Tafsir Surat Al-Waqi’ah Ayat 57-59: Allah Maha Kuasa Membangkitkan Manusia di Akhirat

Tafsir Surat Al-Waqi’ah Ayat 57-59: Allah Maha Kuasa Membangkitkan Manusia di Akhirat

Tafsir Surat Al-Waqi’ah Ayat 57-59: Allah Maha Kuasa Membangkitkan Manusia di Akhirat

Pada ayat sebelumnya,  Allah menjawab ejekan orang yang tidak percaya dibangkitkannya manusia dari kematian, dengan jawaban bahwa kelak yang terjadi lebih dari sekedar apa yang mereka ragukan. Dan mereka kelak akan memperoleh siksa sebab sikap sombong mereka. Nah, dalam surat al-Waqi’ah ayat 57-59 ini, Allah memberi jawaban dengan cara mematahkan argumen orang yang tidak percaya hari kebangkitan. Allah berfirman:

نَحْنُ خَلَقْنَاكُمْ فَلَوْلَا تُصَدِّقُونَ () أَفَرَأَيْتُمْ مَا تُمْنُونَ () أَأَنْتُمْ تَخْلُقُونَهُ أَمْ نَحْنُ الْخَالِقُونَ

Nahnu kholaqnaakum falaulaa tushoddiquun. Afaroaitum maa tumnuun. Aantum takhluquunahu am nahnul khaaliquun.

Artinya: 

Kami telah menciptakan kamu, maka mengapa kamu tidak membenarkan? Maka Terangkanlah kepadaku tentang nutfah (sperma) yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya? (QS: Al-Waqi’ah ayat 57-59)

Allah bertanya kepada orang-orang yang tak percaya kepada hari kebangkitan. Kalau untuk menciptakan manusia dari yang dahulunya tidak ada menjadi ada saja Allah bisa, kenapa mereka tak percaya Allah juga bisa membangkitkan manusia yang telah mati? Bukankah dzat yang kuasa mengadakan yang dahulunya tidak ada, juga kuasa membangkitkan yang telah mati? Bukankah membangkitkan lebih mudah daripada mengadakan?

Ini adalah sederet pertanyaan yang mengajak mereka berfikir tentang kemungkinan adanya dibangkitkannya manusia dari alam kubur. Pertanyaan ini, seperti yang diungkapkan Imam Ibn ‘Asyur, berpijak bahwa mereka sudah memiliki keyakinan bahwa Allah lah yang menciptakan manusia. Atau dalam penjelasan Imam Al-Alusi, Allah tahu bahwa sebenarnya mereka percaya bahwa yang menciptakan langit dan bumi serta seisinya adalah Allah. Ini berkaitan dengan firman Allah:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” tentu mereka akan menjawab: “Allah”. (QS: Luqman ayat 25)

Orang-orang yang tidak mempercayai adanya hari kebangkitan mengetahui bahwa yang sebenarnya menciptakan mereka adalah Allah. Mereka diminta untuk berpikir ulang apakah benar tidak mempercayai Allah sebagai Dzat Yang Maha Kuasa untuk membangkitkan manusia di akhirat nanti. Mereka diminta untuk membuka memori tentang penciptaan manusia. Penciptaan manusia di rahim perempuan dengan proses lelaki meletakkan spermanya di rahim tersebut kemudian dibuahi, apakah hal itu bisa lepas dari kekuasaan Allah?

Bisakah manusia saat berhubungan intim dapat menentukan apakah yang mereka lakukan kelak pasti akan menghasilkan anak manusia? Lalu, apakah manusia kuasa menentukan bentuk anak tersebut? Apakah manusia kuasa menentukan jenis kelaminnya? Apakah manusia dapat memastikan anak mereka kelak tidak cacat atau dapat memiliki perangai tertentu?

Kerumitan-kerumitan jawaban dari pertanyaan tersebut memberi manusia setidaknya dua pemahaman. Pertama, penciptaan manusia di rahim perempuan tidak akan lepas dari kuasa Allah. Kedua, rumitnya bagaimana Allah menciptakan manusia seharusnya memberi pelajaran pada manusia, bahwa Allah bisa melakukan sesuatu di luar jangkauan mereka. Termasuk membangkitkan manusia yang telah mati dan berubah menjadi tanah serta tulang-belulang.