Catatan untuk Haikal Hassan yang Pakai Retorika Agama untuk Tujuan Politik

Catatan untuk Haikal Hassan yang Pakai Retorika Agama untuk Tujuan Politik

Haikal Hassan kerap memakai agama tapi enggan dibilang politisasi agama, padahal ia jurkam politik

Haikal Hassan atau yang lebih populer dikenal sebagai “Babe” oleh para pengikutnya ini, beberapa tahun belakangan, terutama sejak agenda Aksi Bela Islam (ABI) pada tahun 2016 lalu, memiliki posisi penting dalam arus politisasi agama yang marak belakangan ini. Ia seringkali melakukan propaganda media sosial yang provokatif dan bias obyektifitas. Ia dalam konteks politisasi agama berposisi sebagai pembakar emosi untuk membangkitkan kaum muslim dengan narsi-narasi berlabel agama yang ujung-ujungnya adalah politik partisan, dukung mendukung capres.

Babe merupakan sosok penting yang mengorganisir kegiatan Aksi Bela yang berjilid-jilid tersebut. Mulai Aksi Bela Islam, Aksi Bela Tauhid, Aksi Bela Ulama, hingga kegiatan Reuni Aksi Bela Islam. Sosok ini merupakan salah satu orang dekat dan kepercayaan Habib Rizieq Syihab.

Dalam penelitian Wahyudi Akmaliyah yang berjudul Bukan Sekedar Panggung (Buzzer): Media Sosial dan Transformasi Arena Politik (2018) di Jurnal Ma’arif Institute menjelaskan bahwa munculnya media sosial yang diikuti dengan bergesernya struktur media membawa dampak terhadap kemunculan otoritas-otoritas baru. Dan Babe, barangkali adalah sosok yang lahir sebagai otoritas baru dalam konteks yang demikian itu.

Read More

Kelahiran sosok seperti Babe ini adalah trend keagamaan di Indonesia belakangan ini. Ada sederet sosok lain yang lahir berbarengan dengan Babe. Di antara mereka ada seperti Ustadz Abdul Somat, Felix Siaw, Khalid Basalamah dan yang paling kontroversial adalah Bahar bin Smith dan Sugik Nur.

Ororitas keagamaan baru yang lahir di era media sosial tersebut berbarengan dengan fenomena “matinya kepakaran” (the deadh of expertise) dalam beragama, sebagaimana yang belakangan disinggung oleh Buya Syafi’i Ma’arif. Di era media sosial seperti saat ini, untuk menjadi otoritas keagamaan tidak mengharuskan kualifikasi pendidikan agama yang mendalam sebagaimana ulama’-ulama’ tradisional.

Banyak diantara ustadaz-ustadz yang lahir di era ini tidak memiliki disiplin akademis keislaman secara mendalam. Diantara mereka, menjadi otoritas baru agama tak lain hanya karena publik speakingnya bagus, penuh lelucon, dan kebanyakan dari mereka adalah mengumbar kemarahan dan kebencian, sebagaimana dipraktikkan oleh Bahar bin Smith dan Sugik Nur dengan piawai.

Babe Hakal Hassan lahir dalam konteks demikian itu. Walaupun tidak banyak yang tahu latar belakang disiplin akademis studi keislamannya. Ia begitu mudah saja menggunakan klaim-klaim keagamaan untuk menjustifikasi propaganda politiknya. Maka tak heran, pengikut medsosnya kini berjumlah ratusan ribu.

Babe sebagai sosok yang ditokohkan sebagai ustadz oleh pengikutnya. Sosok yang sering menyerukan secara lantang disetiap kesempatan publiknya untuk mengajak ummat untuk membela islam. Pada akhirnya, belakangan ini propaganda politiknya berujung hanya menjadi Tim Sukses Capres-Cawapres Prabowo-Sandiaga Uno.

Posisinya sebagai Tim Sukses Capres tersebut menggambarkan kepada kita bagaimana slogan-slogan “Aksi Bela Membela” yang sering Babe dengungkan penuh emosi tersebut tak lain hanyalah politisasi agama. Konon menurutnya bahwa Islam adalah agama yang suci dan perlu dibela mati-matian. Pada akhirnya hanyalah menjadi slogan dan propaganda yang partisan.

Walaupun saat acara “E-Talkshow bersama Haikal Hassan” di TV-One beberapa hari yang lalu ia menyangkal bahwa ia melakukan politisasi agama dengan mengatakan,“Saya menggunakan politik untuk menegakkan agama”.

Jika kita koreksi perkataan Babe tersebut, itu hanya menampakkan pembelaan dan hipokritnya statement itu. Politik apa yang hendak ia gunakan untuk menegakkan agama.

Apakah dengan menjadi Timses Prabowo-Sandi adalah merepresentasikan nilai-nilai ajaran Islam? Tentu saja tidak. Di era “oligarki politik” berlabel demokrasi (dalam istilah Jefrey Winters) belakangan ini. Penggunaan simbol-simbol agama dalam Pilpres tak lain adalah untuk memenuhi syahwat politik penggunanya yang berorientasi profit.

Belakangan, ketika Babe sudah merapat ke kubu Prabowo-Sandi. Ia melakukan vlog di depan Ka’bah al Mukaromah di Mekah dengan konten ajakan untuk memilih Prabowo-Sandi.

Dengan demikian, segala retorika Babe terkait slogan-slogan “Bela Membela Ulama’, Islam sampai Tauhid”, dengan kini ujung-ujungnya ia menjadi Timses Capres tertentu. Maka tak lain itu adalah bentuk politisasi agama yang paling vulgar. Yang didapat kemudian bukan memperjuangkan Islam. Akan tetapi hanya menjadikan urusan agama menjadi aktivitas partisan lima tahunan.