Obituari Lily Wahid: Adik Gus Dur yang Sederhana Meski Memiliki Jabatan Tinggi

Obituari Lily Wahid: Adik Gus Dur yang Sederhana Meski Memiliki Jabatan Tinggi

Obituari Lily Wahid: Adik Gus Dur yang Sederhana Meski Memiliki Jabatan Tinggi

Saat Bunda Lily Wahid menjadi anggota DPR RI, beliau hanya mengendarai Kijang Kapsul berwarna biru keluaran tahun 1997. Saya tulis ‘hanya’ karena ‘apa-susahnya-untuk-punya-mobil-lebih-dari-itu-dengan-jabatan-setinggi-itu?’

Setahuku, Bunda sendiri memang tak berniat ganti mobil. Walau begitu, banyak koleganya yang menawarkan diri menggantikan mobil tersebut. Tapi beliau sering menolak… “Mpun, niki mawon. Sing penting lak nggelundung (Sudah, ini saja. Yang penting kan masih bisa jalan)”.

Sebenarnya, sebagai co-pilot Kijang Biru kala itu, saya senang saja kalau Bunda ganti mobil. Jadi saya bisa nyetir mobil yang lebih bagus, setidaknya lebih nyaman, kalau gak hafal jalanan Jakarta ada maps dengan layar besar yang sudah build-in, dan tentu lebih berwibawa saat saat turun dari mobil mewwah. Begitu pikirku. Tapi Bunda beda. Beliau tetap nyaman dengan kijang birunya itu.

Keengganan Bunda untuk ganti mobil dan penolakan pada tawaran koleganya itu puasa beliau, atau pengekangan atas nafsu atau godaan yang berpotensi mengganggu keikhlasan beliau, dalam hal ini, terutama, keberpihakannya pada kepentingan orang banyak. Tentu saya tak mengatakan mobil bagus itu sarat goadaan, tapi menurut saya Bunda memilih berpuasa pada godaan itu. Makanya beliau tetap nyaman dengan Kijang Biru itu.

Hal itu juga pernah diungkapkan Bunda dalam sebuah wawancara mengenai Kijang Birunya itu… “Saya tidak akan nyaman menaiki mobil bagus sedang masyarakat di daerah pemilihan saya masih hidup di bawah garis kemiskinan,” kata Bunda, 2011, di Tempo.co.

Mungkin bagi Bunda, mobil ya sama saja. Yang penting manfaatnya: bisa jalan dan tak kepanasan. Di mobil itu, Bunda suka nyetel musik klasik seperti Mozart, Beethoven, Bach, Chopin, Vivaldi dst. Jika tiba pada musik favoritnya, beliau menikmati hingga memainkan tangan di udara, dan bergumam mengikuti iramanya. Aku juga sering mantuk-mantuk mengikuti irama lagu biar kesannya ngerti lagu klasik itu.

Sepertinya momen mengantar Bunda dari satu tempat ke tempat lain merupakan salah satu momen terbaik sepanjang hirup. Sebab pada saat itu, saya dapat belajar dari jarak yang sangat dekat laku hidup Beliau, seperti bagaimana keteguhan memegang prinsip kebenaran, atau cara beliau menaklukkan nafsu sendiri.

Pencerita Ulung

Bunda Lily Wahid adalah pencerita ulung. Beliau sering menceritakan banyak kisah terutama kisah-kisah Ulama hubungan dan hubungan para ulama NU. Cerita-cerita ulama dibungkus dengan sedemikian mudah dipahami dan seringkali menekankan pada sisi jenakanya sehingga sering kali membuat seisi ruangan tertawa ngakak. Cerita-cerita itu tak bebas nilai. Cerita itu cerminan atau pedoman bagi kita yang menjdi bagian perjuangan para ulama itu.

Cerita akan semakin seru saat berada di makam tertentu. Seperti saban nemenin Bunda ziarah ke Sewulan Mojokerto, Bunda sering menceritakan ulang hubungan Sewulan dan Tebuireng sambil menunjuk satu per satu makam yang disebutkannya. Salah satu cerita favorit yang saya ingat adalah seorang Bu Nyai yang super galak yang bahkan ditakuti poro kiai di jamannya.

Cerita di balik kejadian besar Indonesia dan dunia sering menjadi pembuka pembicaraan panjang. Semua cerita-cerita itu akan diakhiri dengan analisa yang sudah mafhum ditebak: “Apa dampak kejadian itu pada NU dan Bangsa?” atau “Bagaimana NU dapat berperan untuk kemaslahatan bersama”. Dari sana, biasanya Bunda akan mengambil ibroh dari kisah para Ulama di masa lalu, untuk menjadi cerminan atau pedoman atas langkah yang baiknya diambil pada saat ini.

Kepiawaian Bunda bercerita dengan seru membuatnya menjadi konsolidator ulung untuk berbagai level stakeholder: para penguasasan pejabat senang mendengarkan ceritanya di sela-sela obrolan berat, para kiai sering ngakak-ngakak menikmati kisah-kisah seru Bunda, apalagi para aktivis muda tak kalah senangnya mendengar cerita seru yang disampaikan Bunda. Apalagi kalau sudah malam, sampai abai akan kesehatan.

Bunda pada dasarnya adalah Ulama perempuan yang ramai dan terbuka. Sifat itu membuat kalangan aktivis NU yang muda merasa nyaman di dekat Bunda, untuk cerita masalah yang dihadapinya atau sekedar memohon bantuan kecil dari Bunda.

Sejatinya, saat Bunda berada di tengah anak-anak muda sambil bercerita, sebenarnya beliau sedang menjadi bagian dari pembangunan peradaban yang jauh lebih besar. Lebih dari itu, Bunda sedang meng-install cita-cita ke dalam batok kepala pada kita para pendengarnya, sehingga kelak menjadi bagian dari perjuangan besar itu.

“What is more powerful than a story?”

Dua Kata yang Sering Diucapkan: Nahdlatul Ulama dan Indonesia

Selain aurod rutin beliau tentunya, barangkali, jika ada yang mencatat dengan baik, kata “Nahdlatul Ulama” dan “Indonesia” adalah dua kata terbanyak yang diucapkan oleh Bunda Lily Wahid.

Setiap kali beliau ngobrol baik formal maupun dalam santai, tak pernah tidak membicarakan NU dan Indonesia. Yang dipikirkan selalu lah kemaslahatan umat, dan nasib warga NU.

Semoga Allah menerima amal ibadah beliau dan memaafkan kesalahan beliau selama hidup. Alfaatihah…

(AN)