Wajah Islam di Televisi Lebih Berbahaya dari Pikiran Erotisme Tentang Blackpink

Wajah Islam di Televisi Lebih Berbahaya dari Pikiran Erotisme Tentang Blackpink

Ternyata ada yang lebih bahaya dari sekadar Blackpink

Belakangan, beberapa kalangan ada yang mempersoalkan iklan situs jual beli online Shoope yang menampilkan sebuah girl band asal Korea yang sedang naik daun, Black Pink. Mereka mempersoalkan iklan tersebut karena para personil Black Pink yang rupawan tersebut memakai rok mini dan beberapa perut personilnya ada yang terbuka.

Beberapa orang yang mempersoalkan tersebut kemudian mengorganisir diri dengan membuat petisi online melalui change.org. Petisi yang mempersoalkan iklan tersebut bahkan berhasil mengumpulkan tanda tangan online sampai puluhan ribu tanda tangan.  Di balik dari besarnya dukungan yang mempersoalkan iklan tersebut terdapat pikiran yang menganggap bahwa memakai rok mini dan pusarnya yang terlihat itu adalah sebuah iklan yang tak bermoral dan tidak sesuai dengan budaya timur yang relijius.

Pada dasarnya klaim-klaim bahwa melanggar moralitas dan budaya relijius itu sungguh sangat problematik. Semisal soal pornografi, walaupun ada ormas islam yang sering melakukan aksi sweeping dan menjadi polisi moral di masyarakat. Akan tetapi juga tidak bisa dipungkiri juga bahwa fakta lain menunjukkan bahwa di negeri yang konon menyebut diri sebagai negeri relijius dan bermoral timur ini, dengan umat islamnya mencapai lebih dari 80%, ternyata masuk jajaran atas paling negeri yang banyak mengakses video dan film porno di internet.

Read More

Fakta itu menampakkan begitu hipokritnya mentalitas kita. Di dunia nyata seolah-olah mendaku diri sebagai orang yang paling bermoral dan relijius. Bahkan diikuti dengan perilaku aksi sepihak melakukan sweeping ‘tempat maksiat’. Akan tetapi, faktanya, di dunia maya, di dunia yang sangat privat dan rahasia, malah tidak menampakkan apa yang dia kukuhkannya di dunia nyata.

Perilaku standar ganda tersebut sebetulnya adalah menampakkan kurangnya mental kejujuran masyarakat kita. Seringkali menampakkan hal-hal yang baik-baik saja di depan orang lain. Ia rela untuk menekan apa yang sebetulnya adalah jati diri yang sebenarnya demi untuk mendapatkan citra baik dari orang lain.

Terkait dengan erotisme, sebetulnya dalam sejarah peradaban kuno nenek moyang dulu bukanlah sesuatu yang terlalu tertutup seperti di era maraknya polisi moral saat ini. Di nusantara zaman dulu ada naskah sejarah dan artefak kuno yang mengkonfirmasi tingginya erotisme masyarakat. Dikenal kamasutra, sebuah panduan untuk melakukan aktivitas intim yang baik. Begitu pula gambar hasil pahatan di banyak candi di Indonesia menampakkan bahwa keterbukaan seksualitas bukanlah hal yang tabu dalam sejarah masyarakat Indonesia.

Akan tetapi yang menjadi persoalan adalah belakangan ini ketika terjadi masifnya arus ekspansi kelompok islam transnasional yang puritan dan konservatif banyak mempengaruhi opini publik tanah air. Kalangan yang mempersoalkan iklan Black Pink tersebut sebenarnya adalah bagian dari gejala rangkaian dari upaya puritanisasi dan islamisasi budaya masyarakat tanah air.

Jika kita melihat dari perspektif yang lebih luas, sebagaimana yang ada dalam sejarah kuno Indonesia, soal pemakaian rok mini bukanlah permasalahan yang begitu penting untuk dipersoalkan. Pada dasarnya terkait dengan rendahnya moralitas yang seringkali digunakan oleh kelompok puritan tersebut lebih berkaitan dengan pikiran dan mental yang seksis dari tradisi budaya patriarki saja.

Mempersoalkan hal-hal yang sepele yang kurang substansial tersebut hanya akan jatuh kepada melupakan persoalan besar yang sebenarnya lebih penting untuk dipersoalkan. Terlebih lagi kalau membawa-bawa agama, khususnya islam. Padahal, dalam soal konten penyiaran di televisi banyak konten tentang keislaman yang sebenarnya lebih penting untuk kita persoalkan dari hanya sekedar moralitas rok mini yang berstandar ganda tersebut.

Ada konten keislaman di televisi yang menodai nalar umum ilmu pengetahuan dan implikasinya berbahaya bagi rasionalitas keagamaan kita. Seperti konten program Khazanah di Trans 7 berjudul “Rahasia Mengapa Melahirkan Bayi Hasil Perzinahan Itu Mudah” yang ditayangkan pada tanggal 25 Juli 2018 lalu..

Dalam tayangan itu berusaha mengait-ngaitkan perilaku zina dengan kemudahan melahirkan. Menurut tayangan itu bahwa orang yang hamil dari pernikahan yang sah akan cenderung diuji dengan kesulitan dalam melahirkan karena dalam kesulitan tersebutlah Allah sedang mengujinya supaya mendapat pahala yang besar.

Kemudian, ia mengkontraskan dengan kehamilan dari perempuan yang berzina itu dalam proses kelahirannya mudah karena ujian dari Allah dicabut darinya supaya tidak mendapat pahala. Logika tayangan ini mengaggap seolah-olah kelancaran bersalin bagi ibu hamil hanya berkaitan dari persoalan moralitas semata. Kalau hasil pernikahan maka persalinannya akan sulit. Dan jika hasil zina, maka persalinannya akan mudah..

Logika moralitas yang mengeklaim sebagai tayangan islami seperti itu sungguh sangat menyesatkan. Mana ada proses kesehatan dan biologis itu hanya berkaitan dengan moralitas yang hitam dan putih, dosa dan pahala. Padahal, faktanya kan tidak demikian. Terkait dengan persoalan kelancaran persalinan lebih berkaitan dengan biologi dan ilmu kesehatan.

Dalam ilmu kesehatan dijelaskan bahwa kelancaran seorang ibu dalam melahirkan berkaitan dengan kesehatan ibu, kesehatan kandungan, tingkat stress sang ibu, tingkat kematangan persiapan sang ibu, bahkan kelancan melahirkan berkaitan dengan olah raga persiapan kelahiran yang dilakukan oleh sang ibu.

Penjelasan dari ilmu biologi dan kesehatan lebih bisa diterima daripada klaim-klaim otak-atik gathuk ala tayangan televisi yang mengklaim diri sebagai tayangan islami. Bisa saja orang yang mengandung anak dari sebuah pernikahan tetapi tidak mempraktikkan anjuran-anjuran ilmu kesehatan dalam proses kehamilannya yang kemudian mengakibatkan kandungannya lemah dan dalam proses melahirkannya menjadi sulit.
Itu semua sebenarnya persoalan sains.

Sains dapat lebih akurat dan bermanfaat dalam menjelaskan fenomena seperti itu. Justru malah ketika fenomena seperti itu dipaksakan dengan klaim otak-atik gathuk dan melabeli dengan penjelasan islami. Maka, disitulah sebenarnya malah merendahkan islam itu sendiri. Tampaknya kemudian seolah islam tak sejalan dengan kewarasan umum.

Dari kedua fenomena di atas: rok mini Black Pink dan tayangan islami di televisi dengan logika yang bermasalah. Menggambarkan secara jelas kepada kita mana yang seharusnya kita persoalkan sebagai orang yang mendaku diri sebagai komunitas beragama. Persoalan cacat logika seharusnya lebih kita perhatikan daripada sekedar standar ganda moralitas pada sebuah erotisme. Kecacatan logika lebih berbahaya bagi kewarasan mental keislaman kita untuk membangun peradaban islam kedepannya.