Laki-laki dan Perempuan Tak Harus Sama, Tapi Harus Setara

Laki-laki dan Perempuan Tak Harus Sama, Tapi Harus Setara

Laki-laki dan Perempuan Tak Harus Sama, Tapi Harus Setara

Ketika menempuh pendidikan S1 saya pernah berdiskusi dengan beberapa teman mengenai gender dalam agama. Saya mendapatkan asumsi bahwa hampir semua kitab agama selalu menampilkan sisi patriarki, di mana perempuan selalu terletak di bawah kedudukan laki-laki.

Contohnya dapat kita temukan dalam ayat ar-rijalu qawwamuna alan nisa’ (Q.S an-Nisa ayat 34), yuusikumullah fi auladikum lidzdzakari mitslu hadhdhil unsayain (Q.S an-Nisa ayat 11). Selain itu dalam Kitab Talmud juga dijelaskan “Saya berterimakasih Pada-Mu Tuhan, karena tidak menjadikanku perempuan.

Dijelaskan pula bahwa perempuan dianggap sebagai makhluk yang terkutuk dan penuh dosa karena telah menyebabkan Nabi Adam diusir dari surga. Oleh karenanya perempuan dikutuk untuk melahirkan dengan rasa sakit, mengalami menstruasi dan sebagainya.

Dalam tradisi Kristen pun demikian, pemakaian dogma anti perempuan berpuncak pada teologi Thomas Aquinas pada abad ke-18. Ia mengatakan seorang laki-laki dapat mencerminkan “gambar dan citra” Allah sedangkan perempuan inferior dibandingkan pria dalam segi fisik, moral dan mental. Berdasarkan pada pernyataan ini tidak mungkin seorang perempuan dapat menjadi imam, pemimpin gereja, apalagi kristus terhadap jama’at.

Dari penjelasan ini, saya bertanya-tanya pada diri saya, apakah memang semua Tuhan dari tiap agama mendiskriminasikan perempuan? Apakah ini merupakan sebuah fakta yang harus diterima oleh setiap perempuan di dunia? Sebagaimana yang dijelaskan oleh Beauvoir dalam The Second sex bahwa wanita menemukan dirinya sebagai bagian dari nilai-nilai yang dibuat oleh pria, dan bahwa dia hanya dapat berfungsi sebagai pelengkap pria. Seluruh hidupnya harus didedikasikan untuk melayani manusia. Tuntutan masyarakat dan biologinya cenderung menggagalkan upayanya untuk memenuhi dirinya sebagai individu. Bahkan dikatakan pula bahwa “Betina adalah mangsa spesies, yang kepentingannya terpisah dari kepentingan betina sebagai individu.”

Sebagai muslim, saya pun merasakan demikian. meskipun dalam Al-Quran dijelaskan pula mengenai kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, akan tetapi pada kenyataannya dalam kehidupan bermasyarakat, muslim perempuan selalu terdiskriminasikan dari pada laki-laki. Laki-laki selalu mendapatkan tempat yang lebih tinggi, misalnya ia bisa menjadi imam, selalu dipercaya menjadi pemimpin, mendapatkan harta warisan lebih banyak, dan lain sebagainya.

Namun demikian, saya berpendapat bahwa Islam telah memberikan konsep yang bagus di antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan yang mencolok antara perempuan dan laki-laki dalam Al-Qur’an memang sebuah fakta bahwa Allah tidak menjadikan keduanya sama, akan tetapi Allah menjadikan keduanya setara.

Adapun “sama” dan “setara” merupakan dua hal yang berbeda. Sama berarti menempatkan perempuan dan laki-laki tidak berbeda. Sedangkan setara berarti sepadan/seimbang, yaitu menempatkan laki-laki maupun perempuan sesuai dengan kadar kemampuannya masing-masing.

Secara biologis, kita tahu bahwa perempuan dan laki-laki mempunyai perbedaan yang kongkrit. Salah satu contohnya yaitu perempuan mengalami menstruasi dan melahirkan sedangkan laki-laki tidak. Secara psikologis pun demikian, keduanya punya memiliki perbedaan yang konkrit. Misalnya, dalam mengambil keputusan perempuan lebih mengedepankan perasaan, sedangkan laki-laki lebih mengedepankan logika dalam berpikir.

Kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dapat kita analogikan seperti dua anak laki-laki, dimana satunya memiliki badan yang kurus tinggi, dan yang lainnya memiliki badan yang gemuk pendek. Jika ingin membelikan keduanya baju baru dengan model yang sama, pastinya kita akan menyesuaikan ukuran baju dengan besar tubuh kedua anak tersebut. Jika kita memaksakan keduanya mengenakan baju dengan ukuran yang sama, maka yang terjadi ialah ketidakadilan diantara keduanya.

Begitu pula dalam menyetarakan laki-laki dan perempuan, ada kadar yang harus kita lihat di dalamnya agar dapat diperoleh keadilan. Bagi saya inilah sikap humanis Allah kepada hamba-Nya. Dia selalu melihat kadar kemampuan manusia baik laki-laki maupun perempuan sebelum memberikan berbagai aturan.