Khalifah Bumi

Khalifah Bumi

Khalifah Bumi

 

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan lautan, Kami beri mereka rejeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

Penegasan Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Isra` ini (QS. 17: 70) sudah sangat terang benderang. Ya, Allah telah memuliakan keturunan Adam dengan sebaik-baiknya penciptaan; berbadan tegap, dapat berbicara, dan berilmu. Allah telah menjadikan manusia sebagai penguasa daratan dan lautan, memberinya anugerah yang tiada tara dan mengutamakannya melebihi makhluk-makhluk lainnya.

Namun karena sebagaimana yang sudah kita fahami bersama, salah satu kaidah ilmu tafsir mengatakan bahwa Al-Qur’an itu ba’dluhu yufassiru ba’dlaa (sebagian ayat-ayatnya menafsirkan ayat-ayatnya di bagian yang lain). Agar kita umat manusia tidak buru-buru merasa sombong, dan seakan-akan telah mendapatkan privilege untuk mengeksploitasi sumber daya alam—bahkan bersikap arogan terhadap sesama manusia lantaran merasa lebih unggul dari yang lain—karena adanya ayat di atas atau ayat-ayat lain yang kita anggap sesuai, sepertinya ayat berikut ini sangat pantas kita sandingkan.

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: Aku hendak menjadikan khalifah di bumi. Dimana para malaikat mempetanyakan: Apakah engkau hendak menjadikan makhluk yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami senantiasa bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu? Tuhan pun menjawab: Sungguh, Aku lebih mengetahui apa-apa yang tidak kalian ketahui.” (QS Al-Baqarah 2:30). Juga ayat lain, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya…” (QS At-Tiyn 95:4-5).

Tafsir Suryomentaraman atas kekhalifahan manusia

Ki Ageng Suryomentaram adalah salah seorang filsuf asli nusantara yang berpandangan sangat tajam. Kritiknya terhadap praktik-praktik keagamaan dan bertuhan yang dihayati hanya sebatas gugon tuhon (menerima begitu saja tanpa upaya apa pun) sangat keras dan rasional. Saking kerasnya, hingga orang-orang yang tidak sepaham menganggapnya ateis dan tak bertuhan.

Dalam ceramahnya yang disiarkan secara langsung di Solosche Zender Radio (S.R.V.) pada tahun 1935 misalnya, Ki Ageng membabar tentang penghambaan kepada yang Mahakuasa secara komprehensif. Menurutnya, menghamba yang Mahakuasa mencakup tiga hal yang sangat prinsipil yaitu siapa yang menghamba, apa yang sesungguhnya dihamba, dan bagaimana cara menghamba yang benar.

Ceramah dibuka dengan paparan bahwa manusia seringkali bermaksud dan merasa telah menghamba kepada yang Mahakuasa. Laku penghambaan itu biasanya terdorong oleh berbagai ajaran yang didapatkannya. Berbagai ajaran tentang penghambaan tadi bermacam-macam. Salah satunya adalah ajaran menghamba dengan menggunakan analogi bahwa setiap rumah ada pembuatnya, karena itu bumi dan langit serta isinya, pasti juga ada pembuatnya, yaitu yang Mahakuasa. Pembuat alam semesta dinamakan yang Mahakuasa karena Ia digambarkan berkuasa menciptakan apa saja yang tak mungkin dibuat oleh manusia. Yang Mahakuasa dalam pengajaran ini digambarkan sebagai yang memberikan kehidupan.

Mata, hidung,  hingga tangan dan kaki setiap manusia adalah pemberian dari yang Mahakuasa. Rejeki, istri atau suami, hingga anak-anak juga digambarkan sebagai pemberian-Nya. Begitu juga, hujan, angin, sampai matahari pun digambarkan demikian. Dimana kesemuanya adalah pemberian dari yang Mahakuasa. Karena itu, sudah semestinya jika setiap orang berterimakasih kepada-Nya dengan laku penghambaan.

Namun berterimakasih sebagai laku penghambaan kepada yang Mahakuasa, ternyata tidak selalu dapat dilaksanakan dengan sepenuh hati. Ya, pada saat orang sedang sakit atau tertimpa kemalangan, akan merasa berat untuk tetap berterimakasih kepada-Nya. Bukankah derita sakit atau kemalangan juga merupakan pemberian dari yang Mahakuasa?

Ketika terjadi kebingungan semacam itu, orang lalu diberi penjelasan, “Yang Mahakuasa nanti akan memberikan pahala yang lebih baik, yaitu syurga yang dapat dinikmati setelah mati. Apabila orang bersungguh-sungguh dalam laku penghambaannya, maka setelah mati nanti ia akan mendapatkan kenikmatan abadi.”

Dalam penjelasan ini, dorongan dalam laku penghambaan kepada yang Mahakuasa telah bergeser. Jika semula dimaksudkan untuk berterimakasih, kini untuk memperoleh kemuliaan setelah mati. Artinya, laku penghambaan telah diniatkan sebagai suap.

Dengan demikian, maka yang menghamba sesungguhnya adalah orang yang butuh. Yaitu butuh berterimakasih karena telah merasa mendapatkan anugerah, dan butuh melakukan suap agar dihindarkan dari hal-hal yang tidak diinginkannya. Yang dihamba pun sesungguhnya hanyalah keinginannya sendiri, karena laku penghambaan yang dilakukannya hanyalah sebatas upaya untuk berterimakasih atau memberikan suap.

Nah, lalu bagaimanakah sesungguhnya laku penghambaan yang benar? Menurut Ki Ageng, laku penghambaan yang benar adalah ketika si penghamba menyadari sepenuhnya bahwa dirinya serba berkekurangan dan sangat lemah di hadapan yang Mahakuasa. Boleh-boleh saja berterimakasih kepada-Nya bahkan mutlak, namun bentuk ungkapan terimakasihnya adalah memaksimalkan kekurangan yang ada pada dirinya, sehingga dari saat ke saat selalu bersyukur dan tak terbersit niatan sedikit pun untuk melakukan tidakan suap kepada yang Mahakuasa.

Jadi, tatkala ketidakberdayaan manusia disikapi sebagai kodrat alamiah yang tak dapat ditolak maupun dihindari, sesungguhnya laku penyembahannya sudah tepat karena dengan sendirinya ia telah menjadi berdaya dalam ketidakberdayaannya.

Apakah sesungguhnya hakikat keberdayaan itu? Hakikat keberdayaan adalah rasa tidak butuh terhadap apa dan siapa pun termasuk butuh kepada yang Mahakuasa, karena yang Mahakuasa sesungguhnya telah lebih dari cukup di dalam mencukupinya.

Demikianlah, ketika orang telah paham bahwa yang membuatnya tak berdaya adalah karena adanya rasa butuh dari dalam dirinya,  dan pemahaman tersebut membuatnya sadar bahwa ia tak lagi perlu menjadi berdaya dan tak lagi membutuhkan apa pun, maka pada titik itu sesungguhnya ia telah berdaya. Dan begitu ia merasakan secara nyata keberdayaannya, maka ia pun dapat senantiasa mensyukuri ketidakberdayaannya secara tulus.

Itulah laku penghambaan yang benar dan tentu saja dapat menenteramkan hati menurut Ki Ageng Suryomentaram yang saya pahami. Dan, out put dari penghambaan yang benar adalah kesadaran bahwa tidak ada kebahagian tanpa dengan membahagiakan orang lain. Barangsiapa berbahagia, namun pada saat yang sama ia tidak membahagiakan orang lain, berarti ia tengah mengalungkan tali yang digunakannya untuk menjerat lehernya sendiri. Wallaahu a’lam bishshawwab. []