Tafsir Surat Yusuf Ayat 76-77: Ketika Bunyamin Terbukti Mencuri

Tafsir Surat Yusuf Ayat 76-77: Ketika Bunyamin Terbukti Mencuri

Bunyamin akhirnya ditangkap dan dibawa kembali ke Mesir. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam surat Yusuf ayat 76-77.

Tafsir Surat Yusuf Ayat 76-77: Ketika Bunyamin Terbukti Mencuri

Prajurit Mesir yang menyusul rombongan anak-anak Nabi Ya’qub menemukan bukti bahwa salah satu anak Nabi Ya’qub mencuri. Bukti itu berupa ditemukannya barang yang dilaporkan hilang, di dalam barang bawaan Bunyamin. Bunyamin akhirnya ditangkap dan dibawa kembali ke Mesir. Allah berfirman dalam surat Yusuf ayat 76-77:

فَبَدَاَ بِاَوْعِيَتِهِمْ قَبْلَ وِعَاۤءِ اَخِيْهِ ثُمَّ اسْتَخْرَجَهَا مِنْ وِّعَاۤءِ اَخِيْهِۗ كَذٰلِكَ كِدْنَا لِيُوْسُفَۗ مَا كَانَ لِيَأْخُذَ اَخَاهُ فِيْ دِيْنِ الْمَلِكِ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ ۗنَرْفَعُ دَرَجٰتٍ مَّنْ نَّشَاۤءُۗ وَفَوْقَ كُلِّ ذِيْ عِلْمٍ عَلِيْمٌ () قَالُوْٓا اِنْ يَّسْرِقْ فَقَدْ سَرَقَ اَخٌ لَّهٗ مِنْ قَبْلُۚ فَاَسَرَّهَا يُوْسُفُ فِيْ نَفْسِهٖ وَلَمْ يُبْدِهَا لَهُمْۚ قَالَ اَنْتُمْ شَرٌّ مَّكَانًا ۚوَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا تَصِفُوْنَ

 Fabadaa biaw’iyatihim qabla wi’aa’i akhiihi tsummas takhrajahaa miw wi’aa’i akhiihi kadzaalika kidnaa liyuusufa maa kaana liya’khudza akhaahu fii diinil maliki illaa ay yasyaa allaahu narfa’u darajaatim man nasyaau wa fauqa kulli dzii ‘ilmin ‘aliim. Qaaluu iy yasriq faqad saraqa akhul lahuu ming qablu faasarrahaa yuusufu fi nafsihii walamyubdihaa lahum qaala antum syarrum makaanaw wallaahu a’lamu bimaa tashifuun.

 Artinya:

“Maka, mulailah dia (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri (Bunyamin), kemudian dia mengeluarkannya (cawan raja itu) dari karung saudaranya. Demikianlah Kami mengatur (rencana) untuk Yusuf. Dia tidak dapat menghukum saudaranya menurut hukum raja, kecuali Allah menghendakinya. Kami angkat derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada yang lebih mengetahui. Mereka (saudara-saudara Yusuf) berkata, ‘Jika dia (Bunyamin) mencuri, sungguh sebelum ini saudaranya pun (Yusuf) pernah mencuri.’ Maka Yusuf menyembunyikan (kekesalan) dalam hatinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya), ‘Kamu memiliki kedudukan lebih buruk (yakni sifat-sifat kamu). Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan.'” (Surat Yusuf ayat 76-77)

 Berhasilnya Tipu Muslihat Nabi Yusuf

Usai memberi tahu bahwa piala raja hilang dan rombongan anak-anak Nabi Ya’qub dianggap telah mencurinya, prajurit Mesir pun berusaha membuktikan tuduhan tersebut dengan memeriksa barang bawaan anak-anak Nabi Ya’qub. Dan akhirnya mereka menemukan barang yang mereka cari di dalam barang bawaan Bunyamin.

Hal itu membuat prajurit Mesir memiliki dasar untuk menahan dan membawa bunyamin kembali ke Mesir. Sebenarnya hukum yang berjalan di Mesir pada waktu itu memutuskan, seorang pencuri akan dihukum pukul dan mengganti dua kali lipat dari barang yang ia curi. Namun Nabi Yusuf tidak menggunakan hukum tersebut.

Nabi Yusuf membuat Bunyamin dihukum sesuai syariat yang diyakini oleh anak-anak Nabi Ya’qub. Yaitu orang yang ketahuan mencuri akan dijadikan budak selama dua tahun. Hal ini membuat anak-anak Nabi Ya’qub tidak bisa berbuat banyak untuk membawa Bunyamin pulang bersama mereka. Sebab selain karena Bunyamin terbukti mencuri, hukuman yang hendak ia terima juga hukuman yang sudah benar menurut syariat mereka.

Kelihaian Nabi Yusuf mengatur rencana agar Bunyamin tetap tinggal di Mesir, dengan membuat anak-anak Nabi Ya’qub tidak bisa menolak hukuman yang diterima Bunyamin, memperoleh pujian dari Allah. Allah mengangkat derajad Nabi Yusuf dan membuat dirinya lebih mengetahui tentang hukum Allah melebihi pengetahuan anak-anak Nabi Ya’qub. Maka dengan demikian, besertaan seizin Allah berhasilah rencana Nabi Yusuf untuk membuat Bunyamin tetap tinggal di Mesir.

Kebencian Kepada Nabi Yusuf

Kejadian ditangkapnya Bunyamin ini, sebagaimana dalam surat Yusuf ayat 76-77, sempat membuat anak-anak Nabi Ya’qub terdorong memperlihatkan kebencian mereka terhadap Nabi Yusuf dan Bunyamin. Yaitu dengan menyatakan bahwa bila Bunyamin mencuri, hal itu bukan sesuatu yang mengherankan. Sebab saudara kandungnya yang telah meninggal, yakni Yusuf, juga pernah mencuri.

Ucapan mereka ini menunjukkan bahwa saat ditangkapnya Bunyamin, tidak membuat mereka dengan serta merta membela Bunyamin. Namun malah seakan mencemooh Bunyamin sebagai saudara dari seorang puncuri yang tidak mengherankan juga tertular menjadi pencuri. Mengetahui ucapan tersebut, Nabi Yusuf sempat kesal. Namun ia tidak mengungkapkan kekesalannya.

Berdasar kisah-kisah yang didokumentasikan para ahli tafsir, dikisahkan bahwa Nabi Yusuf memang pernah dianggap sebagai pencuri. Cukup banyak versi tentang bagaimana kejadian Nabi Yusuf mencuri. Namun semua kisah tersebut hampir senada mengungkapkan, bahwa Nabi Yusuf sebenarnya tidaklah mencuri. Namun orang-orang disekitarnya saja yang menganggapnya sebagai pencuri.