Naipaul yang Kukenal

Naipaul yang Kukenal

Imam Prasodjo pada masa remajanya pernah jadi pemandu VS Naipaul saat berkeliling Indonesia. Dengan meninggalnya sang novelis, kami memuat ulang catatan Imam Prasodjo.

Naipaul yang Kukenal

1982, nama Naipaul mendadak banyak disebut orang di Indonesia. Tentu hal ini sehubungan dengan bukunya yang terbaru : Among The Believers, An Islamic Journey (1981, Alferd A. Knope, New York, tebal 387 halaman). Pada bagian IV dalam bukunya itu, spesial mengisahkan seluk beluk orang Indonesia, terutama kaum Muslimin, dengan diawali ucapan Sitor Situmorang yang dikutip singkat tanpa menjelaskan: “Penduduk di sini telah kehilangan agama mereka,” katanya. Sitor bukanlah seorang Muslim, nampaknya ia sudah tidak mentaati agamanya sendiri, Kristen, dan sekarang hidup bersama dengan Barbara, seorang perempuan Belanda di Jakarta. Gaya hidup permisif digambarkan oleh Naipaul dengan pertanyaan kepada Sitor: “Apakah anda kawin dengan Barbara?” Sitor menjawab “Tribally”, sambil ketawa. Pembaca dibiarkan supaya maklum sendiri. Begitu.

Tapi bukan maksud saya di sini membuat resensi buku Naipaul, sebab sudah banyak dikerjakan orang, antara lain oleh Gunawan Mohamad dari TEMPO. Kebetulan saja, saya bertemu Naipaul ketika mempersiapkan bukunya yang terbaru itu, dan pernah mengadakan perjalanan bersama. Inilah yang hendak saya kisahkan, tentu tidak selengkapnya. Semuanya ini bermula dari sebuah kamar pada lantai tingkat lima belas di Hotel Borobudur Intercontinental, dekat lapangan Banteng, Jakarta. Saya mendengar, ada seorang wisatawan Inggris ingin mengadakan perjalanan ke Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat, untuk mengunjungi beberapa Pesantren. Inilah yang menarik perhatian, selagi saya lontang lantung tidak punya kesibukan sebelum mulai kuliah maupun sekolah. Sebab ijazah yang dengan susah payah saya peroleh dari Alhambra Senior Highschool, Phoenix, Arizona tidak dapat untuk memasuki Universitas Indonesia, sehingga saya harus mengulang di SMA di pagi hari, dan menunggu hasil testing untuk mengikuti Program Diploma Bahasa Inggris, Fakultas Sastra di sore hari. Sebelum berjumpa muka, semula saya mengira akan bertemu dengan seorang Inggris asli, berkulit putih, bertubuh jangkung dengan gaya bahasa Oxford. Ternyata Naipaul tidak demikian. Naipaul punya darah keturunan India, lahir
di Trinidad, sekarang mukim di London, dan banyak mengembara. Dia pantang makan daging dan tidak merokok, tapi selalu membawa bubuk tembakau yang amat harum untuk dimasukkan langsung ke dalam lubang hidungnya. Alis dan bulatan matanya hitam, kulitnya coklat tua, tubuhnya beberapa senti lebih pendek ketika berdiri di hadapan saya. Namun gaya bahasanya memang benar-benar
Oxford yang sempurna. Umurnya menjelang 50 tahun, sedang umur saya baru 19, ketika kami bertemu pada bulan Desember 1979. Sungguh, suatu pasangan yang sama sekali tidak seimbang untuk suatu perjalanan beberapa minggu, apalagi saya bukanlah seorang pemandu (guide) professional. Di dalam catatannya, Naipaul menulis: “Saya pergi bersama Prasodjo, seorang pelajar umur 19 tahun, dan saya tidak dapat mendapatkan teman perjalanan yang lebih baik lagi … badannya sedang, tampangnya agak mirip Cina, dan inilah yang menjadi bahan lelucon dalam keluarganya. Ayah Prasodjo pastilah seorang Indonesia (asli), pernah berkata: “Tapi eh – bagaimana saya mendapatkan anak Cina ini?” Gaya bahasa Naipaul, dalam bicara lisan maupun tulisan memang mengandung humor, tapi amat sinis, pahit dan menyakitkan. Sikapnya yang urakan membangkitkan tekad saya untuk mengimbangi dengan cara yang setimpal!

Menurut rencana semula, kami akan berangkat bertiga, yaitu Naipaul, Patricia dan saya, pada hari Rabu dari Jakarta menuju Surabaya. Tapi mendadak Patricia dibatalkan, dan tinggal sendiri di hotel. Tentang peristiwa ini akan saya kisahkan kemudian.

Menjelang turun dari pesawat di Surabaya, Naipaul mengingatkan, “pesan hotel kelas satu.” Bukan hanya perkara hotel, tapi sepanjang hidup saya baru
sekali itulah saya menginjakkan kaki di kota Surabaya. Naipaul sama sekali tidak tahu, tapi saya dapat melayaninya. Setelah Naipaul masuk ke kamarnya, saya segera memesan mobil paling bagus untuk mengadakan perjalanan ke Pesantren Tebuireng di Jombang. Siang itu juga kami berangkat, hanya singgah sebentar di Mojokerto untuk melihat sisa peninggalan kerajaan Majapahit. Sepanjang jalan, Naipaul memperhatikan segala sesuatu dengan jeli dan perhatian penuh konsentrasi. Naipaul tidak menggunakan alat potret maupun alat perekam suara. Semuanya diserap dalam ingatannya yang amat tajam. Kapan saja ada kesempatan terluang, terutama malam hari di kamarnya, ia segera membuat catatan singkat atau bahkan tulisan yang hampir selesai, lengkap dengan gambaran suasana, kesan terhadap orang-orang yang dijumpainya, bahkan sampai kepada percakapan yang penting-penting.

Di Pesantren Tebuireng, terjadilah musibah pertama. Kyai Yusuf Hasyim dan Kyai Samsuri tak ada di tempat. Jelas, ini adalah kesalahan saya, tidak memberitahu terlebih dahulu kedatangan kami. Saya tidak mengetahui, di Pesantren telah dipasang pesawat telepon yang dapat saya hubungi dari Surabaya atau dari Jakarta. Naipaul bersungut-sungut ketika diminta mengisi buku tamu. Ia lalu berjalan keliling melihat dan mengamati bangunan masjid
tua dan para santri yang sedang tadarus. Saya menemui seorang ustadz muda yang dapat berbahasa Inggris. Ia berusaha bicara dengan Naipaul, tapi kurang mendapat perhatian. Satu-satunya usaha yang dapat menolong keadaan buruk itu ialah, kesediannya mengantar kami ke Pesantren Denanyar, “Di sana dapat bertemu dengan Abdurarahman Wahid, tokoh muda dikalangan Pesantren, menantu Kyai Bisri Samsuri, cucu Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari yang terkenal itu”, katanya. Tapi Naipaul tidak dapat memahami semuanya itu tentang lika liku dunia Pesantren. Ia malah marah kepada saya :”Prasodjo berapa lama waktu telah terbuang! Semuanya telah kubayar dengan uang yang amat mahal di sini ! Apa yang dapat kuperoleh di sini dengan cara begini? ….”

Saya membalas di luar dugaannya: “Tuan Naipaul! Lihatlah di buku tamu! Ada nama-nama Menteri Indonesia, Panglima Kopkamtib dan sejumlah tamu dari luar negeri. Semuanya orang terkenal dan berlaku sopan terhadap para Kyai. Sekarang Kyai sedang menghadiri keluarga santri yang sedang mengalami musibah kematian orang tua! Biarpun seandainya anda orang yang paling terkenal di negeri anda, di tempat ini anda mesti menunggu sampai upacara selesai. Apalagi anda sama sekali tidak dikenal di sini! Apa hak anda menuntut perlakuan istimewa? Karena punya uang banyak? Tidak! ….”

Di Pesantren Denanyar, Naipaul dapat bertemu dengan Abdurrahman Wahid.
Tokoh muda ini memang menguasai sejarah dan seluk beluk dunia Pesantren,
yang dikatakannya sebagai suatu subkultur tersendiri. Pesantren Tebuireng didirikan pada tahun 1898 oleh kakeknya. Ayahnya Kyai Wahid Hasyim, telah meninggal dunia dalam suatu kecelakaan mobil di Cimindi antara Bandung dan Cimahi, ketika sedang memangku jabatan Menteri Agama RI dan terkenal sebagai seorang pemimpin yang berpandangan maju, juga seorang penulis yang amat banyak hasil karyanya. Ibunya adalah seorang anggota Parlemen. Dari lingkungan Pesantren Jombang, telah lahir sejumlah pemimpin Islam dan
mempunyai peranan penting dalam percaturan politik tingkat nasional.

Abdurrahman Wahid sendiri, mengalami masa belajar di Pesantren, kemudian meneruskan di Mesir dan Irak, serta banyak diundang sebagai pembicara dalam forum-forum ilmiah di berbagai negara di Asia, Eropa, Amerika, Australia dan Afrika Utara. Namun sekarang Abdurrahman Wahid lebih terkenal sebagai kolumnis dan sedang merintis sebuah Pesantren baru di Ciganjur, sebuah desa antara Jakarta dan Depok. Naipaul tentu tidak dapat segera memahami Pesantren yang telah mempunyai sejarah tua dan nampak sederhana di daerah pedusunan. Padahal Abdurrahman Wahid justru memperkenalkan cara pengajian konvensional di kalangan para santri untuk belajar qiraat, tarjamah dan tafsir, menghafal Qur’an dan mengaji kitab-kitab klasik yang disebut sebagai “kitab kuning.”

Dalam perjalanan kembali ke Surabaya, Naipaul bertanya kepada saya dengan nada sinis: “Bagaimana Pesantren semacam itu dapat mengajarkan teknologi modern?” Saya menjawab spontan dan lugas: “Pertanyaan anda sama sekali tidak relevan!”

Malam harinya, Naipaul mengurung diri di kamar, menulis hasil pengamatan dan segala percakapan di Pesantren siang tadi. Saya memesan kamar tersendiri dan mengelak untuk makan bersama di restoran hotel. Inilah kesempatan yang baik untuk keluar dari hotel, sendiri, nongkrong di tepi jalan, menikmati soto Madura. Tukang-tukang becak berkerumun di sekeliling saya mengajak bicara. Saya membeli tiga sisir pisang Ambon dan dimakan bersama ramai-ramai. Orang Surabaya umumnya kocak dan suka berselohor serta kaya dengan kata-kata makian sebagai tanda keakraban. Dengan membayar lima ratus perak, saya dapat naik becak keliling Surabaya melewati tugu pahlawan yang nampak mulai miring sedikit. Tapi kisah tukang becak itulah yang paling mengasyikan, tidak ubahnya seperti menyaksikan tontonan ludruk. Kembali di sekitar hotel, saya berusaha mengenali supir-supir taksi, sambil memilih
mobil yang paling bagus dan supir yang masih muda, cakap dan mudah bergaul. Tidak terasa, hari sudah larut malam. Ketika keesokan harinya Naipaul dan saya akan berangkat ke Yogya, supir-supir taksi lain dan tukang-tukang becak berkerumun kembali sambil mengelu-elukan :”Selamat jalan! Selamat jalan! ….” Naipaul terheran-heran. “Anda dikenal banyak orang di sini, Prasodjo?” Naipaul bertanya. “Ya, semua itu sahabat saya,” saya menjawab sambil mengerdipkan mata kepada supir yang duduk disebelah saya. Hampir tidak tahan saya mengendalikan mulut untuk tertawa.

Menjelang maghrib, Naipaul masih sempat singgah di Prambanan. Ia merenungi candi Roro Jonggrang, dan pura-pura bertanya kepada saya, “Siapakah yang demikian kejam, sampai hati memenggal leher patung-patung yang sekarang menggeletak sisanya di pelataran candi ?” Saya menjawab, barangkali itulah perbuatan tangan-tangan jahil serdadu di zaman Jepang! Naipaul tentu tidak sebodoh itu, untuk mempercayai keterangan saya. Ia
langsung menuduh sebagai perbuatan orang Muslim. Saya membalas kembali, “Bagi orang Muslim di zaman dahulu, perbuatannya itu adalah untuk menyelamatkan orang-orang yang masih percaya kepada tahyul, supaya tidak menganggap patung menjadi sesembahan sebagai Tuhan. Syirik adalah satu-satunya dosa yang tidak terampuni dalam ajaran Islam. Betatapun kaum Muslimin mengerti seni patung, seni lukis dan seni ornamen”.

Naipaul menginap di Hotel Ambarukmo. Saya diantar supir berkeliling kota Yogya, mencari sahabat-sahabat lama, membuat acara bebas dan menginap bersama. Keesokan harinya, sekedar basa-basi, saya minta maaf kepada Naipaul karena tidak kembali ke hotel. “Sejumlah teman lama saya telah berkumpul semalam, mengajak makan bersama di restoran.” Padahal sebenarnya, kami cuma
duduk ngobrol di trotoir depan Pasar Beringharjo sambil menikmati nasi gudeg Malioboro. Keangkuhan sikap Naipaul telah saya balas dengan gaya urakan.
Supir dari Surabaya memahami segala yang terjadi, dan dia telah terhibur sepanjang perjalanan yang meletihkan.

Perjalanan selanjutnya, pagi itu, menuju ke Muntilan, belok kiri, untuk mengunjungi Pesantren Pabelan. Hari Jum’at Pesantren di manapun libur sehari. Naipaul hanya bertemu dengan Habib Chirzin, mahasiswa Fakultas
Filsafat Universitas Gajah Mada dan pengajar pada beberapa lembaga pendidikan di Yogya, juga pengajar di Pesantren Pabelan. Habib bertubuh kecil dan pendek, amat sopan dan pemalu, terlalu hormat kepada Naipaul dan setiap tamu. Kali ini sikapnya itu kurang menguntungkan. Sebab bagi
Naipaul, sopan-santun Habib itu memberikan kesan “kampungan” dan rendah diri di hadapan mata Naipaul yang sombong. Saat itulah saya dapat memahami bahwa mentakaburi orang takabur adalah sadakah. Naipaul tidak mungkin mengerti sikap ‘tawadhu’ seperti yang terdapat dalam ajaran Islam. Apalagi Habib Chirzin punya gaya yang khas, yaitu ‘tawadhu’ tambah ngapurancang kesopanan Jawa Tengah daerah pedalaman.
Naipaul tidak sempat bertemu dengan Kyai Hamam Jakfar, pendiri dan Pimpinan Pesantren Pabelan. Kyai yang masih tergolong muda, alumni
Pesantren Gontor, teman seangkatan dengan Nurcholish Madjid itu, bertubuh besar dan tegas dalam pembicaraan dengan siapapun, lancar berbahasa Arab maupun Inggris, pasti akan menimbulkan kesan bagi Naipaul. Tapi semuanya
itu tidak pernah terjadi. Dalam perjalanan pulang ke Yogya, Naipaul bertanya kepada saya: “Apakah anda pernah mendengar nama penulis Charles Dickens yang mengarang novel Nicholas Neckleby ?”. Saya menjawab: “Charles Dickens,
sastrawan Inggris abad yang lalu itu pernah kudengar namanya. Tapi novel Nicholas Neckleby belum pernah saya baca!” Di dalam novel itu menurut
Naipaul, dilukiskan sebuah sekolah yang dipimpin oleh Mr. Squeers yang mirip Pesantren Pabelan. Mereka percaya dan menggunakan metoda ‘belajar sambil bekerja’ (leraning by doing). Katanya, mengajar biologi dengan cara membawa
murid ke kandang kuda. “Saya benci kalau dipaksa tinggal di sekolah semacam itu !”, kata Naipaul. Dengan geram saya berkata: “Berapa menit anda melihat Pesantren? Lalu
mengambil kesimpulan begitu? Perbuatan kriminil! Tidak ada yang memaksa anda untuk tinggal di Pesantren! Anda tidak dapat membedakan antara
pendidikan agama dan pelajaran ketrampilan..” Selanjutnya saya makin sebal meneruskan pembicaraan.

Menjelang tiba di hotel Ambarukmo, saya bicara terus terang, enggan menjadi pemandunya. Naipaul meredakan kemarahan saya. Sementara itu saya teringat telah berjanji menunjukkan sebuah toko batik, dan petang itu harus mempersiapkan pertemuan antara Naipaul dengan Doktor Umar Kayam dan sejumlah sastrawan Yogya. Kami saling bermaafan dan rujuk kembali
sebagai teman seperjalanan.

Umar Kayam berjasa banyak menjernihkan suasana. Dia adalah seorang Doktor dalam sosiologi pendidikan dan juga seorang sastrawan dan kolumnis terkenal. Umar Kayam mampu merubah pandangan Naipaul terhadap dunia Pesantren, sehingga keesokan harinya Naipaul memerlukan datang ke Pabelan sekali lagi, sebelum bertolak ke Jakarta dengan
pesawat.

***
Di sebuah kamar pada lantai tingkat 15 Hotel Borobudur
Intercontinental, saya bertemu kembali dengan Patricia. Ini adalah sebuah kisah tersendiri untuk mengetahui siapa sebenarnya Naipaul dari sebuah sisi yang lain. Apakah kebesaran Naipaul sebagai novelis terkenal identik dengan keangkuhannya terhadap istrinya? Entahlah. Hanya Patricialah yang mampu
menjawab. Selagi mempersiapkan buku Among The Believers, Naipaul menempuh perjalanan
panjang melewati Iran, Pakistan, Malaysia dan Indonesia, sampai
berbulan-bulan. Sudah sepantasnya Patricia ingin menyusul, tiba di Jakarta
pada hari Senin dan menurut rencana hari Rabu berikutnya ikut ke Surabaya. Tapi pada hari Rabu Rabu pagi, hanya karena pertengkaran kecil Naipaul
memutuskan untuk membatalkan keberangkatan Patricia, dan harus tinggal sendiri di Jakarta. Patricia menerima keputusan mendadak ini dengan sabar.
Patricia kemudian menyertai perjalanan kami dari Jakarta ke Bandung. Tidak sengaja, di dalam mobil saya bercerita, pernah melihat sebuah flat atau apartemen di San Diego, California, tahun lalu, tempat orang-orang bermukim, lelaki dan perempuan. Mereka itu punya pandangan dan gaya hidup dengan cara tanpa berkeluarga untuk sesamanya. Bagaimana pendapat anda Naipaul :”Kelak di hari tua, akupun tidak menghendaki ada orang lain dalam kehidupanku”, katanya. Bagaimana perasaan Patricia wanita Ingris dan istri setia itu, mendengar ucapan Naipaul ini, saya tidak dapat menyelaminya.

Pertengahan Agustus 11980, majalah Newsweek memuat gambar Naipaul pada halaman kulit. Naipaul disanjung dengan julukan “Master of The Novel” dan dikabarkan sebagai calon kuat pemenang Hadiah Nobel di bidang sastra. (Tapi ternyata gagal, terkalahkan oleh seorang penyair Polandia). Editor majalah
Newsweek untuk eropa, Edward Behr, pernah bertanya: “Sepanjang hidup anda seperti orang terasing saja. Di makanakah tempat anda menetap?” Apa jawab Naipaul? “Saya tidak menyukai negeri Inggris, tapi inilah satu-satunya tempat bagiku…Di Inggris, orang-orangnya amat berbangga untuk menjadi terlalu bodoh. Biaya terlalu mahal untuk membayar kultus kebodohan dan
kesia-siaan. Tapi saya tidak punya tempat lain untuk berpijak, dan tentu saja saya mencintai rumah di pojok Wiltshire ini ….

Betapapun, perjalanan bersama Naipaul telah memberikan banyak pelajaran bagi saya. Apa yang sama sekali tidak terduga ialah, nama saya terlalu banyak disebut-sebut dalam buku Naipaul yang terbaru itu, dengan kebaikan dan kekonyolan saya. Hendaknya dimaklumi, saat itu saya adalah seorang remaja berumur 19 tahun, tanpa sengaja berhadapan dengan Raja Novel kaliber dunia yang nama lengkapnya : Vidiadhar Surajprasad Naipaul.

1 Maret 1982.

*) Imam B Prasodjo

Panji Masyarakat, No. 354 Tahun XXIII, 21 Maret 1982

 

[contact-form-7 404 "Not Found"]