Teks Khutbah Jumat: Menjadikan Puasa Ramadhan Sebagai Perisai Kita

Teks Khutbah Jumat: Menjadikan Puasa Ramadhan Sebagai Perisai Kita

Dalam teks hadis disebutkan bahwa puasa sebagai perisai. Lalu bagaimana kita mengamalkan hadis itu? Simak selengkapnya dalam khutbah Jumat ini.

Teks Khutbah Jumat: Menjadikan Puasa Ramadhan Sebagai Perisai Kita

Khutbah Jumat I: Menjadikan Puasa sebagai Perisai

الْحَمْدُ للهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ،ـ أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْم: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Ma’asyiral Muslimin Hafizhakumullah,

Di bulan ramadhan ini, kita sebagai umat Islam wajib memahami esensi dari ibadah puasa yang kita laksanakan saat ini. Karena itu, pada khutbah ini, kita akan focus memahami hadis puasa sebagai perisai atau puasa sebagai benteng.

Dalam sebuah hadis yang terkenal dikatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلا يَرْفُثْ وَلا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ.

Puasa itu adalah perisai, maka janganlah (seseorang yang sedang berpuasa) mengucapkan ucapan yang kotor, dan janganlah bertindak bodoh, dan jika ada orang yang sewenang-wenang merebut haknya atau mencelanya, maka katakan, ‘Saya sedang puasa’ -dua kali-.”

Hadis ini menekankan bahwa puasa adalah perisai (as-shiyamu junnatun) bagi umat Islam. Pertanyaan yang mungkin muncul ketika memahami hadis ini, puasa itu benteng atau perisai untuk melindungi apa dan dari siapa?

Para ulama, termasuk di antaranya Imam an-Nawawi dalam syarahnya terhadap Sahih Muslim menafsirkan bahwa yang dimaksud puasa sebagai perisai ialah karena puasa dapat mencegah pelakunya dan membentenginya dari rayuan-rayuan nafsu syaythani. Dengan berpuasa, menurut Imam Nawawi, kita bisa terlepas dari gangguan syeitan.

Tafsir yang lain juga dikemukakan Imam Nawawi, yakni bahwa yang dimaksud puasa sebagai perisai ialah karena puasa dapat menjaga pelakunya dari siksaan neraka. Tafsir yang kedua ini dapat dikatakan bahwa junnah atau perisai ialah wiqayah min an-naar, melindungi diri dari siksa neraka, tentu saja kedua makna yang dikemukakan oleh Imam Nawawi ini saling berkaitan. Makna pertama, puasa itu benteng dari hawa nafsu, dan makna kedua, puasa itu benteng dari siksa neraka. Dengan kata-kata lain, puasa merupakan benteng dari hawa nafsu yang pada tahap selanjutnya ketika kita mampu mengendalikan diri kita dari memperturut hawa nafsu, maka kita akan terselamatkan dari siksa api neraka.

Namun demikian, ada ulama lain yang mencoba memberikan arti yang berbeda terhadap kata shiyam di sini. Ibnu Asyur, misalnya, tidak seperti Imam Nawawi dan ulama lainnya, memiliki tafsir yang unik terhadap kata junnah atau perisai ini.

Ibnu Asyur memaknai kata shiyam sebagai junnah ini secara lebih umum. Dalam penafsiran an-Nawawi dan ulama lainnya, kita temukan puasa sebagai perisai dibatasi sebagai benteng dari godaan dan rayuan ke arah keburukan dan maksiat atau sebagai penyelamat dari siksa api neraka. Namun Ibnu Asyur seperti yang dapat kita lihat dalam kitab Kasyful Mughatta minal Alfadhz al-Qaqi’ah fil Muawatha’ memiliki tafsir lain.

Ma’asyiral Muslimin Hafizhakumullah,

Ibnu Asyur cenderung melepaskan kata junnah atau perisai dari ikatan-ikatan yang amat terbatas dan karena itu beliau menegaskan bahwa junnah tidak perlu dibatasi hanya kepada perisai dari godaan setan dan perisai dari neraka. Ini terlalu sempit. Ibnu Asyur dalam Kasyful Mughatta menegaskan demikian:

حَذْفُ مُتَعَلِّقِ (جُنَّة) لِقَصْدِ التَّعْمِيْمِ، أَيْ التَّكْثِيْرُ لِلْمُتَعَلِّقَاتِ الصَّالِحَةِ بِالْمَقَامِ…فَأَفَادَ كَلَامُ الرَّسُوْلِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّ الصَّوْمَ وِقَايَةٌ مِنْ أَضْرَارٍ كَثِيْرَةٍ. فَكُلُّ ضَرٍّ ثَبَتَ عِنْدَنَا  أَنَّ الصَّوْمَ يَدْفَعُهُ فَهُوَ مُرَادٌ مِنَ اْلُمَتَعَلِّقِ الْمَحْذُوْفِ…

“Alasan dihilangkannya batasan makna untuk kata junnah (perisai) seperti yang disebut dalam hadis tersebut ialah agar makna dari kata junnah ini tetap berlaku umum (ta’mim). Yang dimaksud berlaku umum ialah maknanya dapat merujuk kepada semua jenis aktitivitas berdasarkan konteksnya…sampai di sini, sabda nabi ini dapat ditafsirkan bahwa puasa merupakan perisai atau penghindar dari segala macam mudarat. Semua mudarat yang akan menimpa kita dapat dihilangkan atau ditolak dengan puasa. Inilah yang dimaksud dihilangkannya pembatasan makna junnah dalam redaksi hadis di atas .”

Baca juga: Teks Khutbah Jumat: Cinta dan kasih Islam untuk Seluruh Alam

Ibnu Asyur cenderung memperluas makna junnah ini sebagai perisai dari segala macam mudarat dan tidak membatasinya sebagai sekedar perisai yang membentengi diri kita dari godaan setan dan siksa api neraka. Ini terlalu metafisis. Melalui pemaknaan yang luas terhadap makna junnah ini, dalam perspektif Ibnu Asyur puasa mungkin saja bisa ditafsirkan sebagai perisai yang dapat menghalangi berbagai macam jenis penyakit yang dapat membahayakan tubuh kita. Penelitian dalam dunia kedokteran menunjukkan betapa dengan puasa orang dapat mencapai hidup sehat.

Ma’asyiral Muslimin Hafizhakumullah,

Ini artinya, puasa juga dapat menjadi perisai bagi tubuh untuk menolak semua gangguan kesehatan yang dapat memudaratkannya. Inilah makna hadis as-shaumu junnatun. Pandangan Ibnu Asyur ini tentu sangat menarik. Mungkin karena perspektif yang maqasidinya inilah, beliau memperluas makna junnah yang tidak sekedar benteng atau perisai dari godaan nafsu dan perisai dari siksa neraka. Puasa ialah perisai untuk semua hal yang dapat memudaratkan kita baik secara fisik maupun secara spiritual.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Jumat: Menjadikan Puasa sebagai Perisai

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه. اللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّم. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْم: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

Baca juga Khutbah Jumat yang lain di sini.