Tata Cara Shalat Gerhana Bulan

Tata Cara Shalat Gerhana Bulan

Islam sebagai ajaran yang lengkap tidak mengabaikan adanya fenomena-fenomena alam yang terjadi. Selain berinteraksi dengan Tuhan dan manusia, Islam juga mengajarkan bagaimana menghayati dan berhubungan dengan alam. Peristiwa alam dipandang sebagai wujud kebesaran Allah atas ciptaannya. Nah, salah satu fenomena alam yang mendapat perhatian dalam Islam adalah gerhana.

Gerhana, sebagaimana diketahui adalah fenomena kesejajaran bulan, bumi, juga matahari, sehingga bisa menghilangkan cahaya dan penampakan dari bulan atau matahari. Maka kita mengenal adanya gerhana bulan dan matahari itu. Sebagai wujud ketakjuban dan pengakuan kebesaran Allah, disyariatkanlah shalat gerhana, atau yang biasa disebut shalat kusuf  untuk gerhana matahari dan khusuf untuk gerhana bulan.

Shalat gerhana disyariatkan mulai pada tahun kedua hijriyah, tepatnya pada peristiwa gerhana matahari, dan disyariatkan untuk gerhana bulan pada tahun kelima hijriyah. Hadis yang menyatakan syariat shalat gerhana adalah sebagai berikut:

Read More

إن الشمس والقمر من آيات الله لا ينكسفان لموت أحد ولا لحياته، فإذا رأيتم ذلك فصلوا وادعوا حتى ينكشف ما بكم

Kutipan hadis tersebut secara lengkap dalam Shahih al Bukhari maupun Shahih Muslim menceritakan keadaan pasca meninggalnya putra Nabi Muhammad yang bernama Ibrahim, bertepatan dengan terjadinya gerhana matahari. Orang-orang pun mulai mencocok-cocokkan keadaan alam yang terjadi dengan peristiwa meninggalnya putra Nabi tersebut. Namun Nabi menyanggahnya, dan sebagaimana pernyataan Nabi di atas,

“…Sesungguhnya matahari dan bulan adalah satu tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak menjadi gerhana sebab matinya seseorang atau sebab hidupnya. Jika kalian melihat terjadinya gerhana, maka shalatlah dan berdoalah sampai tersingkap gerhana tersebut…”

Dalam riwayat hadis yang lebih panjang tentang tema tersebut juga diterangkan bagaimana pelaksanaan shalat gerhana, yaitu dua rakaat dengan empat kali ruku’ dan empat kali sujud. Tata cara pelaksanaan shalat gerhana, bisa diurutkan sebagaimana berikut:

Pertama, setelah diketahui terjadi gerhana, maka shalat bisa diselenggarakan, baik sendirian maupun berjamaah. Dianjurkan untuk mandi dan memakai wewangian jika memungkinkan. Pelaksanaan dibuka dengan seruan as shalatu jami’ah.

Kedua, berniat untuk shalat gerhana. Lafal niatnya sebagai berikut

أُصَلِّي سُنّةَ لِكُسُوفِ الشَّمْسِ/ لِخُسُوفِ القَمَرِ رَكْعَتَينِ لله تعالى

“Aku berniat shalat sunnah kusuf (gerhana matahari)/khusuf (gerhana bulan) dua rakaat karena Allah”

Ketiga, memulai shalat sebagaimana shalat pada umumnya. Shalat gerhana dilakukan dua rakaat dengan empat kali ruku’, tiap rakaat dua kali ruku’.

Keempat, pada rakaat awal, sebelum ruku’ pertama, dianjurkan membaca surat Al Quran yang agak panjang setelah Al Fatihah. Setelah usai, lantas ruku’, dan seusai bangun membaca lagi Al Fatihah, dengan bacaan surat setelahnya lebih pendek dibanding yang sebelum ruku’ Kemudian dilakukan ruku’ kedua, lalu i’tidal, dilanjutkan sujud dan seterusnya sampai rakaat kedua. Dianjurkan memperlama ruku’, serta ruku’ yang awal lebih panjang dibanding yang kedua.

Kelima, pada rakaat kedua, sebelum ruku’ pertama, dianjurkan membaca surat Al Quran yang lebih pendek dibanding rakaat pertama. Lantas ruku’, lalu bangun membaca lagi Al Fatihah, dengan bacaan surat setelahnya lebih pendek dibanding yang sebelum ruku’ Kemudian dilakukan ruku’ kedua, i’tidal, dan dilanjutkan sujud dan seterusnya sampai salam.

Keenam, seusai shalat, dianjurkan dilakukan khutbah. Khutbah ini sifatnya sunnah, dan berisi ajakan untuk meningkatkan ibadah, keimanan dan syukur, serta memperbanyak mengingat Allah lewat ciptaan-Nya berupa gerhana yang telah terjadi. Kemudian ditutup dengan berdoa untuk keselamatan umat dan dijauhkan dari musibah.

Hikmah shalat gerhana ini, sebagaimana disebutkan Nabi, bertujuan untuk semakin menyadarkan manusia bahwa peristiwa-peristiwa alam, utamanya gerhana ini, adalah semata-mata kuasa Allah dan menunjukkan kebesaran-Nya. Gerhana tidaklah berkaitan dengan peristiwa-peristiwa tertentu, dan ia terjadi karena memang hanya merupakan sebuah keteraturan fenomena alam. Selain itu, momen ini juga menjadi pengingat untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah, doa, juga sedekah. Wallahu a’lam.