Ciri Islam Ramah Ala Rasulullah SAW

Ciri Islam Ramah Ala Rasulullah SAW

Ciri Islam Ramah Ala Rasulullah SAW
ilustrasi

Islam mengajarkan agar setiap pemeluknya tidak menjadi malapetaka bagi sekitarnya. Bukan hanya dalam tataran ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat islam) saja. lebih dari itu, Islam juga mengajarkan agar berbelas kasih memanggungkan sikap kerahmatannya pada tataran ukhuwwah basyariyyah (persaudaraan sesama manusia).

Mengenai ajaran berbuat baik kepada sesama umat Islam, Nabi Saw berpesan :

عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ الله أَيُّ الإِسْلَامِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ.

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Jabir radiyallahu anhu, dikatakan, “Wahai Rasulullah, Islam bagaimanakah yang paling utama?” Rasulullah menjawab, “(Yaitu) mereka yang umat Islam yang lain selamat dari tutur kata dan tindak perbuatannya.” (HR. Tirmidzi)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa umat Islam antara satu dengan lainnya ibarat satu tubuh. Jika satu anggota merasa sakit maka yang lain akan merasakan sakit pula.

Sebagaimana disabdakan Nabi Saw,

عن النُّعْمانِ بْنِ بَشِيرٍ يقولُ: قالَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم -:”تَرَى المؤْمِنينَ في تَراحُمِهِم، وَتَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِم، كَمَثَلِ الجَسَدِ، إِذا اشْتَكَى عُضْواً؛ تَدَاعَى لَهُ سائِرُ جَسَدِهِ بالسّهَرِ والحُمَّى”.(رواه البخارى)

Nu’man bin Basyir berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari)

Dari kedua hadis di atas maka jelas sekali bahwa ajaran Islam tidak melegalkan perbuatan zalim kepada sesama umat Islam serta menjunjung tinggi hak penghormatan dari saudara sesamanya. Belakangan ada sedikit pergeseran pemahaman yang dipersepsikan sebagian golongan umat Islam, Alih-alih ingin menjadi Islam Paling Baik, mereka malah menebar kegelisahan di masyarakat sekitar.

Hal ini yang perlu diluruskan. Keseharian Nabi Saw kepada sesama umat Islam yang diabadikan dalam literatur sunnah merupakan contoh terbaik kita dalam bermasyarakat dan bersosial.

Kemudian, sebagaimana kita dianjurkan untuk berbuat baik kepada sesama umat Islam, kita juga diperintah untuk menebar rahmat kepada non-Muslim. Hal demikian tersirat dari firman Allah berikut,

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Hujurat : 13)

Ajakan untuk saling mengenal tentu tidak pantas diterjemahkan dengan aksi unjuk pedang dan lempar meriam. Berkenalan harus dibangun dengan langkah dialog dan semangat kebersamaan.

Dalam berbagai literatur Islam ditunjukkan bagaimana interaksi Nabi Saw dengan masyarakat Arab yang saat itu dihuni oleh agama ahlul kitab: Yahudi dan Nasrani. Rasulullah Saw pernah berniaga dengan orang Yahudi. Saat itu Rasul menggadaikan perisainya sebelum wafat. Rasulullah Saw juga pernah menyuapi tua renta Yahudi, bahkan Rasulullah memiliki mertua Yahudi dan paman seorang penyembah berhala. Beberapa hal tersebut adalah sepenggal contoh kisah Rasulullah Saw dalam kehidupannya yang menjalankan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia).

Sebagai sesama manusia ciptaan Tuhan, kita diajarkan untuk saling menghargai dan menghormati, tentu dalam batas-batas yang sudah ditentukan oleh agama. Berbeda jika kita memang secara nyata disakiti oleh umat non-Islam.

Allah berfirman

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. “(Mumtahanah : 8) 

Dalam konteks keindonesiaan hubungan antara Islam dan Non-Islam adalah hubungan perdamaian (fil amni). Masyarakat Indonesia yang majemuk menuntut toleransi yang sehat dan etika bersosial yang matang. Sebagai negara hukum yang memiliki badan khusus menanggulangi permasalahan sebaiknya segala perbedaan diselesaikan dengan cara yang dibenarkan undang-undang.

Insiden penyerangan yang terjadi di Kampung Melayu pada Rabu 24 Mei 2017 yang menewaskan 5 orang (2 pelaku bom bunuh diri dan 3 polisi yang tengah bertugas) dan melukai belasan orang lainnya merupakan kecelakaan bersosial kita yang cukup memalukan.

Serangan yang menurut Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian berasal dari Jamaah Ansarut Daulah (JAD) atau bagian dari IS (Islamic State) ini telah mencoreng eksistensi demokrasi di negeri kita tercinta. Dengan tidak langsung fenomena ini juga mengusik slogan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Dan tentunya hal itu tidak sesuai dengan ajaran Islam yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Hal ini tentu diperlukan kesadaran untuk mempelajari Islam secara kaffah, apalagi bagi orang-orang yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap Islam. Mengkaji al-Qur’an dan Hadis dengan segala perangkat cara memahaminya dengan benar serta kepada guru yang tepat merupakan solusi bijak mewujudkan Islam yang rahmat buat semesta alam. Yakni Islam yang berbunga, Islam yang mampu melahirkan keharmonisan persaudaraan di seluruh dunia.