Akhir Kesombongan Seorang Dermawan

Akhir Kesombongan Seorang Dermawan

Pada saat khalifah Al Mansur berkuasa di saat peralihan kekuasan dari Bani Umayah ke Abasiyah. Ia   memburu seorang bernama Mu’in bin Ziyad. Saking pentingnya, Sang Khalifah bahkan memberikan hadiah tinggi bagi orang yang bisa menangkapnya. Merasa menjadi buruan nomor satu, Muin pergi meninggalkan dengan menyamar dan bersembunyi di salah satu tempat.

Suatu ketika saat dia saat menyamar dan berkeliling kota Bagdad, tiba-tiba ada lelaki tinggi besar selalu mengikutinya. Mu’in merasa curiga dan menduga orang tersebut suruhan Khalifah Al Mansur. Ia kemudian mencoba menghindar dengan langkah yang cepat. Malangnya orang tersebut selalu bisa menyusulnya. Hingga akhirnya Muin dapat tertangkap orang tersebut.

“ Ada apa, mengapa engkau mengikutik dan sepertinya ingin menangkapku,” tanya Muin dengan berpura-pura.

Read More

“Engkau adalah Mu’in bin Ziyad khan, orang yang dicari-cari khalifah al Manshur,” jawabnya langsung ke pertanyaan ini.

Mendengar pertanyaan itu, Mu’in  grogi dan menjawab“Bagaimana mungkin engkau menuduhku, sedangkan buktinya tidak ada.”

“ Sudahlah jangan banyak tanya, pasti engkau Mu’in bin Ziyad,” ujar lelaki itu dengan ketus.

Merasa terpojok dengan cecaran pertanyaan, akhirnya Mu’in mengaku. “Baiklah suadara, aku memang Mu’in bin Ziyad. Tetapi lihatlah aku membawa sebuah mutiara yang nilainya berlipat dari hadiah yang ditawarkan Khalifah al Mansur. Ambillah, asal engkau tidak menangkapku,”kata Mu’in sambil memperihatkan mutiara yang dimaksud.

Lelaki itu kemudian melihat mutiara dan mengamatinya. Sejenak kemudian ia berkata,” Memang benar mutiara ini sangat tinggi, namun aku tidak mau menerimanya sebelum aku mengajukan pertanyaan kepadamu. Jika engkau jujur aku akan melepaskanmu.”

“ Silakan apa pertanyaanmu itu,” jawab Mu’in.

“ Kata orang, engkau adalah seorang yang dermawan. Apakah engkau mau memberikan seluruh hartamu kepadaku,” tanya orang itu.

“ Tidak,” jawab Mu’in

“ Bagaimana kalau setengahnya,” katanya lagi

“ Tidak juga,” jawab Mu’in tegas.

“ Kalau sepertiganya,” ucap orang itu.

“ Tidak  bisa,” ujar Mu’in.

“Baiklah kalau begitu. Aku minta sepersepuluhnya saja,”ia bertanya lagi.

“Baiklah, aku setuju kalau sepersepuluhnya,” jawab Mu’in.

Kemudian orang tersebut berkata,” Sebetulnya aku hanyalah seorang pegawai biasa. Aku digaji oleh Khalifah al Mansur cuma dua puluh dirham sebulan. Adapun mutiara yang engkau berikan itu harganya jutaan dirham. Namun mutiara ini aku kembalikan berikut ‘kedermawananmu’ yang telah diberikan pada banyak orang. Jadi jangan sombong. Banyak orang dermawan yang lebih dari kamu lakukan. Setelah ini anggaplah sepele kedermawananmu itu. Tetapi teruslah untuk bersifat dermawan.”

Apa yang diucapkan oleh orang itu membuat Mu’in tertegun sejenak. Ia sangat terkesima dengan ucapannya. Orang tersebut kemudian bergegas pergi. Namun Mu’in berusaha mencegahnya dan berkata,”Aku rela mati demi nasehatmu, Ambil saja lagi mutiara itu dan aku tidak memerlukannya lagi.”

Mendengar hal itu, ia kemudian berkata,”Engkau anggap omonganku itu tadi hanya bualan saja. Untuk sebuah kebajikan aku tidak akan menerima imbalan.” Setelah itu orang tersebut langsung bergegas pergi.

Waktu pun berganti. Mu’in kemudian diangkat menjadi gubernur Yaman. Saat menjabat sebagai gubernur ia berusaha mencari lelaki baik yang dulu memburunya itu. Namun tidak pernah bertemu.