Ngobrol dengan Mbok-mbok Pasar Tradisional, Apa Kata Mereka tentang Wabah dan Kiamat?

Ngobrol dengan Mbok-mbok Pasar Tradisional, Apa Kata Mereka tentang Wabah dan Kiamat?

Di tengah wabah dan isu kiamat, Mbok-mbok Pasar masih bisa bercanda: “Kalau meteornya jatuh, mau di pasar atau di rumah, kita tetap kejatuhan to?”

Ngobrol dengan Mbok-mbok Pasar Tradisional, Apa Kata Mereka tentang Wabah dan Kiamat?

Saya tetap berkegiatan di pasar tradisional sebagaimana hari-hari sebelum pandemi Corona datang. Begitu juga kawan, saudara, tetangga saya dari lereng gunung Sumbing yang sudah menahun menjadi pemasok utama sejumlah sayur mayur di sejumlah kota di Jawa. Andai kebijakan lockdown diterapkan, saya membayangkan bakal terjadi kelangkaan barang & naiknya harga sejumlah bahan kebutuhan pokok. Beruntung hal itu tidak terjadi, meski risiko terpapar virus atau setidaknya menjadi carrier virus sangat mungkin terjadi pada kami, orang-orang pasar.

Harga kebutuhan pokok menurun secara perlahan. Bawang Bombay, misal, yang sebelumnya mencapai 150ribu/kg sekarang terjun bebas di kisaran angka 17ribu/kg. Harga cabe, baik rawit merah, kriting merah, dan hijau, harganya dalam dua pekan ini tidak pernah merangkak naik di atas 20ribu rupiah. Harga terendah setidaknya dalam satu tahun terakhir. Mandegnya sejumlah lini usaha seperti kuliner, perhotelan, dan pariwisata menjadi sebab utama turunnya permintaan sayuran & bahan produksi lainnya. Hampir seluruh mitra saya seperti penyetan, resto, dan kafe, menutup usaha mereka dalam dua bulan terakhir.

Beruntung, saya sudah memiliki akun Instagram yang sangat membantu memasarkan aneka sayuran secara daring. Kebijakan WFH, secara tidak langsung, meningkatkan permintaan sayuran untuk kebutuhan pribadi atau keluarga. Dalam satu bulan terakhir, sekadar berbagi cerita, ada sekitar 100 orang yang belanja melalui akun Instagram itu & 70%nya melakukan repeat order.

Satu Minggu yang lalu, saya menyempatkan diri untuk sholat di masjid yang terletak di pasar. Dan…. di luar dugaan, ternyata shaf masjid itu penuh baik jamaah lelaki maupun perempuan. Semangat Ramadhan mungkin menjadi pemantik ramainya masjid itu. Tapi, apakah mereka tidak menghiraukan anjuran PSBB? Wallahu alam.

Atau, kesadaran PSBB hanya dilakukan oleh kalangan menengah atas saja dan tidak berlaku untuk para pekerja di pasar seperti saya? Ah, enggak juga. Lihat saja kerumunan kelas menengah ngehek Jakarta yang menangisi tutupnya McD Sarinah itu, padahal pemerintah DKI Jakarta sudah menetapkan PSBB.

Bodoh memang tidak kenal batas kelas, kota atau desa.

Sudah kena wabah, isu tentang akan jatuhnya meteor pada pertengahan Ramadhan juga ikut bikin rusuh orang-orang di pasar. Pada hari ke 14 Ramadhan, isu itu menyebar. Banyak pedagang yang menyatakan akan meliburkan diri pada pertengahan Ramadhan. Benar saja, pada hari berikutnya, banyak pedagang yang libur & beberapa item sayuran pun mengalami lonjakan harga.

“Lha, kalau meteornya jatuh di Jogja kan kita mau di pasar atau berdiam di rumah sama aja tetap kejatuhan to, Mas?” Hahaha. Canda seorang Mbok-mbok pedagang di depan lapaknya.

Lah, bener juga.

Karena sampai pagi meteor tak kunjung jatuh, berita baru pun beredar: nggak jadi jatuh di sini, tapi tidak tahu di mana. Bhaaaaa!

“Duh, Gusti!” batin saya. Betapa mudahnya masyarakat kita termakan berita tidak berdasar seperti itu. Siapa coba yang diuntungkan dalam kasus ini kecuali para Youtuber berbaju pendakwah itu. Ehh! Konon, pendakwah yang gencar mewartakan dukhan itu juga merevisi pendapatnya karena hadisnya dhaif setelah diteliti lagi. Waduh! Ingin berkata kasar tapi kok puasa.

Membincang tentang isu meteor jatuh, dukhan, dan terjadinya Kiamat, kalau kita flashback sejenak, nampaknya isu semacam itu menjadi satu paket kabar burung yang selalu hadir dalam kondisi krisis seperti saat ini.

Sewaktu masih kecil, saya pernah mengalami isu datangnya kiamat yang dikabarkan terjadi pada tanggal 9 bulan sembilan tahun 1999 jam sembilan. Bahkan, saya dan anak-anak dusun lainnya memutuskan untuk tidak berangkat sekolah. Isu kiamat juga pernah tersebar pada tahun 2012 lalu. Ya, krisis nampaknya selalu disertai kabar-kabar langit semacam ini, termasuk turunnya Nabi Isa, Dajjal, dan hadirnya Nabi-nabi baru.

Dengan melihat pola yang hampir sama seperti itu, harusnya kita bisa mengambil kesimpulan bahwa hal itu hanya berita sesat belaka! Tidak pergi ke pasar, tidak berangkat sekolah, dan berdiam diri di rumah gara-gara termakan isu semacam itu tentu menjadi pilihan sikap yang tidak tepat.

Roda ekonomi di pasar tradisional tetap berjalan. Meski begitu, sebagian besar hanya sekadar untuk bertahan. Paling tidak dengan tetap melakukan transaksi jual beli, meski sedikit, hal itu bisa memastikan asap dapur para pedagang tetap mengepul, tidak lebih dari itu.

Sebagaimana karakter masyarakat Indonesia pada umumnya, orang-orang pasar juga pandai menerima keadaan & tersenyum di tengah himpitan kesulitan ekonomi. Perkara cicilan ke bank & kredit mobil atau motor biarlah itu menjadi rahasia pribadi masing-masing. Tidak perlu diumbar. Begitu kira-kira.

Namun, jika hal ini terjadi berkepanjangan, tentu akan memiliki efek yang tidak sederhana. Jika harga terus berada di level terendah, para petani juga akan malas untuk berproduksi. Akibatnya, harga bahan kebutuhan pokok pun akan merangkak naik karena angka panen yang sedikit. Para pencuri lalu membabat aneka sayuran di sawah-sawah penduduk seperti yang sering terjadi di daerah pedesaan. Angka kriminalitas akan naik. Jalanan malam yang selalu dilewati para pedagang dari desa lereng gunung Sumbing ke kota, seperti saudara dan tetangga saya, tidak akan lagi menjadi tempat yang aman: Begal merajalela. Tentu, kita tidak menginginkan hal seperti ini terjadi.

Semoga pandemi ini segera berlalu & roda ekonomi kembali menggeliat!