Ketika Hidayat Nur Wahid dan Haikal Hassan Sebar Hoax tentang Mbah Moen

Happy kids reading Koran

Ketika Hidayat Nur Wahid dan Haikal Hassan Sebar Hoax tentang Mbah Moen

Belum hilang duka bangsa, muncul “duka” lain yang tak kalah perih: hoax, pencitraan, dan narsisme para politisi genit yang menunggangi wafatnya Mbah Moen.

Berpulangnya Kiai Maimoen Zubair merupakan duka besar bagi Bangsa Indonesia. Media sosial yang biasanya riuh dengan hiruk-pikuk perpolitikan, sementara ini penuh dengan kilas balik Kiai Maimoen.

Ada yang membagikan pengalamannya selama nyantri di Sarang, ada juga yang sebatas mengunggah foto bersama beliau dalam berbagai kesempatan. Dan tidak kalah penting, produksi ceramah-ceramah keagamaan serta foto Mbah Moen berikut quote-qoutenya juga turut meramaikan lini masa kita.

Namun, bedebah!! belum kering air mata kita menangisi kepergian salah satu sesepuh bangsa ini, menyusul “duka” lain yang tak kalah perih: hoax, pencitraan, dan narsisme para politisi genit yang menunggangi momentum mangkatnya Kiai Maimoen.

Read More

Pertama, politisi PKS sekaligus mantan Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid (HNW) berkicau di twitter (tweet tersebut telah dihapus) soal Kiai Maimoen yang seolah menunjukkan keberpihakannya atas Habib Rizieq Syihab (HRS). Nahas, cuitan penuh pesan moral ini harus kandas otentisitasnya.

Abdi Kurnia Djohan—seorang yang dikutip HNW—membantah bilamana dia meriwayatkan pesan Mbah Moen sebagaimana cuitan HNW. Dan di atas itu semua, ia juga memberi penjelasan kalau dirinya bukanlah pengasuh Ponpes Al-Hikam laiknya imajinasi HNW.

Dengan demikian, secara mata rantai cuitan HNW itu penuh cacat dan bahkan bisa dibilang bualan.

Sementara, secara matan atau redaksi, Rumail Abbas dalam akun twitternya @stakof menerangkan betapa daif bahkan munkarnya kicauan HNW. Disebutkan olehnya kalau HNW hanya menyampaikan “kebenaran sempalan”, alias tidak utuh dalam menyampaikan pesan.

Menurutnya, begini kurang lebih pesan Mbah Moen yang benar:

Jangan sampai berani menghina Sayid. Bagaimanapun ada darah Kanjeng Nabi pada mereka. kalau tidak suka, anggap saja seperti sobekan Quran. Yang namanya sobekan, tidak bisa dibaca. Tapi, jika ditelantarkan/dihina, jelas haram….”

“…namun jangan juga berani mengina Kiai. Karena bagaimanapun, kiai adalah pewaris para nabi. Kalau tidak suka, tidak masalah. Tidak perlu kamu ikuti. Tapi jika sampai berani menghina mereka, Kanjeng Nabi pasti sakit hati jika pewarisnya dilukai.”

Mbah Moen, masih dalam thread @stakof, sedang memberikan petuah pada kita semua yang terbelah antara “maniak habaib” dan “maniak kiai”. Yang maniak habaib tidak segan-segan menghina kiai, begitupun sebaliknya. Padahal, keduanya punya marwah kehormatan yang sama.

Kedua, masih tentang HRS. Imam besar FPI ini ramai-ramai diglorifikasi sebagai perapal doa dalam prosesi pemakaman Mbah Moen.

Sayang, upaya ini pun harus berbenturan dengan rilis resmi dari pihak yang bertanggung jawab atas WNI di Makkah (PPIH Arab Saudi), bahwasannya Sayyid Ashim bin Abbas bin Alwi al-Maliki lah yang memimpin doa untuk prosesi pemakaman Mbah Moen.

Terus terang, betapapun itu, saya tiada masalah dengan Habib Rizieq. Bahwa kemudian dia mewarisi darah Kanjeng Nabi dan turut mendoakan Mbah Moen itu iya.

Tapi toh yang mendoakan juga banyak, bukan? Mengapa soal soal memimpin tidak memimpin doa ini menjadi begitu penting untuk dilebih-lebihkan?

Saya bahkan sangat yakin kalaupun, ingat kalaupun, HRS hadir dalam prosesi pemakaman dan didaulat sebagai pemimpin doa, dia pasti sangat tidak berharap untuk dinarsiskan. Apalagi diseret-seret sampai ke soal politik “ralat doa”, “amplop”, dan “maksa2” seperti kicauan Haikal Hassan—belakangan telah dihapus—di twitter.

Demikian halnya kepada mereka yang terlampau berlebihan menyoal hadir tidaknya HRS di Ma’la. Bukankah hal wajar jika sesama umat Islam itu melayat bahkan mengiringi jenazah sampai ke liang lahat?

Lagi pula, Mbah Moen itu milik semua kok. Semua berhak mencintai Mbah Moen, karena beliau memang layak untuk dicintai. Tapi pliss, mbok ya jangan bercinta dengan kabar bohong bermotif duka.

Sebab, urusan percintaan macam apa yang diperagakan dengan kepicikan semacam itu? Entahlah.

Yang jelas, tidak peduli seberapa khusyu ibadah Anda, selama mendengar kabar berpulangnya seorang kekasih Allah, sedang sanubari Anda tidak tergetar, apalagi sampai membajak seorang kekasih Allah untuk kepentingan golongan, maka layak dipertanyakan kekhusyukan Anda.

Wallahu a’lam.