Tentang Tuan Guru Zaenuddin, Ulama Legendaris dari Pancor

Tentang Tuan Guru Zaenuddin, Ulama Legendaris dari Pancor

Tuan Guru Haji Zaenuddin Abdul Majid dianugerahi gelar pahlawan nasional pada 2017. Pendiri Nahdlatul Wathan ini adalah salah satu ulama kharismatik Nusa Tenggara Barat. Ulama ini dikenal sebagai tokoh agama yang sangat mengayomi umat dan tokoh pendidikan utamanya di wilayah Nusa Tenggara Barat.

Tuan Guru Zaenuddin lahir di Bermi, Pancor, Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, 5 Agustus 1898. Zaenuddin merupakan anak bungsu dari enam bersaudara. Ayahnya seorang ulama besar, TGH. Abdul Madjid yang kesohor dengan julukan Guru Mu’minah. Ibunya bernama Halimah Sa’diyyah.

Tuan Guru Zaenuddin memulai belajar agama pada ayahnya. Umur 9 tahun bersekolah formal yang disebut Sekolah Rakyat. Setelah menamatkan pendidikan formalnya, kemudian belajar agama pada beberapa ulama setempat. Diantaranya TGH. Syarafuddin dan TGH. Muhammad Sa’id dari Pancor dan Tuan Guru Abdullah bin Amaq Dulaji.

Read More

Mekkah menjadi salah satu tempat untuk menuntut ilmu selanjutnya. Diantara gurunya di tanah suci adalah Syaikh Marzuki, seorang kelahiran Palembang. Kemudian belajar ilmu sastra pada ahli Syaikh Muhammad Amin al-Quthbi dan Sayyid Muhsin Al-Palembani. Tuan Guru Zaenuddin juga tercatat belajar di Madrasah al-Shaulatiyah. Madrasah ini madrasah sangat legendaris dan mendunia. Lulusannya banyak ulama-ulama besar dunia.

Di madrasah ini prestasi akademiknya sangat istimewa. Beliau berhasil meraih peringkat pertama dan juara umum. Dengan kecerdasan yang luar biasa, TGKH. Muhammad Zainuddin berhasil menyelesaikan studi dalam waktu hanya 6 tahun, padahal normalnya adalah 9 tahun dan lulus dengan predikat “mumtaz” atau summa cumlaude.

Setelah selesai menuntut ilmu di Mekah dan kembali ke tanah air. Kegiatan dakwahnya ke berbagai lokasi di pulau Lombok membuatnya dikenal secara luas oleh masyarakat. Pada waktu itu masyarakat menyebutnya ‘Tuan Guru Bajang’. Pada tahun 1934 mendirikan pesantren al-Mujahidin sebagai tempat pemuda-pemuda Sasak mempelajari agama. Pada 15 Jumadil Akhir 1356 H/22 Agustus 1937 mendirikan Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI)

Tuan guru Zaenuddin menorehkan sejarah fenomenal dalam bidang pendidikan. Beliau adalah orang pertama di NTB yang memperkenalkan penggunaan kursi dan meja dalam belajar agama. Sistem ini diterapkan di Madrasah Nahdlatul Wathan Diniah Islamiyah dan Madrasah Nadhlatul Banat Diniah Islamiyah. Saat ini lembaga pendidikan yang bernaung di bawah organisasi Nahdlatul Wathan antara lain Ma’had li al-Banat, Universitas Hamzanwadi, menjadi Rektor Universitas Hamzanwadi, mendirikan Fakultas Tarbiyah Universitas Hamzanwadi, STKIP Hamzanwadi, Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Hamzanwadi, Yayasan Pendidikan Hamzanwadi, Universitas Nahdlatul Wathan Mataram, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Hamzanwadi, Sekolah Tinggi Ilamu Dakwah Hamzanwadi, Madrasah Aliyah Keagamaan putra-putri, dan Institut Agama Islam Hamzanwadi.

Tuan Guru Zainuddin Abdul Madjid dikenal sebagai ulama produktif. Karyanya tidak hanya kitab tetapi juga kumpulan doa, dan lagu-lagu perjuangan dalam bahasa Arab, Indonesia dan Sasak. Adapun karyanya antara lainRisalah al-Tauhid, Sullam al-Hija Syarah Safinah al-Naja, Nahdlah al-Zainiah, At Tuhfah al-Amfenaniyah, Al Fawakih al-Nahdliyah, Mi’raj al-Shibyan ila Sama’i Ilm al-Bayan, Al-Nafahat ‘ala al-Taqrirah al-Saniyah, Nail al-Anfal, Hizib Nahdlatul Wathan, Hizib Nahdlatul Banat, Tariqat Hizib Nahdlatul Wathan, Shalawat Nahdlatain, Shalawat Nahdlatul Wathan, Shalawat Miftah Bab Rahmah Allah, Shalawat al-Mab’uts Rahmah li al-‘Alamin Selain itu adalah Batu Ngompal, Anak Nunggal, Taqrirat Batu Ngompal, Wasiat Renungan Masa I dan II, Nasyid/Lagu Perjuangan, Ta’sis NWDI, Imamuna al-Syafi’i, Ya Fata Sasak, Ahlan bi Wafid al-Zairin, Tanawwar, Mars Nahdlatul Wathan, Bersatulah Haluan, Nahdlatain, Pacu Gama dan lain-lain. Tuan Guru wafat 21 Oktober 1997 dalam usia 99 tahun