Siapakah Ismail Kita?

Siapakah Ismail Kita?

Khutbah Idul Adha pagi ini cukup menyentuh hati. Soal menjaga jarak aman dari seseorang ataupun sesuatu yang paling kita cintai di dunia fana ini.

Khathib mulai dg penjelasan tentang keponya Malaikat kenapa Nabi Ibrahim As menjadi Kekasih Allah. Sementara ia sibuk mengurus ratusan ekor ternaknya. Bayangkan 5 ekor saja menguras waktu dan tenaga apalagi ratusan!

Allah pun menjawab, “Sebab apapun yang ia miliki, tidak membuatnya berpaling dari-Ku”. Malaikat pun penasaran dan mulai ngetes Nabi Ibrahim, “Milik siapa ternak sebanyak ini?”.

Read More

“Saat ini milikku. Tapi semua sesungguhnya milik Allah. Maka kapan pun Dia ingin mengambilnya, aku akan serahkan sebagaimana mestinya”, jawab Ibrahim.

Maka ucapan Nabi Ibrahim pun Allah uji lagi. Bukan dengan kematian massal ternaknya. Jauh lebih berat. Ia diperintahkan untuk menyembelih Ismail, putra yang sangat dicintai dan kelahirannya sangat lama dinantinya.

Ini adalah ujian kedua. Sebelumnya, ia diperintahkan untuk berpisah dengan Ismail. Membiarkan anak semata wayang untuk hidup berdua dg bundanya, Siti Hajar. Seorang perempuan tegar dan tangguh yang melaluinya air zam-zam memancar deras menjadi sumber kehidupan. Bahkan mengubah padang tandus menjadi subur hingga kini.

Ibrahim tak sedikit pun bergeming dg aneka godaan syetan untuk menbatalkan keteguhan hatinya memenuhi perintah Allah. Semua yang dimilikinya adalah milik Allah. Termasuk putra tercintanya.

Allah hanya menguji cinta Ibrahim karena kemudian menggantinya dg domba. Cinta Ismail dan Siti Hajar pun ikut teruji. Ketiganya berhasil membuktikan cinta pada Allah di atas cinta pada apa dan siapapun selain-Nya….

Siapakah “Ismail” kita hari ini? Karir, jabatan, kekuasaan, uang, harta, barang bermerk, anak, suami/istri, keluarga, atau lainnya? Sanggupkah kita mencintai-Nya melebihi semua itu? Siapkah kita jika Dia ambil sewaktu-waktu? Mampukah kita meraih, memiliki, mempertahankan semua yang kita cintai hanya dg cara-cara baik sebagaimana dikehendaki-Nya?

Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail telah memberi teladan bagaimana menjaga jarak aman dengan apa/siapapun yang sangat kita cintai selain-Nya. Termasuk cinta pada diri sendiri.

Semoga setiap tindakan yang kita lakukan selalu membuat kita semakin merasa dekat dg Yang Maha Dekat. Lebih dekat dengan kita. Bahkan daripada urat nadi kita sendiri. Aaamiin YRA

Pamulang, 10 Dzulhijjah 1440 H

*) Dr Nur Rofiah
@nrofiah (ig)
@n_rofiah (twitter)