Orang Bawean dan Masjid Pertama di Vietnam

Orang Bawean dan Masjid Pertama di Vietnam

Orang Bawean dan Masjid Pertama di Vietnam

Bagi banyak orang di Indonesia, Bawean sepertinya tidak asing lagi. Nama sebuah pulau yang terletak di utara pulau Madura, Jawa Timur. Tapi mungkin masih sedikit yang mengetahui bahwa mereka termasuk salah satu komunitas Muslim yang berpengaruh dalam geliat perkembangan Islam di kota Ho Chi Minh, kota ekonomi terbesar di negara Vietnam bagian Selatan. Konon, orang Bawean merupakan kelompok yang pertama kali menyelesaikan pembangunan masjid di negara komunis ini.

Saya sendiri baru mendengar kisah mereka sekitar empat tahun lalu saat berkunjung ke kota Ho Chi Minh. Suatu pagi, seorang kawan mengajak saya untuk makan Banh Mi (roti sandwich khas Vietnam) halal di depan sebuah masjid, saat itulah ia menceritakan kisah orang-orang yang bermukim di sekitarnya. Mayoritas mereka adalah Muslim dari Indonesia yang telah memasuki generasi ketiga atau keempat. Termasuk yang menjual Banh Mi dan pemilik warung tenda yang menyediakan makanan halal rumahan di sudut depan masjid.

Masjid ini bernama masjid (Cong Dong Hoi Giao) Al Rahim Malaysia-Indonesia. Beberapa kali saya mengunjungi tempat ini untuk berusaha bertegur sapa dengan saudara sebangsa, tapi tidak satupun yang saya temui bisa bertutur dalam Bahasa Melayu, apalagi Indonesia. Komunikasi saya dengan beberapa orang dibantu terjemahan oleh kawan saya. Menurut mereka, meski keturunan Indonesia, sangat sedikit yang bisa berbahasa melayu, kecuali anak-anak mereka yang sempat bersekolah atau kuliah di Indonesia atau Malaysia.

Orang Bawean

Saya berusaha mencari kisah mereka dalam referensi sejarah, namun ternyata sangat sedikit, untuk tidak mengatakan nihil sarjana Indonesia yang membicarakan tentang keberadaan orang Bawean di kota Ho Chi Minh. Imigrasi mereka dari pulau di utara pulau Jawa ke Semenanjung Indocina diceritakan oleh beberapa sarjana luar yang menulis tentang Islam di Indocina.

Salah satu tulisan penting yang merekam kembali jejak historis bagaimana orang bawean bisa sampai ke Ho Chi Minh dan bagaimana dinamika mereka menjadi diaspora di negara komunis ini, dilakukan oleh Malte Stokhof, seorang antropolog dari Belanda.

Menurut Stokhof (2008), kedatangan mereka termotivasi oleh tiga faktor: pertama, sosial-ekonomi, mereka berusaha mencari pekerjaan yang layak, menjauh dari sistem kerja di masa kolonial Belanda; kedua, budaya merantau; dan ketiga karena faktor agama, orang Bawean yang pergi haji akan transit di Singapura, mereka yang mencari pekerjaan di Singapura, banyak di antaranya yang menaiki kapal yang akan berlayar ke semenanjung Indocina untuk bekerja di bawah pemerintahan Prancis saat itu.

Marcel Ner (1937), mengesahkan dan mengisahkan kemungkinan ini, sekitar tahun 1850an, terdapat 300 orang yang menuju ke Saigon, nama kota Ho Chi Minh dulu, yang berangkat dari Singapura. Saat tiba, mereka menjadi pekerja untuk pemerintahan protektorat Prancis. Mereka yang datang, termasuk orang Bawean dikenal sebagai Malais, orang Melayu. Masa itu, pemerintahan Prancis di Indocina memang dikenal memiliki kebijakan terbuka untuk menerima pekerja dari luar.

Masjid Pertama 

Pada saat itulah, orang Bawean mulai mendirikan masjid untuk kepentingan ibadah komunitas mereka, yang dinamakan Chua Ma Lai, Masjid Malaysia. Rie Nakamura, salah satu sarjana yang menulis sedikit tentang Masjid Al Rahim sebagai masjid pertama di kota Ho Chi Minh, menurutnya, mereka mendahului komunitas India dalam penyelesaian masjid.

Meskipun pada awalnya, masjid ini bernama Masjid Malaysia, namun sekitar tahun 1973 nama masjidnya diubah. Didasari oleh kesadaran orang Bawean adalah orang Indonesia, bukan Malaysia. Walau demikian, tidak ditemukan informasi detail nama masjid setelah perubahan tersebut.

Saat ini, seperti yang tertulis, masjid ini bernama Masjid Al Rahim Malaysia-Indonesia, dibangun sejak 1885. Di kalangan masyarakat muslim di Vietnam, masjid ini juga sering disebut dengan masjid Boyan, dari nama Bawean. Penambahan nama Malaysia-Indonesia, lebih karena masjid tersebut dibangun kembali oleh dua pemerintah: Malaysia dan Indonesia, setelah dipugar pada sekitar tahun 2010.

Jika diamati sekilas, masjid Al Rahim merupakan salah satu masjid yang unik, berbeda dari kebanyakan masjid di kota Ho Chi Minh. Umumnya, masjid-masjid lain memiliki corak arsitektur yang mirip dengan masjid di Asia Selatan, India dan Pakistan, namun Al Rahim tampak lebih mirip masjid di Indonesia dan Malaysia.

Masjid ini terletak di tengah hiruk pikuk aktivitas ekonomi. Lokasinya dekat dengan Saigon Sky Deck, Gedung tertinggi di kota ini. Tidak jauh dari Pasar Benh Than, tujuan belanja dan pusat kegiatan para pelancong. Masjid ini terletak di pinggir jalan raya, sementara kiri kanannya dihimpit oleh pemukiman warga muslim, mereka itulah mayoritas orang Bawean. (AN)

 

Oleh: Khaidir Hasram

Alumni Sps UIN Jakarta, meminati kajian minoritas Muslim dan Islam di Indocina