Ini Lima Manfaat Puasa

Ilustrasi puasa. (foto: healthline)

Ini Lima Manfaat Puasa

Puasa memiliki banyak manfaat dan keutamaan. Manfaat puasa itu disebut dalam al-Qur’an, hadis, dan juga dapat dirasakan secara langsung. Setidaknya ada lima manfaat yang diperoleh bagi orang yang mengerjakan puasa. Kelima manfaat itu sebagai berikut:

Pertama, membentuk manusia yang bertaqwa, sebagaimana firman Allah SWT:

يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ آ مَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Read More

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan berpuasa atas orang-orang sebelum kamu sekalian agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah : 183)

Kedua, sebagai benteng atau perisai dari segala macam tipu daya syaitan. Rasul bersabda:

الصَّوْمُ جُنَّةٌ , فَإِذَ ا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ اَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ, وَإِذَا سَابَّهُ اَوْ قَاتَلَهُ اَحَدٌ فَلْيَقُلْ إِنِّيْ صَائِمٌ

Artinya:

“Puasa itu perisai, maka apabila salah seorang dari kamu sedang berpuasa, janganlah berkata kotor dan berbuat tolol, dan apabila ada seseorang yang mencacinya dan mengajaknya berselisih, hendaklah ia berkata, Sesungguhnya aku berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, disediakan surga Royyan bagi orang-orang yang berpuasa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

إِنَّ لِلْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ : اَلرَّيَّانُ. يُقَالُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اَيْنَ الصَّائِمُوْنَ ؟ فَإِذَا دَخَلَ آخِرُهُمْ أُغْلِقَ ذَلِكَ الْبَابُ

Artinya:

“Sesungguhnya surga itu mempunyai pintuyang disebut Royyan. Dipanggil pada hari kiamat. Hai mana orang-orang yang berpuasa? Lalu bila orang yang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintu itu pun ditutup kembali.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keempat, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT:

وَءَا تَىكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُ وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللَّهِ لاَ تُحْصُوْهَا إنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ

Artinya:

“Dan jika engkau menghitung-hitung nikmat Allah, tidaklah engkau dapat menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)

Kelima, melatih manusia memiliki sifat khasyyah (takut) kepada Allah, baik secara rahasia, maupun terang-terangan, karena tiada yang mengawasi orang yang berpuasa itu kecuali Allah.