Pudarnya Keramahan Indonesia, Efek Mengerasnya Dua Kutub Politik?

Pudarnya Keramahan Indonesia, Efek Mengerasnya Dua Kutub Politik?

Indonesia dianggap mengalami kriris keramahan, apa karena efek politik terlalu mengeras di negeri ini?

Indonesia sedang diuji sebagai bangsa timur yang terkenal ramah, religius dan penuh kehangatan. Ciri khas ini yang kemudian menjadi kekuatan sehingga memiliki kualitas tersendiri dibandingkan bangsa lain, terutama peradaban Barat. Keramahan ini bukan hanya soal keramahan masyarakatnya, namun juga keramahan alamnya. Masyarakat yang santun dan bersahabat dengan alam yang subur sehingga sumber daya alam terjaga. Namun, lambat laun, keramahan itu pudar. Mengapa?

Kita bisa mulai menganalisisnya dari masyarakat Indonesia yang semakin modern, sifat-sifat keramahannya, saya rasa ,semakin tergerus. Masyarakat Indonesia semakin banyak yang melakukan tindak anarkis dan radikal, bahkan tidak jarang tindakan brutal ini menjadi “metode penyelesaian masalah”, padahal di Indonesia terdapat nilai musyawarah untuk mufakat dalam penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan. Anak muda lebih membanggakan gaya hidup Barat yang cenderung hedonis daripada menggeluti dunia Timur yang penuh dengan spiritualisme. Alam pun juga kemudian semakin tidak bersahabat. Semakin sering dan meningkat tingkat bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor.

Keramahan ini lagi-lagi semakin diuji, khususnya sejak era pemilihan Presiden pada tahun 2014. Pasalnya, dalam pemilihan Presiden tersebut hanya terdapat dua pasangan calon presiden dan wakil presiden sehingga potensial dalam membentuk dikotomi dalam masyarakat, membentuk dua kutub yang entah kenapa kian besar saja. Potensial juga dalam memunculkan konflik dan kegaduhan.

Read More

Fakta pun terjadi. Kita, tentu saja, merasakan bahwa para pendukung kedua pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden saling menjatuhkan pihak lawan dengan berbagai hal. Hingga munculnya Ir. Joko Widodo sebagai pemenang kompetisi RI-1 pun ternyata belum menghentikan kegaduhan ini. Kondisi ini justru semakin memperlihatkan bahwa polarisasi dua kutub di masyarakat semakin kuat.

Belum selesai kegaduhan pasca Pilpres, muncul kegaduhan baru yang seringkali juga disangkutpautkan dengan fenomena Pilpres. Misalkan, kegaduhan yang muncul akibat salah satu calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama atau Ahok dianggap menistakan Al Qur’an. Kegaduhan yang hanya disebabkan oleh masalah yang masih multitafsir namun dampaknya begitu luas sampai pada tingkat nasional. Serangkaian aksi untuk menuntut Ahok yang dinamai dengan “Aksi Bela Islam” dianggap sebagai aksi yang paling santun dan bersih.

Baca juga: Ashabul Fitnah dan Kisah Kehancuran Sebuah Bangsa, Pelajaran dari Suriah

Meskipun demikian, barangkali belum terpikirkan akan dampak psikologis dari serangkaian aksi tersebut. Aksi tersebut kemudian memunculkan superioritas beberapa kalangan dalam Islam. Superioritas ini selanjutnya berpotensi memunculkan perasaan berbangga diri, atau ‘ujub. Superioritas ini juga berpotensi untuk merendahkan pihak lain yang tidak bersikap sama dengan dirinya. Betul saja. Meskipun tidak semua yang terlibat aksi bela Islam bersikap seperti itu, banyak dari kalangan yang terlibat aksi bela Islam semakin memperkuat dikotomi dalam masyarakat.

Ketika serangkaian aksi bela Islam diklaim sebagai aksi yang mampu mempersatukan umat, pandangan dan label munafik gencar ditujukan kepada pihak yang tidak ikut serta aksi bela Islam, meskipun juga tidak membela Ahok. Pemberian label munafik ini merupakan sikap yang sangat memprihatinkan jika mengingat masyarakat Indonesia seharusnya sudah bisa berpikir komprehensif.

Kondisi diperparah dengan adanya pihak yang mengikutsertakan anak-anak dalam beberapa aksi, bahkan diantaranya anak-anak diajarkan dengan kalimat dan konten yang mengandung unsur radikalisme. Mereka berdalih bahwa mereka sedang mengajarkan anak-anak untuk bersikap tegas dalam membela agama, tetapi mereka tidak sadar justru yang mereka lakukan adalah mendidik anak untuk gemar membenci pihak yang berbeda. Kekalahan calon gubernur yang dianggap sebagai penista agama (Ahok) pun tidak dapat mengakhiri kegaduhan di ibukota. Kemenangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai Gunernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta membuat pendukung Ahok berbalik menjatuhkan keduanya. Lalu, mulai membandingkan kinerja Anies dengan Ahok, dan tidak puas dengan kinerja Anies.

Baca juga: Bukan Sekadar Ahok: Tinjuan Aksi Bela Islam oleh Greg Fealy

Keramahan bangsa Indonesia masih saja berlanjut di pertengahan tahun 2018 dan menjelang 2019. Tahun 2018 adalah tahun politik, dimana dilaksanakannya Pilkada serentak. Sedangkan, tahun 2019 adalah tahun diadakannya Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Dalam rentang waktu 2014 sampai 2018 tersebut, perbincangan keseharian masih dipenuhi dengan caci maki pendukung salah satu pihak ke pihak lain.

Belum lagi perbincangan di dunia media sosial, seperti di grup Whatsapp, Facebook, Instagram, Twitter, dan sebagainya. Sebagian pihak telah biasa menggunakan fitnah untuk menjatuhkan pihak lain dan memberikan panggilan merendahkan. Semakin ironis lagi, ada sekelompok orang yang merasa paling benar, seringkali mengasosiasikan kondisi Indonesia saat ini layaknya kondisi Nabi melawan kaum kafir, dan seringkali menggunakan ayat-ayat Al Quran dan Hadits untuk melegitimasi sikapnya yang radikal terhadap pihak lain.

Di sisi lain, istilah “cebong” dan “kampret” semakin sering digunakan untuk perdebatan yang seolah tiada akhir. Andaikan pada tahun 2019 hanya memunculkan dua calon Presiden dan Wakil Presiden kembali dan sama dengan kondisi 2014, maka kegaduhan tersebut akan semakin berlanjut dan keramahan bangsa Indonesia semakin tergerus, terlepas siapapun yang menang.

Baca juga: Setelah Cebong, Kampret dan Sapi, Apa yang Tersisa

Keramahan remaja dan pemuda Nusantara juga patut mendapatkan perhatian. Remaja dan pemuda yang dahulu sangat lekat dengan predikat pembawa perubahan sosial, saat ini semakin terpengaruh dengan hedonisme. Fenomena pudarnya keramahan remaja dan pemuda Nusantara yang salah satu faktornya adalah keramahan keluarga yang juga semakin menurun ini, semakin hari semakin memprihatinkan.

Kemudian, banyak keluarga yang kurang tepat merefleksikan kepeduliannya terhadap anak sehingga anak bersikap suka membantah. Banyak remaja dan pemuda terlibat tawuran, kecanduan zat adiktif, dan pergaulan bebas. Selain itu, kualitas daya lenting dan daya tahan remaja dan pelajar semakin diuji.

Banyak remaja dan pemuda yang terjerat zat adiktif seperti minuman beralkohol dan narkoba. Keramahan terhadap sesama masyarakat juga sedang diuji ketika meningkatnya kasus kriminalitas di Indonesia. Membunuh untuk menyelesaikan masalah semakin menjadi penyelesaian masalah. Aksi saling sikut menyikut dalam berbisnis dan berkarya sudah menjadi makanan sehari-hari.

Ironisnya, kondisi bangsa Indonesia saat ini seringkali dibandingkan dengan kondisi bangsa lain yang dianggap tidak memiliki nilai sebaik Indonesia. Contohnya, mantan pembalap MotoGP Casey Stoner pernah ditanya penyebab dia menikah di usia dini. Stoner mengungkap bahwa ketika bangsa lain memilih pergaulan bebas, di Australia justru masih menganut sikap menghormati pergaulan lawan jenis, salah satunya dengan menyegerakan menikah daripada pergaulan bebas. Selain itu, kebersihan, kedisiplinan, dan keamanan di bangsa Barat justru lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Padahal, bangsa Barat justru seringkali diasumsikan sebagai bangsa yang kurang memiliki keramahan.

Di sisi lain, keramahan masyarakat Indonesia terhadap alam juga semakin memprihatinkan. Kesadaran akan kelestarian lingkungan perlu menjadi perhatian. Banyak korporasi yang menggunakan segala cara agar bisa beroperasi meskipun kurang ramah lingkungan. Banyak pihak yang merusak sumber daya dan lingkungan demi mengejar keuntungan. Sehingga tidak heran jika saat ini kebakaran hutan, banjir, dan tanah longsor semakin sering terjadi. Ketika manusia tidak bersikap ramah terhadap alam, alam pun akan bersikap demikian. Seperti firman Tuhan bahwa sejatinya kerusakan alam terjadi karena tangan manusia.

Keramahan adalah nilai penting yang harus menjadi jati diri dan dipertahankan sepanjang masa. Karena dengan keramahan ini, kebaikan dan perdamaian hidup akan bisa tercapai. Selain itu, dengan keramahan ini, Indonesia akan kembali menjadi peradaban yang diperhitungkan dan dijadikan teladan bagi bangsa lain. Semoga saja begitu.