Tafsir Surat Yasin Ayat 2–4 Tentang Kesaksian Al-Qur’an Atas Kerasulan Muhammad SAW

al-qur'an

Tafsir Surat Yasin Ayat 2–4 Tentang Kesaksian Al-Qur’an Atas Kerasulan Muhammad SAW

Pada tulisan sebelumnya (Tafsir Surat Yasin Ayat1) telah diuraikan beragam makna dan arti kata Yasin, ayat pertama dalam surat dengan nama yang sama, melalui lima kitab tafsir yang menjadi rujukan. Tulisan kali ini akan melanjutkan pembahasan ayat 2 – 4, topiknya mengenai sejauh mana al-Quran menguatkan mental Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi masyarakat yang menolak ajarannya.

وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ (2) إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ (3) عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Wa al-Quran al-Hakim. Innaka lamin al-Mursalin. ‘Ala shirath al-Mustaqim.

Read More

Artinya:

“(Aku bersumpah) demi al-Quran yang penuh hikmah. Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad SAW) benar-benar seorang dari rasul-rasul. (Sesungguhnya engkau berada) di atas jalan lebar yang lurus (agama Islam).” (QS: Yasin ayat 2-4)

Berdasarkan riwayat dari Basyar dari Yazid dari Sa’id dari Qatadah, Ibnu Jarir al-Tabari menafsirkan ayat dua dan tiga di atas sebagai bentuk kesaksian Allah swt dengan wahyu-Nya al-Quran bahwa Nabi Muhammad adalah benar-benar seorang Rasul. Seolah-olah Allah swt berfirman: “Sungguh engkau, Hai Muhammad, adalah bagian dari para rasul atas nama Wahyu Allah kepada para hamba-Nya.”

Pada ayat selanjutnya, ayat keempat, al-Thabari menjelaskan bahwa ayat ini mengandung dua aspek (wajhani). Aspek pertama terkait dengan maknanya yang menegaskan “sungguh engkau bagian dari para rasul dalam jalur keistiqamahan yang hak (‘ala istiqamat min al-haq). Dalam aspek ini, kata ‘ala, bermakna penegasan status kerasulan Nabi (min silat al-Irsal). Aspek kedua terkait dengan kedudukan kalimat ayat ke empat yaitu bekedudukan sebagai khabar mubtada’(sebagai predikat atau keterangan subjek). Al-Tabari mengilustrasikan kalimat lengkapnya seperti ini: “sungguh engkau adalah bagian dari para Rasul (innaka la min al-mursalin); sungguh engkau di atas jalan yang lurus (innaka ‘ala shirath mustaqim).

Imam al-Qusyairi dalam Lataif al-Isyarattidak banyak mengeksplorasi makna batin dari ayat ke 2 sampai ke 4 surat Yasin. Apa yang dikemukakan al-Qusyairi sama dengan keterangan al-Thabari seputar penegasan status kerasulan Nabi Muhammad SAW dan posisinya yang berada dalam jalan yang lurus (innaka la min al-mursalin wa innaka ‘ala sihirath mustaqim).

Menurut analisa linguistik al-Zamakhsyari pada ayat ke tiga dan ke empat (al-Zamakhsyari dalam tafsirnya tidak mengulas ayat kedua), korelasi antara ayat ke empat dan ke tiga bukan berarti mengandaikan bahwa seorang rasul bisa saja tidak berada di atas jalan yang lurus. Akan tetapi kedua ayat ini menandakan penegasan sifat kerasulan dan kebenaran Nabi Muhammad SAW atas satu susunan. Al-Zamakhsyari mengibaratkan susunan kalimatnya adalah, “sungguh engkau adalah seorang di antara para rasul yang benar/tetap atas jalan yang tetap/benar (innaka la min al-mursalin al-tsabitin ‘ala thariq tsabit).

Tahir Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa pemilihan al-Qur’an sebagai sumpah, pada ayat ke dua, mengisyaratkan kemuliaan dan keluhuran posisi Nabi Muhammad SAW di sisi Allah SWT. Adapun tujuan dari sumpah ini adalah sebagai penguatan (ta’kid) atas khabar yaitu dalam ayat ke tiga surat Yasin. Kata al-Hakim pada ayat kedua, menurut Ibnu ‘Asyur dapat memiliki dua makna: pertama yaitu sesuatu yang dijadikan dan yang memiliki sifat sebagai hukum (al-maj’ul dza ihkam); dan kedua sebagai pemilik hikmah (shahib al-hikmah). Terkait penjelasan ayat ke empat, Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa kata Shirat Mustaqimadalah agama Islam yaitu sebagai petunjuk pada dua kehidupan, kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.

Menegaskan kata al-Hakim pada ayat kedua, M. Quraish Shihab mengatakan bahwa penyifatan ini terhadap al-Qur’an mengisyaratkan bahwa al-Qur’an mengandung hikmah yang dapat mengantarkan manusia kepada kemaslahatan duniawi dan ukhrawi serta menghindarkannya dari segala petaka. Menurut Quraish Shihab, kata hakimjuga merupakan sifat makhluk hidup yang berakal serta memiliki kehendak. Ia menerangkan bahwa hal ini adalah bentuk metafora yang mengesankan bahwa kitab suci al-Qur’an memiliki ‘ruh’, sebagaimana Allah SWT menjelaskan dalam Q.S al-Syura ayat 52:

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنا

Artinya:

Demikianlah Kami telah menurunkan kepadamu ‘Ruh’ dari sisi Kami. Menurut Quraish, kata Ruh disini adalah al-Qur’an.

Terkait ayat keempat, menurut Quraish, kata Shirat Mustaqim adalah jalan luas, lebar dan yang terdekat menuju tujuan. Bagi Quraish jalan luar lagi lurus itu adalah segala jalan yang dapat mengantar kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.