Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 56: Tugas Para Rasul Berdakwah, Bukan Memaksa

Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 56: Tugas Para Rasul Berdakwah, Bukan Memaksa

Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 56: Tugas Para Rasul Berdakwah, Bukan Memaksa
Kitab-kitab yang disusun rapi.

Orang-orang musyrik selalu membantah Nabi dengan argumen yang bertujuan untuk menjatuhkan lawan, bukan untuk mencari kebenaran. Oleh karena itu, Allah mengingatkan pada Nabi Muhammad bahwa tugasnya hanya sebagai penyampai pesan kebaikan yang berupa agama Islam. Ini pun tugas para rasul Allah, mereka sebagai penyampai pesan-pesan Allah. Itulah inti dari ayat 56 surat al-Kahfi menurut Syekh Thahir bin ‘Asyur dalam tafsir al-Tahrir wat Tanwir. Allah SWT berfirman:

وَما نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلاَّ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَيُجادِلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالْباطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ وَاتَّخَذُوا آياتِي وَما أُنْذِرُوا هُزُواً

Wa ma nursilul mursalina illa mubasysyirina wa mundzirin. Wa yujadilul ladzina kafaru bil bathili li yudhidhu bihil haqqa wattakhodzu ayati wa ma undziru huzuwa 

Artinya:

“Kami tidak mengutus para rasul kecuali hanya sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Akan tetapi orang-orang kafir itu selalu membantah dengan alasan yang batil agar mereka dapat melenyapkan perkara hak, dan mereka menganggap ayat-ayat-Ku dan peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan.” (QS: Al-Kahfi Ayat 56)

Abu al-Fida dalam tafsir Ruhul Bayan menyebutkan bahwa salah satu tanda kasih sayang Allah pada umat manusia adalah mengustus seorang rasul untuk setiap umat mansuia. Pada saat ini, ketidakadaan rasul digantikan perannya oleh ulama. Para rasul dan ulama bertugas menyampaikan wahyu dari Allah agar umat manusia selamat di dunia maupun akhirat.

Akan tetapi, sebagian manusia enggan menerima kebenaran dan kebaikan dari para rasul tersebut, karena sikap sombong mereka. “Kenapa harus manusia yang diutus, bukan malaikat saja sekalian? Coba turunkan azab dulu pada kami, baru kami akan percaya. Al-Qur’an itu cuma dongeng saja, bukan kitab suci.” Itulah contoh tantangan dan cemoohan dari orang-orang yang tidak beriman pada Allah.

Selain itu, menurut Ibnu ‘Athiyyah dalam tafsir al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-‘Aziz, ayat ini ditunjukkan untuk Nabi Muhammad dan para rasul lainnya agar tidak kecewa dan berputus asa. Tugas mereka itu hanya berdakwah dan berargumen sewajarnya. Sebagaimana Syekh al-Maraghi menjelaskan dalam kitab tafsirnya, hal ini wajar disampaikan oleh Allah, karena orang-orang musyrik dan orang-orang yang tidak beriman pada Allah itu seringkali mendebat para rasul untuk tujuan menjatuhkan, bukan untuk mencari kebenaran.