Evie Effendi Lagi, Mengapa Kembali Terulang?

Evie Effendi Lagi, Mengapa Kembali Terulang?

Dear Ustadz Evie Effendi, Islam kok hanya berisi bid’ah, ya? Apa ndak capek atuh?

Evie Effendi Lagi, Mengapa Kembali Terulang?

Evie Effendi adalah anak muda yang brilian. Usianya belumlah seberapa. Tapi ia seorang bintang. Di panggung-panggung ceramah khas hijrah yang sedang berderai-derai, kawula muda sesak ramai.

Ia didengarkan oleh audiens yang ruah limpah. Dinantikan, ditunggu, dan dielukan. Sudah pasti, ia digugu dan ditiru. Sudah pasti, banyak sekali generasi sebayanya, di bawahnya, kaum muslim/muslimah urban-hijrah yang menjadikan Evie Effendi sebagai suri teladan.

Saya ingat benar, dulu anak muda ini dengan gegabah mengatakan dalam ceramahnya bahwa Rasulullah Saw pernah hidup dalam kesesatan. Narasi-narasi rasional dijabarkannya. Sayang seribu sayang, semua narasinya tak lebih dari kecerobohan khas anak muda saja. Sekaligus cermin bagi kurang ilmunya. Andai, misal, ia membaca dulu tafsir Fakhrurrazi, Ibnu Katsir, hingga At-Thabathaba’i, dan Ibnu Asyur perihal siapa abun Azar yang berbicara dengan Nabi Ibrahim As, ia akan mendapatkan banyak keterangan luas perihal sulbi shalih Rasulullah Saw. Para ulama mufassir itu tak ada yang mengatakan sebagaimana yang dikatakan anak muda bernama Evie Efendi itu, lho.

Tanpa terbendung, ontran-ontran meletus. Tentu saja. Betapa repotnya ia mesti menerima hujatan dari kaum muslim sesaudaranya, dipanggil ke lembaga ini dan itu, untuk diklarifikasi. Ia pun meminta maaf.

Baiklah, semua orang pernah melakukan kecerobohan, sebagaimana saya, juga Anda. Salah boleh saja, ceroboh bisa diterima, sebagai pembelajaran hidup menuju kedewasaan yang ditandai dengan kerendahan hati.

Sayangnya, barusan ini, Evie Effendi kembali memicu ontran-ontran. Sudah bisa diterka, sesuai afiliasi pemahaman berislamnya kepada Wahabi, bid’ah pun menjadi menu kesukaannya. Segala ceruk yang beraras begitu, ditakiknya dan diangkat ke permukaan dalam perayaan-peryaaan –apa lagi—salah dan sesat. Khazanah literaturnya tentu saja adalah Syekh Albani, Syekh Utsaimin, dan Syekh Bin Baz saja.

Khazanah Imam Syafii, tentu kedap dari radarnya. Penerusnya macam Imam Ghazali, Imam Syatibi, hingga Ibnu ‘Asyur, apalagi Prof. Quraish Shihab dan Buya Husein Muhammad, jelas sama sekali tidak.

Walhasil, pada tataran begini saja, kita bisa memahami beragam narasinya akan sewarna selalu dengan posisi “ideologisnya”: yang benar yang sana saja, yang lainnya tidak. Serupa dengan seorang penganut kapitalisme yang akan berkhutbah bahwa segala yang datang dari sosialisme adalah keluputuan, bukan?

Ini jika diandaikan ia memiliki khazanah literatur dan pembelajaran seluas itu, hingga tahulah –walau tak diambilnya—pandangan Imam Syafii perihal urgensi bahasa Arab dalam menafsirkan dalil, pandangan Imam Ghazali perihal urgensi ilmu logika (mantiq), hingga pandangan Ibnu Asyur perihal maqashidus syariat.

Tentu masalahnya akan lebih mendalam lagi bila khazanah keilmuannya hanya di situ saja, tak ke mana-mana, tak sebarisan dengan jadwal manggungnya. Bid’ah lagi, bid’ah lagi, dan bid’ah lagi. Bahkan sudah bagai siklus rutin perayaan Hari Besar Nasional; usai membid’ahkan nisfu sya’ban, lanjut ke padusan, terus ke syawalan, lanjut ke mauludan, asyura, dan sebagainya. Belum lagi agenda mengharamkan Natalan, tahun baru, Velentinan, hari Kartini, dan sebagainya.

Islam kok hanya berisi bid’ah, ya? Apa ndak capek atuh?

Faktanya, secara literatur, hadis bid’ah ya itu-itu saja; hadis perihal Rasul Saw mengakomidir pelbagai pendapat para sahabatnya dan kelaziman adat yang ada dalam masyarakat, ya juga ada. Belum lagi atsar sahabat, ya banyak sekali. Apalagi qaul ulama.

Imam Malik, misal, mengesahkan shalat Jum’at berjamaah di luar kota–tidak sebagaimana Rasul Saw yang senantiasa menjalankan shalat Jumat di masjidnya di kota—walau tak sampai 40 orang. Itu bid’ah, ya? Apalagi Abu Hanifah dengan pretensi qiyas dan istihsan-nya yang luar biasa luas. Imam Syafii? Apalagi. Imam Ahmad bin Hanbal yang menolak ujaran pengikutnya sebagai mufti yang paling tsiqah dan benar, ya ada. Ibnu Taimiyah mengatakan syaikhuna kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang ahli makrifat, ya ada.

Al-Qur’an dan hadis, al-Quran dan hadis, al-Qur’an dan hadis. Kembali hanya kepada keduanya. Selalu begitu diktumnya. Tentu saja saya sepakat, keduanya merupakan rujukan terbenar, tersempurna, datang dari Allah Swt dan RasulNya Saw.

Tapi saya tak sepakat untuk serentak semua orang begitu saja kembali kepada al-Qur’an dan sunnah dalam artian membaca teksnya lalu memutuskan hukumnya dengan meninggalkan khazanah ilmu dan fatwa para ulama pendahulu. Mengapa?

Sederhana saja, keduanya juga memerlukan penafsiran yang bertanggung jawab secara ilmu ilmiah, hingga lahir pemahaman, pendapat, mazhab, hingga terus ke kita jadi Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, dan Hanabilah.

Hadis itu jumlahnya amatlah tak terbatas. Wallahu a’lam. Bukan hanya satu dua biji soal bid’ah dalalah itu. Amat boleh jadi, satu hadis dalam shahih Bukhari, juga dikandung dalam shahih Tirmidzi, atau sebaliknya, bahkan dengan redaksi yang berbeda, yang amat memungkinkan melahirkan ragam pemahaman dan pendapat.

Kitab hadis Riyadhus Shalihin yang tebal itu, yang terjemahnnya sudah berlimpah ruah itu, hanyalah segelintir dari khazanah hadis yang dimuat dalam, misal, Kutubus Sittah yang dijadikan rujukan sahih oleh ahlus sunnah wal jamaah. Bukankah lantas juga masih ada Kutubut Tis’ah? Di mana posisi kitab hadis dari Al-Hakim, misalnya?

Coba cermati informasi ini. Kitab hadis Kutubus Sittah–ini diamini jumhur ahlus sunnah— memiliki ketebalan begini: Imam Bukhari (1.456 halaman), Imam Muslim (1.200 halaman), Ibnu Majah (1.161 halaman),  Imam Nasa’i (982 halaman), Abu Dawud (877 halaman), dan Imam Tirmidzi (1.663 halaman). Pernahkah kita membaca semuanya, apalagi memahaminya, dan menghafalnya? Apalagi mengetahui ikmu munasabahnya? Ah, berat sekali….

Lantas, atas dasar logika macam apakah kita berani menegasi kandungan tebal kitab hadis sahih itu atas dasar satu link, satu buku, satu keterangan sepintas?

Betapa cerobohnya kita, ya?

Ilmu kita kini sungguhlah benar-benar terbatas. Apa yang kita asup dari bacaan atau tuturan seorang guru, amat terbuka kemungkinannya untuk hanya menjadi satu bagian dari samudra keilmuan dalil itu sendiri, apalagi khazanah tafsirnya. Dengan kata lain, keluasan tidak tahunya kita kepada khazanah dalil naqli saja amatlah jauh lebih luas tak terbatas dibanding yang bisa kita akses –apalagi jika Anda tidak memiliki latar pendidikan kepesantrenan dan studi Islam yang lama dan mendalam.

Apa-apa yang tidak kita ketahui mestinya selalu kita pandang bukannya pasti tidak ada. Amat mungkin ada. Apa-apa yang tidak kita setujui amat boleh jadi disebabkan oleh sempitnya jelajah keilmuan kita saja. Apa-apa yang dikatakan begini atau begitu dalam suatu riwayat amatlah mungkin mengandung pengertian sebaliknya dalam riwayat-riwayat lain yang juga sama derajatnya.

Apalagi sekadar mengandalkan ilmu diri ini….

Evie Efendi –dan siapa pun kemudian, juga tentunya saya—amatlah penting untuk senantiasa menyadari samudra ilmu ini. Pengertian begini akan menghantar diri untuk bisa berendah hati, ber-wira’i, hingga tak lagi gegabah dan ceroboh mengatakan begini begitu perihal hukum Islam sembari menegasi pendapat hukum dari kalangan sekalinnya yang tak terbatas luasnya, apalagi perihal dalil-dalil naqli.

Nukilah ayat yang dideraikan Evie Effendi pun (wala taqfu ma laisa laka bihi ilmun, dan janganlah engkau mengatakan apa yang tidak ada keilmuan pada dirimu) hendaknya selalu kita pegang bersama, dan diamalkan dalam wujud kewara’an. Wara’ meniscayakan rendah hati, kehati-hatian, tidak gegabah mengatakan haram, salah, sesat kepada suatu pendapat hukum atas dasar tahunya sendiri belaka. Wara’ ini, dengan kata lain, seyogianya selalu menyala di hati para penceramah, influencer, dan ia sekaligus menjadi cermin bagi kedalaman keilmuannya.

Mari jangan hanya memuja “katakanlah hal yang haq walau pahit”, tetapi seyogianya juga diketahui dan diingat bahwa “jikalau sesuatu yang haq telah dikuasai hawa nafsu, maka sungguh akan rusaklah langit dan bumi beserta segala yang ada di dalamnya” (QS. Al-Mu’minun 71).

Terlihat, ya, betapa dalil, apalagi tafsir, tak berdiri di atas satu kaki belaka; ia bisa luas, seluasnya, sejalan seiring dengan makin luas dan mendalamnya wawasan kita.

Selagi Evie Effendi muda usia begitu, ada baiknya untuk mengerem-ngerem diri dari manggung dan mengatakan hal-hal yang kurang dikuasainya atau rawan memicu ontran-ontran. Tak semua hal kudu dikatakan blak-blakan. Fiqh, fatwa, amat mungkin benar pada dirinya sendiri, tetapi bisa jadi masalah dan kesalahan bila dijalankan tidak dengan cara yag makruf.

Makruf itu bersumber dari hati yang bijaksana dan ilmu yang mendalam, Kang….

BACA JUGA Dear Pendakwah, Jangan Keburu Ceramah Sebelum “Usai Shalatmu” atau Artikel-artikel Menarik Lainnya di Sini