Memaknai Nyepi: Welas Asih, Kedamaian, dan Pencerahan

Memaknai Nyepi: Welas Asih, Kedamaian, dan Pencerahan

Apa makna Nyepi yang dikhidmati Umat Hindu di tengah dunia—khususnya realitas sosial-politik Indonesia—yang sering keras dan hiruk-pikuk?

Memaknai Nyepi: Welas Asih, Kedamaian, dan Pencerahan

Apa makna Nyepi yang dikhidmati Umat Hindu di tengah dunia—khususnya realitas sosial-politik Indonesia—yang sering keras dan hiruk-pikuk? Dalam kegaduhan, kekacauan, dan kekarut-marutan, ada saatnya kita perlu mengambil jarak, menarik diri, kemudian masuk dalam senyap, sunyi, sepi, dan hening. Ada saatnya kita perlu berefleksi, tafakur, dan merenung. Inilah Nyepi untuk menyelam dalam samudera keheningan dan kejernihan.

 

Upacara Bhuta Yajna: Mengusir Kejahatan dan Keangkaramurkaan

Nyepi adalah saat yang tepat untuk menyucikan diri, baik secara lahir maupun batin. Setiap orang punya potensi untuk melakukan kebaikan dan keburukan. Setiap manusia punya akal dan hati sekaligus juga punya nafsu dan ego. Dengan Nyepi, manusia masuk dalam keheningan untuk merengkuh kebaikan dan kejernihan. Dengan Nyepi, manusia mencoba menampilkan sisi baik dan luhur (jujur, bersih, empati sosial, welas asih, dll.), serta menepiskan sisi buruk dan jahat (dengki, dendam, korup, kejam, serakah, munafik, biadab, zalim, dll.).

Itulah mengapa sebelum saat Nyepi dilakukan, Umat Hindu melakukan upacara Bhuta Yajna, suatu ritual untuk mengusir keburukan, kejahatan, dan keangkaramurkaan. Dalam upacara Bhuta Yajna, Umat Hindu biasanya mengarak suatu replika raksasa jahat dalam bentuk ogoh-ogoh yang tampilannya beraneka ragam, untuk kemudian dihancurkan dan dimusnahkan. Dengan membuat, mengarak, lalu menghancurkan ogoh-ogoh, Umat Hindu bertekad untuk melawan dan menghilangkan keburukan, kejahatan, dan keangkaramurkaan, baik itu yang ada di “luar” maupun di “dalam”.

Yang ada di “luar” adalah keburukan, kejahatan, dan kengakaramurkaan yang tampak dalam realitas sosial dan kenyataan yang memprihatinkannya dari waktu ke waktu semakin banyak kita temukan dalam alam Nusantara ini. Sementara, yang di “dalam” adalah keburukan, kejahatan, dan kengkaramurkaan yang bersarang dalam struktur psikis, watak, dan mental manusia. Antara yang di “luar” dan yang di “dalam” saling bertumpang tindih, berjalin, dan berkelindan karena aktor utama kehidupan di dunia ini adalah manusia juga.

Lebih luas lagi, dalam momen Nyepi, Umat Hindu memohon kepada Tuhan, Sang Hyang Widhi, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/mikrokosmos) dan Bhuana Agung (alam semesta/makrokosmos). Manusia dan alam adalah dua hal yang saling bersentuhan dan berhubungan. Hubungan keduanya haruslah selaras dan seimbang agar kehidupan bisa terus berlangsung dengan (semakin) baik.

Selama ini dalam alam modern yang kapitalistik, manusia bertindak eksploitatif kepada alam (semesta). Sumber daya alam dikuras habis-habisan tanpa kendali dan alam dirusak sehingga keseimbangan alam dan ekosistem terganggu serta bencana dan malapetaka terus terjadi bagai tiada habisnya. Upacara Tawur Agung yang dilakukan Umat Hindu saat Nyepi, terutama dimaksudkan untuk membersihkan dan merawat alam semesta agar terwujud harmonisasi kosmos. Nyepi adalah momen yang tepat bagi manusia untuk berefleksi bahwa kondisi baik dan buruknya alam semesta adalah akibat ulah manusia juga.

 

Catur Brata: Antara Nafsu, Akal Budi, dan Hati Nurani

Saat Nyepi, Umat Hindu menarik diri dan mengambil jarak dari kehidupan duniawi yang fana dan sementara. Mereka melakukan Catur Brata penyepian, yaitu amati geni (tidak menggunakan api atau penerangan), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan).

Selama ini, manusia sering tergoda mengikuti ego dan nafsunya sehingga terlena dalam kehidupan dunia. Manusia sering menghalalkan segala cara, bertikai, dan saling menghancurkan untuk mengejar kegemerlapan dunia (terutama tampak dalam “harta” dan “kuasa”). Materi, ekonomi, jabatan, dan kekuasaan sering menjadi penyebab utama pertikaian antarmanusia, bahkan antara kerabat dan saudara dekat sekali pun. Materi dan ekonomi (kadang juga libido seks yang tak terkendali) sangat potensial membentuk dan mengubah basis kesadaran dan nilai-nilai yang dipunyai seseorang.

Nyepi adalah momen yang tepat bagi manusia untuk mengendalikan nafsu dan egonya agar tidak dikendalikan dan diperbudak oleh hal-hal duniawi yang tak hanya fana dan sementara, namun kadang juga menipu, mengelabui, dan menyulut kekerasan. Jalan menuju ke situ tak selalu mudah. Mengendalikan nafsu dan ego di satu sisi, serta mengindari perbudakan materi dan duniawi bukan hal yang sederhana. Materi, jabatan, popularitas, dan hal-hal duniawi lainnya selalu menggoda dan memesona.

Untuk itu, pada momen Nyepi sebagian Umat Hindu juga melakukan puasa, yoga, semadi, tapa brata, dan semacamnya. Dengan cara ini, seseorang berusaha menyelami dirinya sendiri agar bisa mengendalikan ego dan nafsunya, menjernihkan akal budi dan pikirannya, serta menajamkan dan memperpeka hati nuraninya. Ego dan nafsu sangat berbahaya dan punya potensi untuk muncul dan bangkit kembali. Karena tak mampu mengendalikan ego dan nafsunya seseorang pun berbuat jahat dan aniaya. Setelah tersadar, dia baru menyesal. Hal seperti ini sangat sering terjadi pada diri manusia, bahkan pada diri seseorang yang dalam keseharian tampak baik, tenang, halus, dan alim sekali pun.

 

Dharma Shanti, Tattwamasi, dan Welas Asih

Setelah ritual Nyepi usai, Umat Hindu lalu melakukan Dharma Shanti dengan keluarga, tetangga, dan masyarakat. Mereka mengucap syukur dan saling memaafkan. Inti Dharma Shanti antara lain adalah filosofi Tattwamasi yang memandang bahwa semua manusia (apapun agama dan keyakinannya) harus saling menyayangi, memaafkan, rukun, dan damai. Mereka harus saling berempati, tolong menolong, saling menguatkan, dan mengasihi. Cinta kasih dan welas asih yang bersemi pada diri manusialah yang bisa menghantarkan kesemuanya menuju pencerahan dan cahaya nirwana.

Untuk itu, laku ke “dalam” yang dilakukan saat Nyepi juga perlu dilengkapi dengan laku ke “luar”. Laku ke dalam adalah upaya memperbaiki diri dari “dalam” (psike, mental), sementara laku ke luar adalah turut aktif melakukan perubahan sosial dan tindakan nyata menuju kehidupan yang semakin baik, indah, dan bermakna.

Saat Nyepi, manusia selalu diingatkan untuk bercermin diri, melihat diri sendiri; sudah sejauh manakah kita melangkah, sudah benarkah langkah yang kita ambil dan lakukan, sudahkan perbuatan kita berguna bukan hanya bagi diri sendiri namun juga bagi manusia lain dan lingkungan sekitar kita? Hal-hal baik dan luhur apakah yang akan kita lakukan ke depan?

Selamat Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Saka 1940.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om.

*) M. Arief Hakim adalah Penghayat Religiositas dan Spiritualitas, Ketua Yayasan Hati Nurani Bangsa (YHNB).