Khutbah Jumat: Islam itu Berbasis Etika dan Kemaslahatan, Bukan Kerusakan

Khutbah Jumat: Islam itu Berbasis Etika dan Kemaslahatan, Bukan Kerusakan

Khutbah Jumat tentang Islam dan etika.

Khutbah Jumat: Islam itu Berbasis Etika dan Kemaslahatan, Bukan Kerusakan
Menolong orang lain adalah beberapa cara sederhana dalam implementasi akhlak Nabi, juga termasuk bagian dari sedekah.

Khutbah Jumat Pertama: Islam berbasis etika dan kemaslahatan, bukan kerusakan

الْحَمْدُ للهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ،ـ أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْم: كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Maasyiral Muslimin Hafidzakumullah

Akhir-akhir ini  kita membaca berita di banyak media yang mengulas beberapa peristiwa terror yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Terror ini menargetkan tempat-tempat peribadatan, gedung-gedung peradilan dan markas kepolisian. Mirisnya terror ini menggunakan agama sebagai justifikasi bagi semua aksi-aksinya. Kenapa seorang mahasiswi dengan bangganya ingin masuk surga dengan cara membunuh sesama manusia? Kenapa seorang suami istri yang ingin masuk surga caranya ialah dengan mengebom dan membinasakan manusia?

Jelas di sini, akal atau nalar sudah tidak lagi bekerja. Yang ada dalam benak mereka hanyalah kebencian-kebencian terhadap kelompok selain mereka. Mereka anggap manusia selain kalangan mereka sebagai kaum kafir yang layak dibunuh. Sungguh ironis, masa iya masuk surga bisa tercapai dengan menumpahkan darah seperti itu? Ini jelas tindakan yang tidak menggunakan akal atau pemikiran.

Kata Ali bin Abi Thalib, laa diina liman laa aqla lahu (tidak akan dikategorikan sebagai orang beragama, orang yang tidak menggunakan akalnya).  Sahabat Nabi ini menegaskan bahwa beragama itu perlu akal, perlu pikiran, bukan semata-mata, soal perasaan, apalagi kebencian.

Baca juga: Teks Khutbah Jumat: Cinta dan kasih Islam untuk Seluruh Alam

Lalu apa pengertian akal? Dan bagaimana menggunakan akal dalam beragama? Al-Quran dalam berbagai ayatnya selalu menganjurkan kita untuk menggunakan akal dan pikiran kita dalam memahami peristiwa di sekeliling kita?

Akal dalam bahasa Arab terepresentasikan dalam kata aqal. Dalam Lisan al-Arab karya Ibnu al-Manzhur, aql didefinisikan sebagai:

العقل: الحجر والنهى، ضد الحمق، والعاقل هو الجامع لأمره ورأيه، مأخوذ من عقلت البعير إذا جمعت قوائمه….العاقل من يحبس نفسه ويردها عن هواها، أخذ من قولهم اعتقل لسانه إذا حبس ومنع الكلام…وسمي العقل عقلا لأنه يعقل صاحبه عن التورط في المهالك أي يحبسه

Aql” ialah daya untuk menahan dan mencegah. “Aql” lawan dari “dungu”. Orang yang berakal disebut sebagai aaqil yang berarti orang yang mampu mengumpulkan pandangan dan pendapatnya. Arti seperti ini disimpulkan dari ungkapan: “aku mengikat (aqaltu) unta jika aku kumpulkan tali-talinya”…orang yang berakal ialah orang yang mampu menahan keinginan diri dan menghindari dari memperturut hawa nafsu. Dalam bahasa Arab ada ungkapan i’taqalat lisanuhu yang artinya “lidahnya terikat jika ia tertahan dan tidak bisa bicara..”. Disebut akal juga karena aql dapat mengikat pemiliknya dari terjerumus ke dalam kehancuran. Artinya akal dapat menahan diri pemiliknya dari terlibat dalam kerusakan.”

Sampai di sini kita melihat bahwa penggunaan aql dalam bahasa Arab sangat mempertimbangkan pertimbangan moral, yakni mencegah dari memperturut hawa nafsu. Kata yang bersinonim dengan aql ialah nuha, yang merupakan jamak dari nahiyyah. Sedangkan nahiyyah, kata Ibnu al-Manzhur dalam Lisan al-Arab ialah “yang mencegah dari kejelekan” (nahiyyah tanha an al-qabih). Kata lain yang bersinonim dengan aql ialah al-hijaa yang dalam Lisan al-Arab diartikan sebagai “mengerti akan kesalahan-kesalahan” (at-Tafathun ilal maghalith aw al-aghalith). Sampai di sini kita tidak menemukan pengertian aqal sebagai “mengetahui sebab-akibat.”

Kata lain yang semakna dengan aql ialah adz-dzhihn. Kata ini meski mengandung arti “pemahaman” namun masih memiliki fitur makna moral. Ibnu al-Mandzhur menjelaskan bahwa dzhihn artinya terungkap dari ungkapan dzahanani ‘an kadza (ia memahamkan aku dari perbuatan jelek ini) yang artinya alhaanii (membuatku lupa tentang perbuatan ini). Dzhihn dalam Lisan al-Arab juga dapat berarti daya (al-quwwah).

Dalam Al-Quran kita temukan banyak sekali ayat-ayat yang mengandung kata aql. Kendati dalam Al-Quran aql tidak disebut dalam bentuk kata bendanya, aql dalam bentuk kata kerjanya menunjukkan arti kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana jalan petunjuk dan mana jalan kesesatan. Kecaman Al-Quran untuk orang-orang musyrik karena mereka tidak mampu membedakan mana jalan petunjuk dan mana jalan kesesatan dan itu artinya la ya’qilun (mereka tidak berakal).

Ini menunjukkan bahwa akal dalam Al-Quran digunakan sebagai cara kita memahami pengetahuan dan meningkatkan pengetahuan, semua itu digunakan untuk kebaikan dan kemaslahatan. Lalu apa yang dilakukan oleh sebagian dari kita yang tidak menggunakan akalnya dalam beragama dan terjerumus ke dalam terorisme tentunya mereka tidak memahami makna Al-Quran tentang peranan akal itu sendiri.

Jelasnya, tidak disebut sebagai orang beragama jika seseorang tidak menggunakan akalnya. Dan akal di sini, ialah sejauh mana kita mengerahkan kemampuan pikir kita untuk memilih kebaikan yang harus kita turuti dan menghindarkan diri dari keburukan dan memperturut hawa nafsu.

Sejarah membuktikan bahwa ilmu pengetahuan Arab yang hidup sampai saat ini yang meliputi fikih, usul fikih, kalam, filsafat dan tasawwuf  semuanya digerakan oleh standar etika dan moral, pertimbangan baik dan buruk.

Fikih merupakan ilmu yang digunakan untuk kebutuhan mengetahui halal dan haramnya sesuatu. Tasawwuf ialah ilmu yang digunakan untuk menapaki jalan mana yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah dan jalan mana yang dapat menjauhkan kita darinya (maqamat wa ahwal). Ilmu kalam juga demikian. Ilmu ini digunakan untuk menilai keyakinan yang sesat dan keyakinan yang benar soal sifat, Dzat dan af’al Allah. Ilmu-ilmu ini diproduk berdasarkan pertimbangan moral.

Baca juga: Khutbah Jumat Singkat: Jihad yang Sering Disalahfahami

Jadi ilmu pengetahuan dalam Islam sangat didasarkan pada pertimbangan moral, termasuk pengetahuan agama kita, harus didasarkan pada akal berbasis akhlak ini.

Jadi, tindak kekerasan apa pun yang mengatasnamakan agama jelas bukan bagian dari agama, karena pelakunya tidak pernah mempertimbangkan baik dan buruk, maslahat atau tidak maslahat. Yang dipertimbangkannya hanya emosi belaka, dan emosi bukanlah akal, beragama dengan emosi bukanlah beragama.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Jumat II: Islam berbasis etika dan kemaslahatan, bukan kerusakan

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه. اللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّم. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْم: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

(AN)