Masjid: Antara Tempat Politisi dan Strategi Dakwah Nabi

Masjid: Antara Tempat Politisi dan Strategi Dakwah Nabi

Belakangan ini, masjid tidak hanya dijadikan sebagai tempat beribadah dan menyucikan diri, namun dijadikan sebagai tempat untuk berpolitik, merebut kursi.

Sedih, manakala mendengar di luar sana banyak sekelompok orang yang menggunakan masjid sebagai tempat untuk berpolitik dan mengampanyekan calon kepala daerah. Namun di Jogja sini, saya menemukan sebuah masjid yang menjadi pusat peradaban keilmuan. Di masjid ini, saya menemukan tokoh-tokoh pada masa kejayaan Islam, seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Kindi, Ibnu Khaldun, Al-Khawarizmi, dan Ibnu Rushd, itu terlahir kembali.

Ya, masjid itu bernama: Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta.

Masjid ini sudah banyak dikenal oleh masyarakat luas melalui metode dakwah dan syiarnya terhadap menyebarkan nilai-nilai islam yang rahmatan lil ‘alamin. Sangat wajar ketika saya menginjakkan kaki di masjid ini, saya menemukan Tuhan tanpa embel-embel hadiah umroh maupun undian mobil. Saya benar-benar menemukan Tuhan yang sejati dengan kajian-kajiannya yang membumi maupun melangit.

Read More

Diakui, memakmurkan masjid sangatlah penting untuk menyatukan umat Islam. Namun, kalau tujuannya untuk berpolitik praktis dan berkampanye dukung mendukung tokoh tertentu dan memusuhi kelompok tertentu, hal itulah yang perlu dikoreksi kembali seberapa besar iman dan keislaman kita? apakah iman dan islam kita sebatas pilkada yang lima tahun sekali itu?

Di Masjid Jendral Sudirman, saya dikenalkan dengan apa itu Islam? Islam yang saya pelajari melalui kajian-kajian yang diberikan, bahwa Islam itu adalah agama yang notabene sebagai jalan (thariqah) menuju keselamatan, yang dicapainya dengan mencerminkan akhlak yang mulia. Termasuk di antaranya bagaimana akhlak dalam menghadapi perbedaan, biar tidak mudah kagetan dan melabeli sesat atau kafir terhadap orang lain.

Menariknya, setiap pengajian yang saya ikuti di masjid ini, sang guru selalu menutup kajiannya dengan mengucapkan “Wallahhu a’lam Bisshowab”. Yang artinya, Tuhan Maha Tahu atas kebenaran. Maksudnya, manusia hanya bisa meraba-raba akan kebenaran terhadap sesuatu dan kita menyandarkan segala sesuatu pemahaman yang paling absah itu diserahkan sepenuhnya kepada Allah Swt.

Pada Rabu malam, sebagaimana jadwal rutin ngaji filsafat yang diampu oleh Kiai Fahruddin Faiz, tentang filsafat etika. Pada tema itu, kita diajak untuk menjadi manusia yang beradab, punya sopan santun, tata krama, orang Jawa bilang “unggah-ungguh”, serta diajak agar berakhlak yang baik. Karena ketika seseorang sudah kehilangan nilai dari norma dan akhlak, maka tak ada bedanya lagi manusia dengan hewan, yang mana ciri-ciri hewan adalah ia punya tata perilaku, tetapi tidak ada pedoman normatif, dan tingkah laku nya tidak direfleksikan secara etis.

Oleh sebab itu, proyek besar Tuhan menciptakan Nabi Agung Muhammad Saw tak lain adalah membenahi akhlak (moralitas) umat manusia. “Innama Bu’istu Liutammima Makarimal akhlak”. Aku diutus oleh Allah semata-mata untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

Manakala akhlak atau budi pekerti seseorang itu sudah baik, maka orang tidak akan lagi membahas, kamu ideologinya apa, kamu madzhabnya siapa, shalat kamu meniru imam siapa, dan lain-lain.

Hal ini senada dengan apa yang pernah disampaikan oleh almarhum Gus Dur,  “Tidak penting apa agamamu atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan tanya apa agamamu”.

Dan pernyataan itu pun dilengkapi, disinggung oleh Kiai Faiz yang disebut dengan ‘meta etika’. Walaupun orang Islam, tetapi suka korupsi, menilep uang rakyat, ya sama saja, nilai keislamannya di mana. Walaupun sholat tiap hari, tetapi maksiat jalan terus, bahkan parahnya suka melakukan tindak kekerasan dengan membawa-bawa nama Tuhan; Allahhu Akbar, begitu koarnya; nilai keislamannya dimana.

Itu pertanda bahwa orang tersebut hanya sebatas muslim (orang yang beragama Islam), akan tetapi tidak bisa memahami apa sebenarnya hakikat makna dari keislaman itu sendiri.

Begitulah makna Islam yang pernah saya pelajari melalui kajian di masjid ini. Sehingga saya sangat terpukul manakala mendengar masjid di kota-kota besar seperti di Jakarta, yang sekarang sudah mulai banyak dijadikan sebagai ajang berpolitik praktis, dukung mendukung tokoh tertentu di pilkada.

Ya, Nabi dulu memang menggunakan masjid untuk berpolitik, namun bukan untuk mengafirkan dan dukung mendukung tokoh tertentu untuk merebut kekuasaan. Namun, nabi menggunakan masjid sebagai ajang berpolitik dalam mendakwahkan Islam, yakni dengan stratagi kajian, menambah wawasan keilmuan, bermusyawarah, dan berdiskusi bersama para sahabat-sahabatnya.

Wajar jika nabi pernah bersabda, “Barang siapa yang masuk ke dalam masjid (Ku) ini untuk mengajar kebaikan atau belajar (mencari ilmu), maka ia bagaikan orang yang berjuang menegakkan agama Allah”. (HR. Ibnu Majah).

Pada akhirnya, apabila kita ingin mencapai masa kejayaan sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi Saw, maka, ramaikanlah Masjid untuk menebar kebaikan dan menyebarkan ilmu.

Betapa bahagianya tatkala melihat masyarakat berbondong-bondong, terlihat guyub-rukun berjama’ah, saling bergandengan tangan untuk menuju rumah Allah, dengan tujuan satu; mengabdi kepada-Nya. Bukan mengabdi kepada partai politik maupun calon kepala daerah. Wallahhu a’lam.

Muhammad Autad Annasher, penulis bisa disapa melalui akun twitter @autad.