Ini Pahala Menghibur Orang yang Ditimpa Musibah

Ini Pahala Menghibur Orang yang Ditimpa Musibah

Begini janji Allah untuk orang yang mau menghibur orang lain yang sedang ditimpa musibah.

Ini Pahala Menghibur Orang yang Ditimpa Musibah
Pengungsi Rohingya mengharapkan bantuan kita. Photo by Reuters

Nabi Muhammad SAW pernah menggambarkan bahwa hubungan seorang muslim dengan saudaranya, layaknya satu kesatuan dalam tubuh. Artinya, jika ada anggota tubuh yang merasakan kesakitan, maka anggota tubuh lainnya akan membantu meredakan rasa sakit tersebut. Menghibur Orang yang Ditimpa Musibah

Apabila ada anggota tubuh yang merasakan nikmat, maka seluruh anggota tubuh pun akan merasakan yang demikian. Begitulah gambaran Nabi Muhammad SAW terhadap hubungan seorang muslim dengan saudara muslim lainnya.

Apabila ada seorang muslim sedang ditimpa musibah, maka muslim lainnya dituntut agar membantunya atau minimal menghibur suasana hatinya. Begitu pun, jikalau ada seorang muslim yang sedang bergembira atas suatu nikmat dari Allah SWT, maka muslim lainnya pun dituntut untuk merasa gembira atas hal tersebut, bukan justru hasad atau iri dengki terhadap kenikmatan yang diperolehnya.

Dengan demikian Nabi Muhammad SAW menuntut agar umatnya memiliki kepedulian terhadap keadaan sesama muslim. Kepedulian inilah yang menjadi cikal bakal persaudaraan, kerukunan, dan persatuan umat Islam.

Adapun mengenai membantu atau menghibur suasana hati seorang muslim yang terkena musibah, Rasulullah SAW pernah menjelaskan tentang pahala atau balasan yang akan diperoleh seorang muslim yang menghibur hati saudaranya yang ditimpa musibah.

Dari Amar bin Hazem berkata, Nabi Muhammad Saw. bersabda ;

مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يُعَزِّي أَخَاهُ بِمُصِيبَةٍ إِلَّا كَسَاهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ مِنْ حُلَلِ الْكَرَامَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Tidaklah seorang mukmin yang bertakziah [menghibur hati orang yang mendapatkan musibah] saudaranya yang ditimpa musibah, kecuali pasti Allah Azza wa Jalla akan memberinya pakaian kemuliaan kelak di hari kiamat”. (Riwayat Imam Ibnu Majah dan Baihaqi)

Takziah yang diajarkan oleh ulama ialah dengan menasehati orang yang ditimpa musibah dengan ucapan yang santun dan lemah lembut agar ia bersabar, misalnya dengan berkata “Sesungguhnya Allah telah memberimu pahala yang sangat besar dengan sabar mu.” Hal itu supaya dapat menenangkan dan menghibur orang yang ditimpa musibah.

Perihal pahala bagi seorang mukmin yang telah menghibur hati saudaranya terkena musibah ialah Allah SWT akan memberikan pakaian kehormatan kelak di hari kiamat. Abul Hasan As Sindi dalam kitabnya “Hasyiah as Sindi menjelaskan bahwa pakaian kemuliaan tersebut berupa petunjuk yang mendekatkan seseorang kepada kemuliaan di sisi Allah SWT kelak di hari kiamat.

Dua hal yang paling diharapkan manusia ketika hari kiamat ialah petunjuk dan naungan Allah SWT dan mereka yang mendapatkan kedua hal itu hanya orang-orang yang dicintai dan dirahmati oleh Allah SWT. Maka alangkah beruntungnya orang-orang yang mendapatkan petunjuk Allah SWT kelak di hari kiamat. Di antara amalan untuk memperoleh hal itu ialah menghibur seorang muslim yang sedang ditimpa musibah.

Pahala lainnya yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW bagi orang seorang muslim yang menghibur saudaranya ialah diberikan kepadanya pahala sebagaimana pahala yang diperoleh orang yang ditimpa musibah.

Dari Abdullah bin Mas’ud, Nabi Muhammad SAW bersabda ;

مَنْ عَزَّى مُصَابًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ

Siapapun yang menghibur orang yang ditimpa musibah, maka baginya pahala sebagaimana orang yang dihiburnya” (Riwayat Imam Ibnu Majah)

Hakikatnya Allah SWT telah menyiapkan pahala yang teramat besar bagi muslim yang ditimpa musibah, jikalau ia rida dan bersabar atas musibahnya. Dan pahala tersebut juga Allah SWT sediakan bagi mereka yang menghibur orang tertimpa musibah tersebut.

Dari penjelasan di atas, dapat kita ketahui betapa banyaknya balasan bagi seorang muslim yang menghibur saudaranya yang sedang ditimpa musibah. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghibur seorang yang sedang terkena musibah, misalnya menasihatinya untuk ridha dan bersabar atas musibahnya, meringankan bebannya, membantu perekonomiannya dan lain sebagainya. (AN)

Wallahu a’lam.