Reog dan Islamisasi di Ponorogo

Reog dan Islamisasi di Ponorogo

Reog menjadi salah satu ikon budaya di kota Ponorogo. Tapi ternyata Reog Ponorogo memiliki sejarah tersendiri dalam proses islamisasi di sana.

Ponorogo, yang akan diingat oleh orang-orang saat mendengar kota ini adalah Reognya. Kesenian Reog sangat mengakar bahkan mendarah daging bagi masyarakat Ponorogo. Kesenian ini identik dengan Barongan dan Merak serta para penarinya yang terdiri dari Bujangganong, Klono sewandono para Warok, dan Jathilannya yang memeragakan sendra tari kolosal yang rapi dan energik.

Dalam buku Seri Babad Ponorogo karya Purwowijoyo disebutkan bahwa kesenian Reog menceritakan perjuangan raja kerajaan Bantarangin yaitu Prabu Klono Sewandono yang ingin mendapatkan cinta dari Putri Kerajaan Kediri yaitu Dewi Songgolangit. Sebagai syarat untuk mendapatkan Dewi Songgolangit, beliau mengajukan syarat untuk yaitu membuat pertunjukan yang belom ada di dunia dan membawa binatang berkepala dan badan berbeda.

Singkat cerita, akhirnya Prabu Klono Sewandono akhirnya bisa memenuhi persyaratan tersebut walaupun mendapat saingan yang kuat yaitu dari Singo Barong yang akhirnya dapat dikalahkan dan dirubah wujudnya menjadi hewan unik dengan badan seekor singa dan kepanya terdapat burung meraknya.

Read More

Dewi songgolangit pun ‘diboyong’ dan dinikahi di Bantarangin. Sampai akhirnya Kesenian tersebut menjadi sebagai sarana menyampaikan dakwah Islam oleh seorang anak raja dari kerajaan Majapahit yaitu Raden Bathara Katong, murid dari Sunan Kalijaga yang menyebarkan sekaligus menjadi adipati pertama Ponorogo. Penyebaran Islam tidak lepas dari ‘tangan dingin’ Bathara Katong dalam membumikan Islam di bumi Reog.

Bukti bahwa Bathara Katong membumikan Islam di Ponorogo salah satunya adalah di bangunnya Masjid yang didirikan di Desa Mirah Kecamatan Sukorejo Ponorogo. Masjid ini kemudian disebut Masjid Kyai Mirah dan menjadi cikal bakal Ponorogo setelah masa Kerajaan Hindu Wengker di bawah kekuasaan Ki Ageng Kutu(Santoso,1970:176).

Saluran islamisasi di masyarakat Ponorogo yang dibawa oleh Bathara Katong disalurkan lewat berbagai media, antara lain lewat media kesenian yaitu Reog, sebagai media Politik dan strategi kultural yang sangat universal sebagai bukti bahwa Islam dapat membumi meski dengan wajah yang beragam.

Kesenian Reyog merupakan kesenian yang sangat mengakar di kehidupan masyarakat Ponorogo. Oleh karenanya, Bethara Katong memilih kesenian ini sebagai media dakwahnya dalam menyebarkan agama Islam.

Musik gamelan yang awalnya digunakan oleh Ki Ageng Kutu untuk adu kekuatan dan adu kesaktian dimanfaatkan oleh Bethara Katong sebagai bagian dari media dakwah. Suara nyaring dari gamelan tersebut sangatlah keras, sehingga menarik masyarakat untuk datang ke arah sumber suara tersebut.

Ketika masyarakat mulai berkumpul, Bethara Katong memulai untuk memasukkan unsur-unsur Islam tersebut dengan menunjukkan makna dari setiap alat gamelan yang digunakan sebagai pengiring.

Islamisasi di Ponorogo tidak lepas dari media Politik. Berkat kekuasannya, Batahara Kathong dapat mengislaman masyarakat Ponorogo tanpa peperangan, karena prinsip Bathara Katong memang sama dengan para wali saat itu, yaitu Menang Tanpo Ngasorake (menang tanpa merendahkan).

Strategi kulturar juga menjadi poin penting dalam Islamisasi di Ponorogo. Dengan terjadinya perombakan agama serta semakin terkikisnya kebudayaan Hindu-Budha, maka masyarakat liminal tersebut berusaha mencari suatu pegangan atau penguat bagi kebudayaan yang menurut mereka sudah tidak mampu lagi untuk mengayomi.

Dengan hadirnya agama dan kebudayaan baru yang menurut masyarakat liminal tersebut bisa diterima dengan baik dan juga mudah untuk dipelajari, maka Islam dengan mudah masuk dan berkembang di masyarakat Hindu-Budha, khususnya masyarakat Ponorogo yang ketika itu dipimpin oleh Bethara Katong, seorang raja muslim yang berusaha menyisipkan agama Islam melalui kebudayaan yang telah mengalami masa peralihan tersebut.

Wallahu A’lam.