yang memegangnya langsung dihantam dengan narasi “radikalisme”.

Alief mengatakan bahwa Liga Airsoft Pelajar itu masih jalan sampai sekarang. Liga itu melibatkan pelajar setingkat SMP dan SMA se-Indonesia. Beberapa santri juga sudah terlibat dalam liga tersebut, yaitu dari Ponpes Baitul Quran Al Jahra Magetan itu sendiri. Acara itu juga sudah mendapatkan persetujuan dari Kapolres setempat.

Polres Sukoharjo, misalnya, justru mengelar Liga Airsoft Pelajar tingkat Nasional untuk mewadahi generasi muda pada 18-19 Februari 2023 di The Park Mall Solo Baru, Grogol, Sukoharjo. Dalam liga bertajuk “Kapolres Sukoharjo Cup” ini pihak kepolisian bekerjasama dengan Komite Liga Airsoft Pelajar (LAP) Surakarta. Sebanyak 200 peserta dari berbagai kota di Jawa Tengah dan sekitarnya, turut meramaikan Liga Airsoft 2023 tersebut.

Kapolres Sukoharjo AKBP Wahyu Nugroho Setyawan, mengatakan, Liga Airsoft Pelajar Nasional Cup Tahun 2023 ini bertujuan sebagai wahana pembinaan generasi muda agar bisa menjadi atlet menembak yang membanggakan.

“Apa yang kami lakukan itu adalah bentuk sosialisasi dalam rangka melestarikan dan mengenalkan olah raga airsoft gun ke pondok pesantren,” papar Alief.

Dia mengakui bahwa Ponpes Baitul Quran Al Jahra Magetan memang merupakan ponpes pertama yang sedang menjajaki kerja sama untuk menyelenggarakan ekstrakurikuler olahraga airsoft gun. Dia kemudian menyayangkan berhentinya program tersebut hanya karena cuitan tidak bertanggungjawab di medsos.

“Meskipun terganjal narasi “liar” itu, kami tidak akan berhenti mengunjungi pondok pesantren. Justru kalau berhenti kita malah dianggap neko-neko nanti,”

“Ini murni untuk mengedukasi para santri ponpes soal olahraga, tidak lebih,” pungkasnya.