Tafsir Surat Al-Rahman Ayat 14-16: Proses Penciptaan Manusia dan Jin

Tafsir Surat Al-Rahman Ayat 14-16: Proses Penciptaan Manusia dan Jin

Ini penjelasan penciptaan manusia dan jin dalam surat al-Rahman ayat 14-16

Tafsir Surat Al-Rahman Ayat 14-16: Proses Penciptaan Manusia dan Jin

Setelah pada ayat-ayat sebelumnya lebih berbicara soal penciptaan langit dan bumi serta segala bentuk peraturan, pengaturan, dan keseimbangan sebagai bentuk kuasa Allah SWT, pada ayat-ayat ini akan diterangkan mengenai penciptaan manusia dan jin. Kedua makhluk ini adalah yang menjadi objek sasaran dan mitra bicara dari ayat-ayat ini. Allah SWT berfirman:

خَلَقَ الْإِنْسانَ مِنْ صَلْصالٍ كَالْفَخَّارِ (14) وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مارِجٍ مِنْ نارٍ (15) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُما تُكَذِّبانِ

khalaqa al-insaana min shalshaalin ka al-fakhkhaar. wa khalaqa al-jaanna min maarijin min naarin. fabiayyi aalaa’i Rabbikumaa tukadzdzibaan.

Artinya:

“Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar. dan dia menciptakan jin dari nyala api tanpa asap. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S al-Rahman ayat 14 – 16).

Al-Thabari menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan al-insan pada ayat di atas adalah Nabi Adam As. Menurut al-Thabari sebagai manusia pertama yang diciptakan Allah SWT, Adam dibuat dengan bahan baku tanah liat yang kering dari tanah surga. Penjelasan ini dikutip al-Thabari dari beberapa riwayat seperti riwayat Abdullah Ibnu Abbas, Ibnu Zaid, Qatadah, dan Mujahid.

Kemudian pada ayat selanjutnya al-Thabari setidaknya menampilkan beberapa penafsiran terhadap kalimat maarijin min naar. Dari jalur riwayat Ibnu ‘Abbas saja, setidaknya ada tiga makna berbeda. Pertama, kalimat tersebut bermakna api yang murni (khalish al-naar). Kedua berarti nyala api (lahb al-naar). Ketiga bermakna dan api terbaik yang sedang (ahsan al-naar wa awsathuha). Kemudian dari jalur riwayat Mujahid bermakna nyala api yang kemerah-merahan (al-lahb al-munqathi’ al-ahmar).

Sama seperti al-Thabari di atas, al-Qusyairi juga berpendapat yang dimaksud dengan al-insan pada ayat ini adalah Adam As. Kemudian terkait kata shalshaal, al-Qusyairi mengungkapkan dua alternatif makna. Pertama berarti tanah liat yang kering, ketika digerakkan akan terdengar bunyi, Kedua bermakna tanah yang telah dicampur dengan kerikil. Lalu terhadap kata maarij menurut al-Qusyairi kata tersebut berarti bara yang berasal dari dasar api.

Kata al-fakhkhaar menurut Fakhruddin al-Razi adalah bentuk hiperbolik (mubalaghah) yang dapat dipahami bahwa tanah liat yang dibakar merupakan tanah yang terpilih dan terbaik. Kemudian terkait kata al-jaann yang terdapat pada ayat berikutnya, al-Razi menerangkan bahwa kata tersebut bisa dipahami dalam dua makna. Pertama yang dimaksud dengan al-jaann adalah bapak dari segala jin. Artinya yang dimaksudkan dalam ayat adalah penciptaan jin yang pertama sebagaimana pada ayat sebelumnya yang dipahami sebagai Adam As, manusia pertama kali. Kedua, dimaksudkan dengan jin pada umumnya. Artinya kata al-jaann dan al-jinn adalah dua kata dalam satu makna yang sama.

Dalam Tafsir Kementerian Agma RI terbit tahun 2010 dijelaskan bahwa di dalam al-Quran terdapat banyak ayat yang menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari tanah, dari tanah liat, dan dalam ayat ini disebutkan tanah kering seperti tembikar. Tembikar adalah tanah liat yang dipanggang dengan bara yang panas untuk menjaga ia tetap bersatu, tidak tercecer dan hancur.

Tafsir Kementerian Agama kemudian menerangkan seperti halnya sifat tanah yang menyatu itu, dalam diri manusia mempunyai nafsu makan dan minum, nafsu kawin, nafsu marah, nafsu untuk bertahan hidup dan lain sebagainya. Kekuatan manusia seperti ini sama halnya dengan tanah liat yang telah dipanaskan dan melekat dengan kuat. Apabila manusia tidak memiliki nafsu-nafsu tadi, maka manusia tidak akan dapat mempertahankan dirinya dari bahaya dan msusuh-musuhnya. Masih dalam tafsir Kemenag, terkait ayat 15, dijelaskan bahwa berbeda degan penciptaan manusia, iblis sebagai jin pertama diciptakan dari nyala api yang bergabung dengan jenis senyawa yang lain.

Menurut Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, proses penciptaan manusia adalah bagian dari Rahmat Ilahi terhadap manusia. Hamka menerangkan bahwa sebagaimana dijelaskan pula dalam Q.S al-Sajdah ayat 7 – 8, cara penciptaan itu dilakukan Tuhan dengan cara yang terbaik, dengan sangat bagus. Hamka menilai bahwa segala yang diciptakan Allah SWT mellalui proses kejadian yang sangat indah meskipun telur ayam yang terdiri dari zat putih telur dan zat kuning, dengan indah sekali ia berproses selama 20 hari menjadi berdaging, bertulang, dan berbulu.

Dari ayat-ayat di atas, Hamka menguraikan bahwa sejak semula perbedaan kejadian manusia dan jin sangat berbeda. Yang berasal dari tanah ia menjadi bersifat material dan yang berasal dari api ia menjadi ghaib setelah menyala meski hakikatnya tetap ada.

Menurut Quraish Shihab, penciptaan manusia dalam penelitian ilmiah membuktikan bahwa tubuh manusia mengandung semua unsur yang terdapat dalam bumi. Termasuk di dalamya ada karbon, oksigen, hidrogen, fosfor, azout, kalsium, potasium, sodium, klorin, magnesium, ferum, kuprum, florin, kobalt, zink, silikokn, alumunium, dan lain lain. Mengutip Sayyid Qutb, meskipun ada kesamaan dengan segala zat itu, tidak wajar bila menyatakan inilah tafsir yang pasti dari teks al-Quran. Boleh jadi ini yang dimaksud dengan al-Quran tetapi boleh jadi juga lain.

Quraish kemudian menerangkan soal penciptaan jin yang berasal dari api. Menurutnya api adalah atom-atom atau molekul yang berada dalam fase gas, baik dalam arti memancarkan gelombang infra merah, kuning, putih atau biru, dan ultra biru. Gas ini bersifat lebih ringan daripada udara, hingga ia dapat terbang dan bergerak di udara.