Mengapa Putin Mengutip Ali Imron ayat 103 untuk Yaman dan Timur Tengah yang Damai?

Vladimir Putin mengutip surah Al-Quran dan ingin perdamaian terjadi di Timteng

Mengapa Putin Mengutip Ali Imron ayat 103 untuk Yaman dan Timur Tengah yang Damai?

Vladimir Putin mengutip Al-Quran untuk perdamaian, kita malah ribut melulu

Presiden Rusia Vladimir Putin mengingatkan agar pihak yang berperang di Yaman berdamai. Dari Ibu Kota Turki, Angkara, Putin kemudian diberitakan mengutip Q.S. Ali-Imran [3]: 103 agar Yaman menghentikan perang saudara.

Ini menjadi menarik tidak hanya karena dikutip oleh seorang Putin, tetapi juga karena ayat ini memang luar biasa kandungannya—kendati semua ayat Alquran bagi saya tidak kalah luar biasa tanpa terkecuali.

Syu’bah Asa dalam Memecah Perpecahan mengatakan bilamana terdapat dua kata kunci dalam ayat tersebut. Pertama, “tali Allah”; dan kedua, bercerai-berai. Pada yang pertama itu, “Tali Allah” dimengerti sebagai lingkup internal umat Islam, atau al-Jama’ah kalau merujuk pada Ibn Abbas seperti dirujuk tafsir al-Qurthubi.

Read More

Sementara, sehubungan dengan kata kunci kedua, ungkapan “jangan berceari-berai” (walaa tafarraqu kalau redaksi aslinya) menunjuk pada larangan berpecah belah dalam perkara agama. Kita telah melihat betapa kelompok Yahudi dan Nasrani basah kuyup oleh perkara ini. Demikian jika kita merujuk pada riwayat Ibn Mas’ud.

Meski begitu, lanjut Syu’bah yang mengutip al-Qurthubi, walaa tafarraqu tidak bisa diberlakukan pada “perselisihan” pendapat dalam maslah furu’, bil khusus dalam bidang hukum. Para sahabat Nabi sendiri bahkan berbeda pendapat dalam soal-soal (fikih) yang muncul, sedang hal itu tidak menghalangi mereka untuk tetap harmoni.

Dengan kata lain, yang termasuk larangan dalam perkara ini adalah perselisihan yang merupakan sebab-sebab terjadinya bencana. Atau, lebih tepatnya adalah perselisihan yang digerakan nafsu.

Akan tetapi, seperti ditunjukan oleh seorang mufasir revolusioner Mesir, Muhammad Abduh, kedua-duanya terkadang bisa menjadi satu: perselisihan agama itu menjadi perselisihan karena peranan nafsu. Dan, kengerian dari hal ini dapat kita saksikan dengan sangat melimpah ruah.

Pasalnya, kata Abduh, ada dua perselisihan, atau bahasa lebih halusnya “ketidaksepakatan”. Pertama, yang mutlak merupakan bagian hidup manusia, alias ketidaksepakatan dalam pandangan dan pendapat.

Dengan ciamik, Abduh berkata: keseragaman manusia dalam pikiran dan pendirian merupakan hal yang tidak akan bisa dicapai dan diinginkan”. Di titik ini, larangan—sebagai ajaran yang dibebankan (taklif)— “perpecahan” tidak akan bisa dipikul oleh umat, dan karenanya Q.S. Ali-Imran: 103 memang tidak sedang membahas demikian.

Sementara, perselisihan jenis kedua adalah yang sangat mungkin dapat dihindari, dan oleh karena itu lebih relevan dengan ayat tersebut. Dengan kata lain, ia adalah perpecahan yang disebabkan oleh hawa nafsu dalam hal agama dan hukum-hukum.

Dan, “perpecahan” golongan kedua inilah yang sangat diwanti-wanti oleh Abduh sebagai perkara paling berbahaya karena ia dapat “menghapuskan lambang-lambang petunjuk”. Abduh kemudian memberi contoh dari kalangan umat Muslim sendiri, utamanya di masa hidupnya pada peralihan abad 19-20.

Dikatakan olehnya, “sementara para imam fikih saling berbeda pendapat dengan santai, wajar, dan rukun, umat Islam di belakang hari justru menyadarkan diri pada nukilan-nulian dari mazhab mereka masing-masing. Akibatnya, di situ hawa nafsu menjadi hakim dalam agama, dan fanatisme antar-mazhab menyeruak”.

Karena itu, Abduh dengan tegas menggariskan sikap berikut: “sepanjang seorang Muslim tidak mengabaikan nas-nas Kitabullah dan penghormatan kepada Rasul, maka dia berada dalam keislamannya, tidak kafir, dan tidak keluar dari jama’ah muslimin”.

Sebaliknya, bilamana hawa nafsu telah menjadi hakim, lalu sesama umat saling mengutuk dan mengkafirkan, maka siapa yang melontarkan tuduhan akan pulang dengan membawa tuduhannya sendiri, seperti disebut dalam Hadis Nabi.

Kendati demikian, di atas itu semua, ayat ini barangkali lebih tepat dipahami tidak sehubungan dengan perpecahan agama.

Masih di ayat yang sama, dan dalam hal ini adalah teks yang dikutip oleh Putin, redaksi “ingatlah anugerah Allah kepada kamu ketika kalian bermusuh-musuhan…..” sebetulnya menjelaskan bahwa yang hendak diteguhkan dengan “tali Allah” dan “jangan berpecah-belah” adalah umat Muslim generasi awal yang, saat itu, baru saja mentas dari kehidupan suku yang penuh peperangan.

Termasuk dalam hal ini adalah suku Aus dan Khazraj, yang berada dalam permusuhan 120 tahun dan baru beranjak rukun setelah kedatangan Islam. Dan, menurut banyak riwayat, hal itulah yang melatari turunnya Q.S. Ali-Imran [3]: 103 ini.

Adapun kalau ayat tersebut kita bawa ke konteks di luar masa turunnya, ada satu sinyal dari Abduh yang bisa kita pakai. Yakni, tentang larangan perselisihan dalam perkara “muamalah” yang termasuk di dalamnya adalah urusan politik dan kenegaraan—yang dalam situasi aktual bisa lebih mencuat dan lebih berbahaya, daripada perbedaan-perbedaan diskursus bahkan doktrinal keagamaan selama ini.

Dengan begitu, lepas dari segala kepentingan yang ada di balik fenomena politik Timur Tengah, statement Vladimir Putin memang layak diapresiasi. Kalau orang seteras Putin saja menyeru perdamaian, mengapa kita malah berlaku sebaliknya, yang justru menabuh genderang permusuhan. Padahal sumbernya sama-sama Alquran, bukan? Tidak-kah kita merasa wagu?