Beras, Boros, dan Bansos

Beras, Boros, dan Bansos

Penggunaan bahan pangan untuk menggambil simpati warga tak asing di sejarah manusia. Di masyarakat Indian di sepanjang pantai Alaska Selatan, British Columnia, dan Washington, dikenal dengan sebutan Potlatch.

Beras, Boros, dan Bansos

Manusia memiliki keserakahan. Sedangkan dunia ini tak cukup untuk satu orang serakah. Ini peringatan agama kepada kita. Keserakahan seringkali berujung pada kelangkaan. Hari ini kita disebut sedang menghadapinya.

Ada pengamat bilang, “Kelangkaan beras hari ini yang berujung pada harga yang melambung adalah dampak dari kesembronoan bantuan sosial (bansos) di Pilpres 2024 kemarin. Terganggunya mekanisme alur distribusi dan stok beras yang terjadi tepat pasca pemilihan umum sedikit banyak menggiring opini orang untuk percaya kata-kata pengamat ini.

Ambisi untuk mengamankan kekuasaan lewat politik bansos seakan “telanjang” terjadi di mata kita. Alasan Negara membagian beras sebagai bagian dari isi bansos, bahkan menjadi unsur paling dominan di dalam bantuan yang dibagikan ke masyarakat, karena ada dampak El-Nino yang dirasakan warga. Walaupun klaim ini masih banyak orang yang meragukannya.

Jika kelangkaan beras ini benar-benar disebabkan oleh pembagian bansos yang sembrono dan serampangan, maka kita sebenarnya sedang merasakan dan menyaksikan apa yang pernah terjadi di salah satu suku Indian di sepanjang pantai Alaska Selatan, British Columnia, dan Washington, bernama Potlatch. Apa itu? Dan pelajaran apa yang bisa kita ambil dari fenomena ini?

***

Penggunaan bahan pangan untuk menggambil simpati warga tak asing di sejarah manusia. Di masyarakat Indian di sepanjang pantai Alaska Selatan, British Columnia, dan Washington, dikenal dengan sebutan Potlatch. Para antropolog, sebagaimana disebut oleh Marvin Harris, menjumpai praktik tersebut sebagai bentuk konsumsi dan pemborosan jorjoran dalam bentuk paling gila yang pernah dikenal masyarakat sekitar.

Singkatnya, Potlatch adalah sebuah pesta yang diselenggarakan seseorang dari suku Kwakiutl untuk meraup atau usaha untuk dikagumi dan dorongan prestisee terejawantahkan dalam praktik konsumsi dan pemborosan yang luar biasa. Seseorang dari suku Kwakiutl yang ingin mendapatkan penghormatan dan simpati publik, maka mereka biasanya mengadakan pesta besar-besaran yang didalamnya terdapat membagi-bagikan bahan pangan atau konsumsi publik secara sembrono dan boros.

Tujuan dari Potlatch adalah membagi-bagikan atau menghancurkan harta lebih banyak dari pesaingnya. Dengan kata lain, persaingan mendapatkan simpati warga ditandai dengan siapa yang bisa menyediakan atau memberikan lebih banyak hadiah berupa bahan pangan dari pesaingnya. Distribusi dan persediaan beberapa bahan pangan sempat terganggu karena transfer bahan pangan secara massif dan sembrono sekaligus boros.

Fenomena Potlatck menggambarkan kepada kita bahwa penggunaan bahan pangan untuk meraup pengakuan atau prestise, bukan hal yang bijak. Kerusakan alam karena terus dikeruk, ketidakseimbangan distribusi, hingga kelangkaan bahan pangan seringkali diabaikan untuk kehausan akan kekuasaan.

Negara Perlu Hadir

Di tengah fenomena kelangkaan dan kenaikan harga beras, Negara harus hadir untuk menjamin ketersediaan dan distribusi yang adil untuk masyarakat. Akses terhadap bahan pangan tidak hanya soal keadilan, namun juga bagian dari peran utama Negara.

Umar bin Khattab, sahabat Nabi Muhammad Saw., pernah mengangkat bahan pangan jatah seorang warganya yang sedang kelaparan kala itu. Umar bin Khattab saat itu sempat marah dengan koleganya karena ingin membantunya mengangkat bahan pangan tersebut. Umar pun berujar, “Apakah kamu mau memikul dosaku?.”

Sistem negara kita mungkin berbeda dengan sistem kekhalifahan di zaman Umar bin Khattab. Namun, Umar telah mencontohkan kepada kita bahwa Negara harus hadir di tengah masyarakat jika terjadi krisis bahan pangan, apalagi sampai ada rakyat yang kelaparan.

***

Cara masyarakat kita hari ini terhadap beragam produk pangan sangat dipengaruhi teknologi. Baru-baru ini kita sempat mendengar perdebatan seorang koki dan juru masak profesional dengan seorang selebgram. Kala itu, gaya atau style masak sang selebgram yang direkam di salah satu platform media sosial dikritik keras oleh sang juru masak profesional tersebut.

Menariknya, sang selebgram menganggap sang juru masak tidak seperti gaya memasak sang selebgram. Memasak dengan mencampur-campur beragam bahan pangan dengan aneka bumbu atau bahan yang tak lazim, yang biasa dilakukan sang selebgram sebenarnya sangat saya sayangkan. Bahan pangan mulai digunakan serampangan dan terkesan tak lagi untuk memenuhi rasa lapar atau sekedar

Di titik ini, kita patut menyayangkan apa yang terjadi di masyarakat modern hari ini. Sebab, konten sang selebgram tersebut seringkali “mengabaikan” fungsi utama beragam bahan pangan sebagai bagian dari menjaga kelanjutan kehidupan manusia. Bahan-bahan pangan dipakai “hanya” dianggap sebagai benda yang bisa dibeli dan disediakan lewat kekuatan uang yang mereka miliki.

Padahal, banyak dari masyarakat sekitar kita yang hidup mengais rezeki hanya untuk sesuap nasi baginya dan keluarganya. Kesulitan ini mungkin kita rasakan sendiri.  Makin banyak mahasiswa mengeluhkan harga sepiring nasi di warteg semakin mahal, atau porsi yang didapatkan semakin sedikit.

Sayangnya, jaring pengaman bagi warga dalam akses kita atas bahan pangan ini seringkali terlihat anomali dengan gaya konsumsi kita. Jumlah bahan pangan yang terbuang di masyarakat Indonesia mencapai ribuan ton per hari. Menurut laporan Kompas, Terdapat 48 juta ton makanan terbuang setiap tahunnya di Indonesia. Apabila seluruh makanan tersebut tidak dibuang, ada 61 juta orang yang dapat diberi makan layak. Artinya, permasalahan food loss dan food waste perlu mendapat penanganan dengan serius.

Maka, saya melihat pemborosan dan kesembronoan dalam penggunaan bahan pangan di masyarakat kita, bisa jadi mengakibatkan kelangkaan dan kenaikan berbagai bahan pangan. Kita tidak lagi melihat bahan pangan sebagai bagian dari kehidupan kita. Bahkan, revolusi bisa terjadi karena kelangkaan atau kesulitan akses atas bahan pangan pokok di sebuah negara, sebagaimana Revolusi Bolshevik. Negara seharusnya belajar dan sadar.

***

Praktik pembagian bansos oleh Negara, dalam hal ini adalah Presiden Jokowi, dilakukan serampangan dan digunakan untuk meraup efek elektoral, yakni suara masyarakat sepertinya tak berbeda jauh dengan tradisi … di atas. Dalam praktik ini, Negara dan Jokowi telah melakukan dua kesalahan besar. Kelangkaan atau kenaikan harga beras adalah peringatan awal dari kesalahan tersebut.

Kesalahan pertama, penggunaan bahan pangan secara serampangan untuk meraup kekuasaan atau mendongkrak popularitas. Ketersediaan bahan pangan yang bergantung pada alam, yang hari ini semakin rentan, tentu sangat menuntut penggunaan yang hati-hati dan tepat guna. Kita harusnya belajar pada sistem kultur di masyarakat tradisional atas pangan.

Mungkin, kita sering mencibir tradisi-tradisi yang dibangun masyarakat dulu di sekeliling pangan, dari menanam,memanen, hingga tersedia di hadapan kita sebagai hidangan. Padahal, tradisi-tradisi tersebut mengajarkan kita pada penghormatan, memuliakan, dan menghargai sebutir bahan pangan yang akan masuk dalam tubuh kita.

Sebagian kelompok masyarakat di Nusantara memiliki kultur dalam menghormati pangan yang dimakan atau dikonsumsi setiap hari. Etika dan aturan moral biasanya disusun dalam mitos-mitos atau cerita yang dikisahkan ke masyarakat, untuk menjaga diri konsumsi berlebihan.

Hari ini, lewat ilmu pengetahuan dan kekuasaan, kita sering dengan congkak tidak lagi menghormati kehadiran pangan, bahkan kita menyaksikan bahan pangan dijadikan komoditas politik atau konten belaka. Padahal, bahan pangan seharusnya didistribusikan secara adil dan bisa mencukupi nutrisi yang diperlukan jika kita ingin menjadi negara yang sejahtera.

Kesalahan kedua, gagal dalam manajemen pangan secara makro dan mikro. Bisa dibayangkan, ketika ditanya wartawan, seorang Presiden RI menjawab dengan menyuruh awak media untuk mengulik informasi di dua pasar induk daerah Jakarta. Jawaban ini jelas menggambarkan kegagalan melihat persoalan kenaikan dan kelangkaan beras di lingkungan sekitar masyarakat luas.

Sangat sedikit masyarakat yang bisa mengakses pasar besar untuk membeli beras. Titik ini gagal dilihat oleh Jokowi. Masyarakat kita mengakses beras di toko-toko kelontong atau ritel terdekat. Dan stok beras tidak hanya langka, namun harganya juga melambung. Inilah persoalan yang seharusnya dilihat oleh Jokowi sebagai representasi negara.

Jika bansos kemarin “dianggap” sebagai variabel kasus kelangkaan dan melambungnya harga besar, maka Jokowi telah melakukan dua kesalahan sekaligus kemarin. Sudah saatnya, para pemimpin kita mencontoh Umar bin Khattab dan bijak dalam menggunakan bahan pangan di negeri ini. Hentikan segala keborosan, kesembronoan, dan pemanfaatan yang tak pantas atas bahan pangan.

Fatahallahu alaina futuh al-arifin