Tafsir Surat Yasin Ayat 5-6 Tentang Rasul Masa Fatrah

al-qur'an

Tafsir Surat Yasin Ayat 5-6 Tentang Rasul Masa Fatrah

Setelah bersumpah untuk menegaskan status Kerasulan Nabi Muhammad SAW pada ayat sebelumnya, ayat ke lima dan ke enam berbicara mengenai korelasi antara ajaran Nabi Muhammad SAW dengan umatnya yang hidup di masa fatrah, yaitu masa kekosongan ajaran karena jarak waktu yang cukup lama antara Nabi sebelumnya (Nabi Isa AS) menuju ke masa Nabi Muhammad SAW. Allah SWT Berfirman:

تَنْزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ () لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ

Tanzil al-‘Aziz al-Rahim. Litundzira Qauman Ma Undzira Aba‘uhum Fahum Ghafilun.

Read More

Artinya:

“(5)(Al-Qur’an adalah wahyu) yang diturunkan oleh Yang Mahaperkara, lagi Maha Pengasih. (6) Supaya engkau (Nabi Muhammad) memberi peringatan (mula-mula) kepada kaum (masyarakat Arab) yang bapak-bapak mereka (nenek moyang terdekat mereka) belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.”

Ketika menafsirkan ayat kelima, Ibnu Jarir al-Tabari berkutat pada penjelasan mengenai perbedaan cara baca (qiraat) kata tanzil apakah dibaca rafa’(dibaca: tanzilu) atau nashab (dibaca:tanzila). Menurut al-Tabari, para ahli baca al-Quran (qurra) dari Madinah dan Bashrah membacanya dengan rafa’ (tanzilu). Bila dibaca rafa’ kedudukan kata tanzildapat diposisikan dua: pertama berposisi sebagai khabar inna, maka kalimat penuhnya “innahu tanzilu al-‘aziz al-rahim”. Kedua berposisi sebagai awal kata (ibtida‘), maka kalimatnya adalah “hadza tanzil al-‘aziz al-rahim”. Adapun qurra yang berasal dari Kufah dan Syam membaca kata tanzil dengan nashab (dibaca: tanzila) karena memosisikan kata tersebut sebagai isimmashdaratau kata keterangan. Bagi al-Thabari, kedua cara baca ini sama-sama dapat dipraktikkan.

Terkait dengan tafsir ayat keenam, al-Thabari sebagaimana ia mengambil riwayat dari Yazid dari Sa’id dari Qatadah, penafsirannnya adalah bahwa Nabi Muhammad SAW diutus untuk memberi peringatan kepada kaum yang generasi sebelum-sebelumnya belum diberikan peringatan. Artinya, umat ini (masyarakat Arab) belum datang kepada mereka seorang utusan hingga datanglah Nabi Muhammad SAW.

Imam al-Qusyairi lewat Lataif al-Isyarat menafsirkan ayat ke lima dengan menjelaskan Asma al-Husna. Menurutnya, kata al-‘Azizartinya Dzat yang maha besar yang kaya (tidak butuh) ketaatan orang-orang yang taat (al-mutakabbir al-ghaniy ‘an tha’at al-muthi’in). Kata al-Rahim artinya Yang Mengapresiasi hamba-hamba-Nya, orang-orang mukmin (al-mutafadhdhil ‘ala ‘Ibadih al-Mu‘minin). Terkait dengan ayat keenam, ia menerangkan bahwa dengan ayat ini seakan Allah SWT berfirman: “Kami mengkhususkan dengan Al-Quran ini, dan Kami menurunkannya kepadamu (Muhammad) agar dengannya kamu memberikan peringatan kepada kaum yang para pendahulu mereka berada pada masa fatrah.”

Al-Zamakhsyari lewat al-Kasysyafmenambahkan kemungkinan satu cara baca kata tanzil sebagaimana telah dijelaskan di atas yaitu dibaca Jar menjadi tanzili. Menurutnya cara baca ini dapat dilakukan dengan memosisikan kata tanzil sebagai badal kata keterangan pengganti dari kata al-Qur’an pada ayat kedua wal Quran al-Hakim. Terhadap ayat keenam, al-Zamakhsyari menerangkan bahwa ayat ini sebagai penguat status Nabi sebagai pemberi peringatan sebagaimana pada ayat ke tiga (Itsbat al-Indzar).Al-Zamakhsyari memberikan keterangan tambahan terkait kata fahum ghafilun pada ayat ke enam. Ia mempertanyakan kemanakah korelasi fahum ghafilun? Menurutnya frasa tersebut berkorelasi (muta’allaq) kepada madalam kata ma undzira. Yang artinya, orang-orang itu lalai karena mereka belum diberikan peringatan (anna ‘adama indzarihim huwa sabab ghaflatihim).

Sama seperti al-Tabari dan al-Zamakhsyari, Tahir Ibnu ‘Asyur pun mengawali penafsiran atas ayat kelima dengan penjelasan cara baca kata tanzil yang uraiannya kurang lebih sama dengan apa yang dua mufassir awal telah jelaskan. Tahir Ibnu ‘Asyur menjelaskan kata tanzil disandarkan (idhafat) kepada Allah SWT melalui sifat al-‘Aziz menandakan bahwa proses turunnya wahyu al-Qur’an adalah bagian dari atsar keagungan-Nya, di dalamnya terkandung kebenaran, jalan petunjuk kepada-Nya bagi orang-orang beriman, dan juga janji serta peringatan bagi orang-orang yang melakukan maksiat dan orang-orang yang menolak ajaran-Nya. Dan melalui sifat al-Rahim yang merupakan bagian dari kasih sayang-Nya segala apa yang terkandung di dalam al-Quran adalah petunjuk dan dalil untuk mendekatkan yang jauh, dan membuka pintu-pintu kebaikan bagi orang-orang yang mencari.

Pada ayat keenam, Tahir Ibnu ‘Asyur menerangkan bahwa huruf lam dalam kata litundziraa dalah huruf yang menunjukkan alasan (li al-ta’lil) yang merujuk kepada kata tanzil pada ayat sebelumnya. Artinya alasan diturunkannya al-Qur’an adalah untuk menjadi peringatan. Kemudian mengapa ayat ini mencukupkan fungsi al-Qur’an hanya sebagai peringatan? Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa hal ini berkaitan erat dengan awal mula dakwah Nabi Muhammad SAW. Pada masa awal, dakwah Nabi adalah untuk memberikan peringatan kepada umat manusia. Hal ini sebagaimana tersurat dalam QS al-‘Alaq ayat ke enam: Kalla Inna al-Insana Layathgha(Berhati-hatilah! Sungguh manusia benar-benar melampaui batas).

Quraish Shihab dalam tafsirnya Al-Misbah menjelaskan bahwa kata al-‘Aziz yang ada pada ayat kelima, dimaksudkan sebagai penegasan bahwa kehendak Allah SWT yang menyangkut Nabi Muhammad SAW dan risalahnya pasti akan terlaksana. Menurut Quraish, arti dari Mahaperkasa adalah tidak dapat dihalangi oleh siapa pun, tidak juga disentuh kerugian karena penolakan para pembangkang. Kemudian kata al-Rahman, mengisyaratkan bahwa Allah SWT akan mencurahkan rahmat bagi yang mengikuti Nabi.

Kemudian terkait ayat ke enam, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat tersebut menerangkan leluhur orang-orang Arab ketika masa fatrah, yaitu masa di antara Nabi Isa AS dan Nabi Muhammad SAW dengan jarak sekitar lima ratus tahun. Bukan pada masa sebelumnya, karena di Jazirah Arab telah banyak diturunkan Nabi, salah satunya adalah Nabi Isma’il AS sebagai leluhur dari Nabi Muhammad SAW dan juga leluhur bangsa Arab. Menurut Quraish, ayat ini juga menunjukkan bahwa ajaran Nabi Muhammad tidak terbatas pada masyarakat Mekah saja, tetapi ditujukan kepada seluruh umat manusia. Karena pada masa itu semua masyarakat manusia membutuhkan kedatangan seorang nabi pembimbing, yang masanya telah berlalu bagi semua umat.