Yang Luput dari Peristiwa Pembakaran Al-Qur’an di Swedia

Yang Luput dari Peristiwa Pembakaran Al-Qur’an di Swedia

Seorang pria berusia 37 tahun asal Irak bernama Salwan Momika melakukan aksi pembakaran Al-Qur`an. Peristiwa itu terjadi di luar masjid pusat Stockholm, Swedia, pada Rabu (18/6) lalu.

Yang Luput dari Peristiwa Pembakaran Al-Qur’an di Swedia
Rasmus Paludan. Foto: TT News Agency via Reuters

Di tengah momen Idul Adha yang dirayakan oleh umat muslim di seluruh dunia, terjadi peristiwa mengejutkan di Swedia. Seorang pria berusia 37 tahun asal Irak bernama Salwan Momika melakukan aksi pembakaran Al-Qur`an. Peristiwa itu terjadi di luar masjid pusat Stockholm, Swedia, pada Rabu (18/6) lalu. Apa yang sebenarnya terjadi di Swedia? Adakah jalan keluar dari kemelut intoleransi ini?

Insiden pembakaran mushaf Al-Qur`an itu sendiri terjadi saat aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh sekitar 200 orang. Dalam aksinya, mereka merobek dan membakar mushaf Al-Qur`an. Menurut laporan media, Salwan mengusap sepatunya dengan halaman-halaman Al-Qur`an yang robek sebelum memasukkan daging asap ke dalamnya dan membakarnya.

Fenomena intoleransi dan islamofobia bukan kali pertama terjadi di Swedia. Politikus sayap kanan Swedia-Denmark, Rasmus Paludan, bahkan tercatat melakukannya hingga paling tidak lima kali. Ia acap melakukan pembakaran Al-Quran di negara Skandinavia yang tergolong Eropa bagian Utara tersebut. Teranyar, ia membakar Al-Qur’an pada 21 Januari 2023 lalu di depan Kedutaan Besar Turki yang terletak di wilayah Stockholm.

Tak hanya membakar, Paludan juga menyampaikan sikap meremehkan Islam dan banyaknya muslim yang bermigrasi ke Swedia. Bahkan, ia mengklaim aksinya itu merupakan bentuk kebebasan berekspresi. Paludan mengatakan, “jika anda tidak berpikir harus ada kebebasan berekspresi, anda harus tinggal di tempat lain.”

Baca Juga: Pembakaran Al-Qur’an di Swedia: Isu Sensitif yang Menyulut Kontroversi

Pembakaran Al-Qur`an, Wujud Nyata Intoleransi

Negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Iran, Arab Saudi, Mesir, Irak, Jordania, Kuwait, Yaman, Syria, Palestina, Uni Emirat Arab, Qatar, Turki, Maroko, hingga Indonesia telah mengeluarkan kecaman kerasnya atas peristiwa pembakaran Al-Qur’an oleh Salwan Momika di Swedia. Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pun akan mengadakan pertemuan luar biasa di kota Jeddah, Arab Saudi untuk mengambil sikap atas insiden tersebut.

Mengapa tren Islamofobia meningkat begitu drastis di Swedia? Apa gerangan yang sebenarnya terjadi di sana? Untuk memahami akar dari intoleransi terhadap umat Islam di Swedia ini, alangkah baiknya kita menyimak hasil riset yang dilakukan oleh Martin Ericsson.
Peneliti dari Universitas Lund, Swedia, itu menuliskan dalam “Historical Research Into Rracism and Racial Intolerance in Sweden”, bahwa prasangka Islamofobia sudah ada di Swedia jauh sebelum negara tersebut memiliki populasi Muslim. Peristiwa paling awal terjadi pada tahun 1600-an. Para fundamentalis Kristen saat itu telah menggambarkan Islam sebagai agama fanatik yang berusaha untuk membuat kekristenan punah.

Citra Muslim sebagai kejam dan fanatik kemudian diteruskan dalam bentuk yang lebih parah memasuki abad ke-20 hingga sekarang. Propaganda ini disebarkan melalui siaran pers, ensiklopedia, serta buku-buku pendidikan. Sebagai contoh, dalam buku pendidikan misalnya, disebutkan pernyataan kategoris yang menyatakan bahwa Islam adalah agama yang menindas perempuan, dan mencoba menaklukkan dunia melalui kekerasan dan teror. Lebih lanjut, sejak akhir tahun 1980-an umat Islam kemudian mulai ditunjuk sebagai “ancaman” khusus dalam debat sosial. Sejak itu, Islam telah digambarkan sebagai ancaman terhadap nilai-nilai “Swedia” dan kesetaraan, serta terkait dengan terorisme dan fanatisme agama.

Baca Juga: Rasmus Paludan Membakar Al-Qur’an: Gejala Islamofobia atau Intimidasi Politik?

Pendidikan Tanggap Budaya Sebagai Solusi

Dari rangkaian peristiwa intoleransi atas nama agama di Swedia khususnya, dan Eropa pada umumnya, yang terjadi dalam kurun beberapa tahun belakangan, dapat dikatakan bahwa ada hal yang luput dari pemberitaan media massa. Sesuatu yang hilang itu adalah pendidikan yang menanamkan rasa toleransi, humanis, dan menghargai budaya antar negara, agama, dan suku.

Tak salah kemudian jika pendidikan disebut sebagai pilar penting dalam menegakkan moderasi beragama dan bermasyarakat. Dewasa ini, pendekatan yang bisa dilakukan untuk mengimplementasikan hal itu ialah melalui pendidikan tanggap budaya (culturally responsive teaching). Pendekatan ini diinternalisasikan ke dalam berbagai jenjang lembaga pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Dengan pendidikan tanggap budaya, seorang murid akan berkenalan dengan budaya, keyakinan, dan tradisi dari anggota masyarakat lain yang berbeda suku, ras, dan agamanya. Pendidikan tanggap budaya merupakan pendekatan pembelajaran yang responsif terhadap keanekaragaman budaya dari pengalaman setiap peserta didik.

Salah satu media yang bisa dilakukan oleh seorang guru dalam memfasilitasi pendidikan tanggap budaya ialah dengan memberi waktu di mana setiap murid dapat mengekspresikan budaya atau tradisinya melalui medium tertentu, seperti puisi, cerita rakyat maupun kesenian khas daerah asal mereka. Dengan cara itulah kemudian lahir interaksi, diskusi, dan elaborasi antar kebudayan dan keyakinan yang berbeda. Sehingga, pada tahap selanjutnya hal ini akan mendorong lahirnya rasa saling memahami dan pengertian antar manusia dari latar belakang yang berbeda.

Penerapan sederhana pendidikan tanggap budaya ialah dengan menggali dan mendalami falsafah kehidupan yang berkembang di masyarakat. Sebagai contoh, khoirunnas anfa’uhum linnas merupakan salah satu falsafah hidup yang sering digunakan oleh seorang Muslim. Makna dari falsafah ini ialah hendaknya manusia dalam kehidupannya di dunia berusaha untuk membawa kebaikan dan kebermanfaatan dalam mewujudkan perdamaian di dunia.

Penghayatan satu falsafah ini saja sudah menjadi modal penting bagi seseorang dalam menjalani hidupnya. Tentu setiap agama, negara, atau keyakinan pastilah memiliki kearifan lokal yang bersifat universal dan bisa menjadi jembatan penghubung dalam mewujudkan moderasi beragama di kalangan masyarakat luas. Sayangnya, hal-hal tersebut dari hari ke hari semakin terkikis dalam sistem pendidikan kontemporer. Padahal, memahami budaya merupakan bagian penting untuk menjalin relasi dengan sesama manusia yang memiliki latar belakang yang beragam satu sama lainnya. [NH]