Ketika Pemikir Barat Ikut Gerus Islamofobia

islam dan barat tampak sebagai sesuatu yang berjauhan, bahkan bermusuhan.

Ketika Pemikir Barat Ikut Gerus Islamofobia

Pada 17 Januari 2013 silam, situs mondoweiss.net merilis sejumlah twit dari beberapa penonton usai menyaksikan film tentang penangkapan Osama bin Laden berjudul Zero Dark Thrity. Kumpulan twit itu berisi tentang bagaimana film itu sudah membuat mereka takut, atau paling tidak memupuk kecurigaan, pada kaum muslim. “OMG, Zero Dark Thirty, best movie ever. Have a whole new hatred for Muslims…”demikian bunyi dari salah satu akun. “Zero Dark Thirty makes me hate Muslims,”sahut akun lain dengan lugas.

Sentimen negatif terhadap Islam, khususnya yang terjadi pada sebagian kalangan Barat (Eropa dan Amerika), umumnya disuburkan oleh representasi yang disiarkan media massa, dalam berbagai platformnya. Bisa media kreasi seperti film, media sosial berbasis internet dengan aneka jejaring dan aplikasinya, serta pemberitaan di televisi, radio, maupun website.

Stigma terhadap Islam itu sudah terjadi sejak puluhan, bahkan mungkin ratusan, tahun yang lalu. Edward W. Said (1978) dalam bukunya berjudul Orientalismepada sub bab Jejak-Jejak Orientalismedi bagian Representasi Islammenerangkan, media Barat kerap merepresentasikan Islam dengan acuannya sendiri.

Read More

Umumnya, yang terjadi adalah hegemoni dan dominasi Barat terhadap agama ini. Yang dikedepankan adalah mitos-mitos bahwa Islam dekat dengan kekerasan, jauh dari perdamaian, dan punya kecenderungan lemah dalam memainkan rasio.

Apa yang disampaikan oleh Said mengacu pada kekerasan dan kekasaran yang dilakukan oleh orang Islam dalam representasi yang tersaji di media Barat. Padahal, wacana di luar media tidak sepenuhnya demikian. Islam bukan agama yang identik dengan kekerasan.

Peperangan yang terjadi di masa penaklukan pada awal kelahiran ajaran ini, adalah langkah terakhir yang jika itu tidak diambil, resikonya adalah kemusnahan Islam sendiri. Burdah (Islam Kontemporer, Revolusi dan Demokrasi, 2014) memaparkan, peperangan adalah sebentuk teknik dalam praktek hubungan internasional di masa lampau.

Di tengah kecamuk pembingkaian Islam di media Barat yang masih belum sepenuhnya adil, buku berjudul Islamofobia (Mizan, Agustus 2018) diterbitkan. Penulisnya adalah para pemikir Barat, yang salah satunya adalah peneliti sejarah Islam kenamaan asal Eropa bernama Karen Armstrong. Juga, John L. Esposito, Imam Abdul Malik Mujahid, dan sejumlah penulis lain yang sebagian beropini secara objektif, sedangkan sebagian lain mengulas fenomena-fenomena yang berhubungan dengan Islamofobia tersebut.

Buku ini menjelaskan bagaimana Islamofobia, di era kontemporer sekarang ini, masih menjangkiti kalangan Barat, dan komunitas lainnya yang belum terlampau paham tentang Islam. Salah satu penyebabnya, kemunculan representasi Islam yang keras melalui fenomena terorisme, ISIS, dan wahabisme kaku yang dianggap sebagian orang sebagai bibit radikalisme.

Sumber pengetahuan representasi tersebut, tentu saja media massa. Ya, Islam di media Barat erat hubungannya dengan distorsi makna. Padahal, bila mau sedikit berkeringat untuk berpikir secara mendalam, Islam bukanlah ajaran yang tampak seperti pada gambaran di atas.

Islam adalah agama yang damai dan tidak menginginkan pertikaian. Apalagi, terbukti kalau Islam memiliki percepatan penyebaran yang tinggi di Amerika Serikat dan Eropa.

Bayangkan, bila Islam ditebarkan dengan semangat kebencian dan penyerangan yang tidak kompatibel dengan akal budi, mustahil perkembangan agama ini bisa gencar seperti sekarang.

Sementara itu, terorisme menjadi salah satu objek yang paling dikutuk oleh umat muslim sedunia. Dalam Festival Urs di India yang diadakan setiap tahun, sekitar 70.000 pengunjung selalu mengutuk beragam tindakan terorisme di kolong langit.

Hal serupa dilakukan oleh kalangan muslim lain di penjuru dunia, sebagai penegasan bahwa terorisme atau tindakan menyakiti, bahkan membantai orang lain, bukan berasal dari arahan Nabi Muhammad, Sang Pembawa Risalah.

Secara umum, agama-agama di dunia tak henti memromosikan pentingnya toleransi. Di samping itu, masing-masing pemeluk agama tadi, kerap melindungi agama lain yang “dituduh” sebagai biang dari terorisme.

Artinya, banyak agama di luar Islam, yang berupaya ikut mengikis islamofobia. Sebab, mereka paham kalau Islam, dan pemeluknya yang selama ini hidup dengan mereka, tidak pernah berbuat fatalistik anarkis.

Dukungan-dukungan terhadap aktifitas anti-terorisme dan perdamaian dilakukan oleh semua pihak. Tujuannya adalah memupuk rasa kebersamaan. Bahwa kalaupun tidak bersepakat pada hal-hal tertentu, semua orang pasti setuju pada nilai universal dari kedamaian, kemanusiaan, dan kebersamaan.

Pada bagian lain, gerakan Islam di Indonesia mesti mengambil bagian penting. Baik untuk mengikis Islamofobia, maupun untuk membentengi negeri ini dari perspektif bengkok tentang Islam.

Organisasi atau gerakan keagamaan di Indonesia, yang lahir dan asli terbentuk melalui kearifan lokal nusantara, mesti menunjukkan keluhuran budi yang memang menjadi karakter agama ini. Laku teladan yang baik mesti terus digelorakan.

Selain itu, upaya untuk merekatkan persatuan dalam kebinekaan harus terus dikobarkan. Fanatik sempit perlu dipadamkan agar rasa persaudaraan makin terbina. Pandangan orang tentang Islam yang eksklusif perlu dihilangkan.

Memang, di pusaran konstelasi politik dan sosial belakangan yang begitu gaduh, pekerjaan ini tentu tidak mudah. Energi yang banyak tentu diperlukan secara mutlak. Termasuk untuk bersabar, menghadapi pihak-pihak yang kerap emosional melihat keadaan bangsa. Sedangkan emosi semacam itu, justru sering melumpuhkan akal sehat.

Wallahu A’lam.