Obituari: KH Maimoen Zubair, Ulama Lintas Zaman dan Peneguh Cinta untuk Indonesia

Gambar: oasemuslim.com

Obituari: KH Maimoen Zubair, Ulama Lintas Zaman dan Peneguh Cinta untuk Indonesia

Kenangan sederhana tentang KH Maimoen Zubair dan cara dia menjaga Indonesia

Kabar duka itu datang dengan tiba-tiba, sosok guru dan ulama yang menjadi panutan untuk terus mencintai Indonesia, KH Maimoen Zubair, berpulang pagi ini di Mekah. Tangis dan doa pun terus bertebaran dan menghiasi media sosial kita hari ini. Lalu, kenapa ia begitu dicintai banyak orang, bahkan dianggap guru ulama di Indonesia?

KH Maimoen Zubair lahir 91 tahun lalu, tepatnya 28 Oktober 1928, bertepatan dengan peristiwa penting di Indonesia: Sumpah Pemuda. Kelak, kita menyebutnya sebagai tonggak pembebas negeri ini dari penjajah dan mewujudkan mimpi kemerdekaan.

KH Maimoen Zubair pun kerap menyitir peristiwa penting ini sebagai narasi sederhana untuk kembali mencintai Indonesia. Kembali dari apa? Tentu saja, dengan kembali mencintai Indonesia sebagai negeri yang sudah syar’i, sebagai negeri Islam tapi tidak formalistik. Konsepsi Islam sebagai negara dan Indonesia harus berubah menjadi negara Islam (Kekhilafahan) yang kerap didengungkan belakangan ini yang membuat beliau resah.

Read More

Bagi beliau, khalifah atau kekhilafan menurut beliau sudah tidak ada, tapi masih ada dalam bentuk yang lain dan itu ada di Indonesia. Konsepnya ada empat. Sedangkan yang empat itu adalah hal yang harus dirujuk.

“Kita mempunyai pilar (negara islam-red) yang empat; Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan yang akhir Undang-Undang 1945,” tutur beliau.

Empat hal ini perwujudan konsep syar’i yang ada di Indonesia sebagai negara. Dalam sistem politik Islam, sebagai negara, Indonesia sudah sangat Islam dan tidak perlu lagi diubah menjadi negara Islam maupun kekhilafahan. Cukup Negara Kesatuan Republik Indonesia, kata Mbah Moen.

Jika Anda sering mendengar ceramah beliau, baik langsung maupun via youtube atau semacamnya, maka akan dengan sangat mudah menemukan narasi yang beliau bangun seperti di atas. Mencintai Indonesia sebagai konsep integral dengan mencintai Islam sebagai agama. Keduanya tidak bisa dipisahkan.

Jadi, menjadi muslim harusnya juga mencintai Islam sebagai tempat ia tumbuh dan hidup. Dan, beliau tidak sekadar cerita untuk menunjukkan cinta kepada Indonesia.

Suatu hari, ketika mendatangi sebuah kegiatan di forum Nahdlatul Ulama, beliau seperti biasa datang dan kondisi kesehatan beliau sedang tidak bagus. Beliau pun datang dengan menggunakan kursi roda.

Nah, ketika sesi pembuka dengan Indonesia Raya, beliau berdiri dan turut melantunkan lagu kebangsaan ini. Sontak, hal ini membuat kita terkaget; beliau yang susah untuk berdiri dengan kondisi tubuh dan mungkin usia, tapi ketika ada Indonesia Raya tubuh itu tiba-tiba kuat atau sengaja dibuat kuat untuk menghormati negeri ini.

Hal itu diceritakan oleh putri Gus Dur, Alissa Wahid dan peristiwa itu terjadi pada tahun 2015. “Mau nangis melihat Kyai Maimoen ZUbair yang berkursi roda memaksa untuk menyanyikan Indonesia Raya,” cuit beliau.

Hati siapa yang tidak bergemuruh. Beliau yang sudah sepuh begitu mencintai Indonesia. Jejak ini yang ditiru oleh ulama dan Ustadz di seluruh Indonesia untuk terus mencintai negeri ini dan menjadikan Islam itu spirit untuk membangun negeri. Bukan malah sebaliknya. Apalagi, jika mengingat dakwah yang gemar menggunakan nada-nada yang keras dan tidak lemah lembut.

“Kalau dakwah jangan galak-galak,” kata beliau.

Dakwah dengan galak ini yang belakangan kita lihat, apalagi di musim pemilihan umum beberapa waktu lalu. Dan, bisa jadi, akan terus terjadi mengingat tensi politik yang terus meningkat meskipun pilpres sudah rampung. Di level tertentu, ketika ketegangan dan politik kian memanas maupun masyarakat kian terpolarisasi, Indonesia sebagai negara ditakutkan akan runtuh.

Hal itu, menurut Mbah Moen, merupakan sesuatu yang berbahaya. Apalagi tugas sebagai muslim untuk terus senantiasa menjaga negeri ini, bukan malah merongrong dan berusaha memecah belah, apalagi menggunakan agama sebagai alat untuk mengdiskreditkan orang lain maupun yang berbeda. Persaudaraan dan persatuan negeri adalah alat penting untuk terus menjaga negeri ini.

Sebagai seorang ulama, beliau senantiasa menjadi kompas bagi kita semua agar  bangsa ini tidak salah langkah dalam mengambil keputusan.  Namun, sesuai titah beliau, tentu saja menjaga negeri adalah sebuah kewajiban dan menjadikan Islam sebagai spirit untuk menebarkan Islam yang Rahmatan Lil Alamin, tidak hanya di Indonesia melainkan menebarkan Islam (Ufsus Salam) ke seluruh negeri.

Selamat jalan, Mbah Moen. Negeri ini akan selalu merindukanmu. Alfatihah….