Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 57: Tidak Mau Menerima Kebenaran Adalah Hakikat Kezaliman

Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 57: Tidak Mau Menerima Kebenaran Adalah Hakikat Kezaliman

Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 57: Tidak Mau Menerima Kebenaran Adalah Hakikat Kezaliman

Pada ayat sebelumnya, ayat 56, Allah mengingatkan bahwa orang-orang musyrik dan orang yang tidak beriman pada Allah pada masa dulu itu selalu mendebat para rasul dengan tujuan menjatuhkan, mengolok-olok peringatan para rasul, dan enggan menerima kebenaran. Inilah hakikat kezaliman yang diperbuat oleh mereka. Pada hakikatnya mereka sedang menzalimi diri mereka sendiri. Allah SWT berfirman:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآياتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْها وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَداهُ إِنَّا جَعَلْنا عَلى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذانِهِمْ وَقْراً وَإِنْ تَدْعُهُمْ إِلَى الْهُدى فَلَنْ يَهْتَدُوا إِذاً أَبَداً

Wa man azhlamu mimman dzukkrio bi ayati robbihi fa a‘rodho ‘anha wa nasiya ma qoddamat yadah. Inna ja‘alna ‘ala qulubihim akinnatan ay yafqohuhu wa fi adzanihim waqro. Wa in tad‘uhum ilal huda falay yahtadu idzan abada 

Artinya:

“Tidak ada lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia mengabaikannya, bahkan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya! Kami itu benar-benar telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka. Sekalipun kamu mengajak mereka pada jalan hidayah, mereka tetap saja tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (QS: Al-Kahfi Ayat 57)

Menurut Ibnu ‘Asyur dalam al-Tahrir wat Tanwir, ayat ini ditujukan secara khusus untuk orang-orang musyrik Mekah. Orang musyrik Mekah itu selalu mendebat Nabi Muhammad dengan tujuan menjatuhkan, mengolok-olok peringatannya, dan enggan menerima kebenaran darinya. Bahkan mereka menyebut bahwa Nabi itu orang gila, tukang sihir, dan penyair pembual. Mereka itu orang yang paling zalim, karena membohongi hati nuraninya sendiri.

Orang-orang musyrik itu melupakan perbuatan maksiat yang sudah mereka lakukan. Pada umumnya, menurut Ibnu ‘Asyur, penggunaan redaksi ma qoddamat yadah ‘perbuatan yang telah dilakukan kedua tangannya’, dzalika bima qoddamat yadaka ‘hal itu sebab perbuatan yang telah dilakukan kedua tanganmu’, fabima kasabat aidikum ‘sebab perbuatan tangan kalian’ dan redaksi sejenisnya dalam bahasa Al-Qur’an itu mengindikasikan perbuatan buruk yang telah dilakukan.

Mungkin ada yang bertanya, pantas mereka terus enggan menerima kebenaran, wong Allah sendiri menutup hati dan menyumpal telinga mereka seperti dalam redaksi ayat Inna ja‘alna ‘ala qulubihim akinnatan ay yafqohuhu wa fi adzanihim waqro ‘Kami itu benar-benar telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka’? Syekh Mutawalli al-Sya‘rawi menjawab hal itu.

Menurutnya, Allah itu akan memberikan sesuatu sesuai kecenderungan dan keinginan hamba-Nya. Orang-orang musyrik Mekah enggan menerima kebaikan, dan terus menerus merasa angkuh, sehingga hati mereka cenderung mendekati hal-hal buruk tersebut. Oleh karena itu, Allah memberikan sesuai kecenderungan mereka, dan mereka tidak akan pernah mendapatkan hidayah kalau tidak mencarinya sendiri.