Tabayun dan Cara Rasulullah Menggali Informasi

Tabayun dan Cara Rasulullah Menggali Informasi

Bagaimana Rasulullah bertabayun dan menjaring informasi

Di era teknologi yang terus berkembag seperti saat ini, kebutuhan terhadap informasi semakin meningkat tajam. Pemenuhan informasi bahkan telah menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia modern. Termasuk di antaranya adalah informasi terkait agama. Ada semakin banyak orang yang membutuhkan informasi seputar ajaran agung ini, dan ada semakin banyak pula orang yang muncul sambil mengaku memiliki segala informasi yang dibutuhkan.

Di sinilah, kehati-hatian diperlukan. Sebab tak sedikit orang yang mengaku ustad namun nyatanya membawa ajaran sesat. Alih-alih mengajarkan nilai-nilai ilahi, orang-orang ini justru mengajarkan untuk membenci dan memusuhi.

Karenanya selalu penting untuk membentengi diri dengan tabayyun, yakni memeriksa kebenaran dari suatu informasi yang diterima. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasul Muhammad SAW pernah melarang seorang sahabat bernama Mu’az bin Jabal yang hendak buru-buru menyebarkan sebuah hadis. Rasul khawatir hadis tersebut disalahpahami oleh masyarakat, terutama yang belum cukup ilmunya.

Read More

Hadis yang akan disebar oleh Mu’az adalah yang berbunyi, “Tidaklah (ada ketentuan kepada, red) seseorang yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, melainkan Allah mengharamkan baginya api neraka”.

Rasul khawatir hadis tersebut akan disalahartikan jika terburu-buru disebarkan kepada masyarakat.

“Wahai Rasul, tidakkah aku sebaiknya menyebarkan hadis ini kepada umat agar mereka bergembira?” tanya Mu’az tak mengerti.

“Jika demikian, maka mereka hanya akan mengandalkan hadis tersebut saja,” jawab rasul sebagaimana direkam dalam HR. Muslim.

Beberapa ulama menjelaskan maksud jawaban rasul ini dengan menyebut bahwa rasul khawatir umat hanya akan mengandalkan kesaksian terhadap ketuhanan Allah dan kerasulan Muhammad saja sebagai satu-satunya bekal untuk terhindar dari api neraka, lalu mereka mengabaikan ibadah dan berbuat baik.

Kisah di atas mengajarkan pentingnya melakukan tabayyun, bukan saja terhadap kebenaran sebuah informasi, tetapi juga kesiapan orang yang akan menerima informasi tersebut. Bagi orang-orang yang belum cukup matang keilmuannya, sesuatu yang sederhana justru dapat menjadi awal dari bencana. Itu sebabnya, Sayyidina Ali pernah berkata, “andai orang yang tak berilmu mau diam sejenak, niscaya gugur perselisihan yang banyak.”
Untuk informasi yang baik saja, rasul memberi teladan agar kita tetap berhati-hati untuk menyebarkannya, apalagi untuk informasi yang belum tentu baik.

Untuk ini, rasul telah memperingatkan, “Janganlah kamu menceritakan sesuatu kepada suatu kaum sedang akal mereka tidak mampu menerimanya. Karena cerita tersebut (justru dapat) menimbulkan fitnah pada sebagian dari mereka.” (HR. Muslim).

Sementara untuk pencari ilmu, biasakan untuk konfirmasi tiap kali mendapat informasi. Pahami dan resapi makna dari informasi yang diterima sebelum diteruskan kepada banyak orang lainnya. Tak semua informasi yang diterima layak atau boleh disebarkan, beberapa ulama bahkan mengharamkan perilaku yang demikian.

Ada tiga saring yang perlu diberlakukan pada setiap informasi yang diterima, yakni: benar, baik dan bermanfaat. Apakah informasi yang diterima benar? Apakah informasi yang diterima (walaupun ternyata benar) baik untuk disebarkan? Dan terakhir, apakah informasi tersebut bermanfaat untuk kebaikan?

Jika informasi tak lolos di tiga saring tersebut, sudahlah. Tak usah di-sharing.
“Cukuplah seseorang itu dinyatakan berbohong jika dia menceritakan semua yang ia dengar” (HR. Muslim), demikian ungkap rasul. Saya kira, dengan ungkapan itu rasul sedang menyindir kebiasaan sebagian dari kita yang gemar terburu-buru menyebarkan informasi yang baru saja didapat, tanpa melakukan tabayyun terlebih dahulu, tanpa melakukan saring terlebih dulu. Serba terburu-buru.

Mencari informasi memang kebutuhan pokok, namun tanpa disertai tabayyun, Anda justru bisa terperosok. Tetaplah tabayyun agar tidak manyun. Mencari ilmu butuh kesabaran dan ketekunan, tak bisa selalu instan. Pilih pula guru yang bijaksana lagi arif, bukan yang tampak garang namun ternyata tak bisa tasrif.