Islam Perlu Berdamai dengan Teori Evolusi dan Teori Sains Lainnya

Islam Perlu Berdamai dengan Teori Evolusi dan Teori Sains Lainnya

Islam Perlu Berdamai dengan Teori Evolusi dan Teori Sains Lainnya

Apakah teori evolusi dibernarkan dalam Al-Qura? dan Bagaimana kita harus bersikap tentang teori sains?

Belum lama ini, Adnan Oktar atau yang lebih dikenal dengan nama pena Harun Yahya kembali membuat geger. Bukan, kali ini bukan karena ia membuat teori baru. Harun Yahya divonis hukuman 1.075 tahun penjara karena terbukti melakukan 15 jenis tindak pidana.

Harun Yahya didakwa mendukung usaha kudeta Turki pada tahun 2016, mendukung organisasi teroris dan juga pelecehan seksual terhadap anak dan perkosaan. Oke, pada kesempatan kali ini saya tidak ingin membahas perbuatan personal yang dilakukan Harun Yahya.

Sebelum terbukti melakukan banyak tindak pidana tersebut, nama Harun Yahya sebetulnya cukup harum di dunia Islam, termasuk di Indonesia. Saya masih ingat betul menyaksikan video dokumenter karya Harun Yahya yang ciamik dan gagah berani membantah teori evolusi Darwin. Video ini laris manis dan sering diputar di sekolah-sekolah negeri.

Salah satu karyanya yang paling kontroversial sekaligus berpengaruh adalah buku berjudul “Atlas of Creation” yang terbit pada tahun 2006. Buku ini berisi bantahan terhadap teori evolusi Darwin melalui usahanya mengutip ayat-ayat pada kitab suci Al-Qur’an.

Harun Yahya mengkritik teori evolusi bukan dengan menggunakan bukti-bukti saintifik. Singkatnya, ia mengatakan teori evolusi meninggalkan banyak ketidaksambungan atau missing link antar spesies. Namun, kritik paling kuatnya mengarah pada ketidakcocokan teori evolusi dengan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Teori Evolusi dalam Sudut Pandang Islam

Kebanyakan orang menganggap teori evolusi Darwin bertentangan dengan ajaran agama yang dianggap mutlak dan tidak mungkin salah. Sangat jelas tertulis dalam Al-Qur’an bahwa manusia diciptakan langsung oleh Tuhan. Dan, manusia pertama bernama Nabi Adam. Bagaimana mungkin manusia merupakan produk evolusi dari binatang?

Di sisi lain, teori evolusi merupakan sebuah konsensus yang sangat kokoh dalam dunia sains dan sangat sulit untuk dibantah. Bukti-bukti dari berbagai bidang selama 50 tahun terakhir justru memperkuat posisi teori evolusi.

Salah satu ahli tafsir terkemuka Indonesia, Quraish Shihab menjelaskan fenomena ini. Menurutnya, dalam Al-Qur’an ada menceritakan tentang kejadian manusia. Namun juga diceritakan bahwa sebelum kejadian manusia (Nabi Adam) ini sudah ada makhluk-makhluk lain, tapi tidak diterangkan apa makhluk-makhluk lain itu. Boleh jadi, makhluk-makhluk lain itu manusia purba.

Masih menurut Quraish Shihab, ketika Al-Qur’an berbicara tentang manusia pertama ini, hanya dinyatakan bahwa diciptakan dari tanah. Selanjutnya, ada proses akhirnya dihembuskan ruh maka jadilah dia manusia.

Mungkin, ada sebuah proses sejak diciptakan dari tanah hingga akhirnya dihembuskan ruh. Boleh jadi proses ini adalah evolusi melalui seleksi alam. Setelah dihembuskan ruh, barulah ia jadi manusia modern atau yang dikenal dengan spesies Homo sapiens.

Al-Quran juga tidak menerangkan secara detil tentang proses penciptaan manusia. Perhatikan surat Al-Baqarah, ayat 30, yang menjelaskan penciptaan manusia “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”

Mereka (malaikat) berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”. Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (Al-Baqarah:30).

Saya memang bukan ahli agama apalagi ahli tafsir. Ilmu tafsir membutuhkan penguasaan di banyak sekali bidang ilmu, sehingga menafsirkan ayat suci Al-Qur’an tidak boleh sembarangan. Hanya saja, nalar kritis saya bertanya “Bagaimana malaikat itu bisa tahu kalau yang hendak diciptakan Tuhan adalah orang yang membuat kerusakan dan menumpahkan darah?”

Baca juga: Ayat-Ayat Cinta 2: Melihat Fahri Bekerja Mengenalkan Islam ke Publik Internasional

Saya menduga bahwa sebelum Tuhan menjadikan khalifah di muka bumi, sudah ada makhluk seperti manusia. Sejarah membuktikan memang manusia membuat kerusakan, terutama punahnya banyak spesies di benua Amerika dan benua Australia sesaat setelah manusia menginjakkan kaki di benua tersebut sekitar 50.000 tahun yang lalu.

Meletakkan Agama dan Sains pada Posisi yang Ideal

Agama adalah pedoman hidup dan peta penunjuk jalan. Kekuatan agama bukan pada kemampuannya untuk menjelaskan fenomena objektif. Kekuatan utama agama terletak pada kemampuannya untuk mengatur harmoni sosial.

Saat pertama kali turun di tanah Arab, Islam mengubah lanskap tanah arab yang penuh peperangan antar suku menjadi harmoni. Untuk pertama kalinya suku-suku Arab dan banyak bangsa lain bisa bersatu di bawah satu bendera identitas, yaitu agama Islam.

Kita harus mampu meletakkan agama dan sains pada porsinya yang ideal. Kini, sains sedang mengerjakan banyak proyek yang membutuhkan pedoman etika. Kalau orang Islam terus menerus menolak kebenaran sains, Islam akan kehilangan kemampuannya untuk mengatur harmoni sosial di masa depan.

Sudah saatnya berhenti membenturkan Islam dengan sains. Saat ini, sains mampu melakukan rekayasa genetika yang memungkinkan manusia menciptakan manusia super. Kecerdasan buatan dengan big data juga mengubah peradaban modern pada skala yang sulit dibayangkan.

Menurut saya, para cendekiawan Islam harus ada di sana untuk turut mengatur batas-batas etikanya. Tanpa memahami sains, orang Islam tidak akan mengerti dampak apa saja yang bisa dihasilkan teknologi hari ini.

Baca juga: Sejarah Perang Islam-Kristen yang Dijadikan Sentimen Kebencian di Barat dan Efeknya Bagi Dunia Islam (Bagian 2-Habis)

Contoh yang paling faktual adalah mobil cerdas tanpa supir. Mereka bergerak dengan algoritma yang sudah diprogram oleh teknisinya.

Bagaimana seandainya kalau mobil pintar itu akan menabrak seorang wanita tua renta yang sedang menyebrang jalan. Kalau mobil itu banting setir ke kiri, maka akan menabrak pria berbadan kekar yang ingin berangkat kerja. Kalau banting setir ke kanan, ia akan menabrak pedagang kopi keliling. Kalau mobil itu mengerem, ia akan mencelekai satu keluarga yang sedang melaju cepat tepat di belakangnya.

Apa yang seharusnya dilakukan mobil cerdas itu? Karena mobil itu akan melakukan manuver persis seperti yang dituliskan dalam algoritmanya. Oleh sebab itu, cendekiawan agama harus memahami sains dan ikut serta dalam diskusi etik semacam itu. (AN)