Khutbah Jum’at: Memahami Makna Takwa dalam Surat Al-Baqarah ayat 183

Khutbah Jum’at: Memahami Makna Takwa dalam Surat Al-Baqarah ayat 183

Tujuan puasa adalah untuk membersihkan dan melatih hati manusia. Puasa ditujukan untuk membersihkan masing-masing hati individu, dimulai dari hati yang bersih itu tatanan masyarakat yang baik akan terbentuk.

Khutbah Jum’at: Memahami Makna Takwa dalam Surat Al-Baqarah ayat 183

Puasa ditujukan untuk membersihkan masing-masing hati individu, dimulai dari hati yang bersih itu tatanan masyarakat yang baik akan terbentuk.

Khutbah I

ألحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، اَلْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآن يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ :

Kaum muslimin yang dirahmati Allah

Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan kepada kita semua untuk berpuasa. Semoga kita terus diberikan kesehatan sampai akhir Bulan, sehingga dapat mengerjakan ibadah Ramadhan secara maksimal.

Ibnu Asyur dalam Tahrir wa al-Tanwir, sebuah karya tafsir yang sangat monumental, menjelaskan tujuan puasa adalah untuk membersihkan dan melatih hati manusia. Puasa ditujukan untuk membersihkan masing-masing hati individu, dimulai dari hati yang bersih itu tatanan masyarakat yang baik akan terbentuk.

Artinya, mustahil masyarakat yang baik terwujud tanpa dimulai dari memperbaiki diri manusia masing-masing. Kalau setiap individu sudah memiliki hati yang baik, dengan sendirinya tatanan sosial yang baik juga akan terbentuk.

Perihal ini dijelaskan Ibnu Asyur pada saat menjelaskan surat al-Baqarah ayat 183:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS: Al-Baqarah ayat 183)

Kaum muslimin yang dirahmati Allah

Melalui surat al-Baqarah ayat 183 tersebut, dapat dipahami juga bahwa puasa sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru bagi masyarakat Arab. Sebelum Islam mewajibkan puasa, mereka sudah mengenalnya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Ibnu Abbas:

لَمّا هاجَرَ رَسُولُ اللَّهِ إلى المَدِينَةِ وجَدَ اليَهُودَ يَصُومُونَ في يَوْمِ عاشُوراءَ، فَقالَ: ما هَذا ؟ فَقالُوا: يَوْمٌ نَجّى اللَّهُ فِيهِ مُوسى، فَنَحْنُ نَصُومُهُ، فَقالَ رَسُولُ اللَّهِ: نَحْنُ أحَقُّ بِمُوسى مِنكم فَصامَهُ وأمَرَ بِصَوْمِهِ

Artinya:

“Ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, beliau bertemu dengan orang Yahudi yang sedang puasa Asyura. Rasulullah bertanya, kenapa kamu puasa? Ini hari Allah menyelematkan Nabi Musa, makanya kami puasa. “Kalau begitu, kami lebih berhak atas Musa dibanding kalian.”Jawab Rasulullah. Sehingga beliau puasa dan memerintahkan puasa Asyura.”

Akan tetapi, ketika perintah puasa Ramadhan turun, hukum puasa Asyura berubah menjadi sunnah. Rasulullah bersabda:

مَن شاءَ صامَ يَوْمَ عاشُوراءَ ومَن شاءَ لَمْ يَصُمْهُ

Artinya:

“Siapa yang mau silahkan puasa pada hari Asyura, kalau tidak puasa juga tidak apa-apa.”

Kaum muslimin yang dirahmati Allah

Sekalipun puasa sudah dikenal, tetapi Islam mempertegas kewajiban puasa untuk umat Islam. Kenapa ini perlu dipertegas, tujuannya untuk menunjukkan bahwa puasa itu sangat bermanfaat dan memiliki hikmah yang besar bagi umat Islam.

Sebagaimana disebutkan di awal, tujuan besarnya adalah untuk menjadi orang yang bertakwa, la’allakum tattaqun. Inti dari takwa adalah menjauhi maksiat. Menurut Ibnu Asyur, maksiat ada dua macam. Pertama, maksiat yang bisa ditinggalkan dengan cara merenungi, dinasehati, atau diberi hukuman, seperti mabuk, judi, mencuri, dan lain-lain. Tapi ada juga maksiat yang tidak bisa hilang atau susah ditinggalkan dengan cara berpikir, dinasehati, atau dihukum, contohnya seperti iri, sombong, dengki, riya, dan penyakit hati lainnya.

Dengan adanya puasa, harapannya hati kita dibersihkan dari segala kotoran dan penyakit, sehingga dorongan hawa nafsu lebih mudah untuk dikendalikan.

Menurut Abu Laits al-Samarqandi dalam Tanbihul Ghafilin, setidaknya terdapat   tujuh tanda atau ciri-ciri orang bertakwa sebagai berikut:

Pertama, lisannya tidak pernah digunakan untuk berkata bohong dan gunjing. Lisannya fokus dzikir, baca qur’an, diskusi ilmu, dan hal baik lainnya.

Kedua, tidak masuk ke dalam perutnya kecuali makanan yang halal dan baik, dan meskipun makanan halal mereka mengosumsi secukupnya dan tidak berlebihan

Ketiga, pandangannya tidak digunakan untuk melihat sesuatu yang haram. Pandangannya digunakan untuk mengambil hikmah dari apa yang terjadi di dunia.

Keempat, tangannya tidak digunakan untuk yang diharamkan.

Kelima, kaki dan langkahnya digunakan untuk sesuatu yang baik dan bukan untuk maksiat.

Keenam, hatinya tidak dipenuhi rasa kebencian dan permusahaan.

Ketujuh, taat kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan tidak takut kepada Allah karena untuk riya dan ingin dilihat orang lain.

Demikianlah tujuh tanda orang yang takut kepada Allah, semoga kita termasuk bagian dari orang yang memiliki rasa takut kepada Allah.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ