Habib Husein Jafar: Ustadz yang Menyebarkan Hadis Palsu Kiamat, Dosanya Bertumpuk-tumpuk

Habib Husein Jafar: Ustadz yang Menyebarkan Hadis Palsu Kiamat, Dosanya Bertumpuk-tumpuk

Menurut Habib Husein, orang yang tidak bisa memberi manfaat, malah memperkeruh suasana, disertai berbohong atas nama nabi, dosanya bertumpuk-tumpuk.

Habib Husein Jafar: Ustadz yang Menyebarkan Hadis Palsu Kiamat, Dosanya Bertumpuk-tumpuk

Tanggal 15 Ramadhan kemarin yang bertepatan dengan hari Jumat menjadi ajang spekulasi beberapa ustadz terkait kemunculan salah satu tanda kiamat bernama “dukhan“. Berita kemunculan “dukhan” tersebut tersebar di berbagai platform internet. Tersebarnya narasi tersebut memantik beberapa reaksi, ada yang biasa saja, ada yang penasaran, ada juga yang tidak setuju tapi masih penasaran. habib husein

Maraknya dakwah kiamat di berbagai platform di internet tak jarang dibumbui berita bohong (hoaks) atau dalil-dalil hadis palsu. Dalam salah satu contoh misalnya, ceramah Ustadz Rahmat Bayquni yang menjelaskan bahwa tanda-tanda kiamat adalah munculnya oase di tanah Arab. Walaupun belum diketahui jelas kredibilitas sumbernya, Ustadz yang pernah berseteru dengan Ridwan Kamil ini menampilkan video salah satu daerah di Arab yang digambarkan dengan banyaknya rerumputan dan pepohonan.

Kata Rahmat Bayquni dalam ceramahnya, “Coba lihat saudara, daerah ini biasanya gersang, tapi lihat, sekarang sudah dipenuhi rerumputan.” Ceramah Rahmat Bayquni ini bagi orang yang tak pernah datang ke Arab dan menetap di sana dalam waktu yang lama akan mengiyakan dan manggut-manggut saja. Tapi bagi orang yang pernah menetap lama di Arab, akan sadar bahwa ceramah Rahmat Bayquni ini hanya omong kosong belaka.

Saya sendiri pernah bertanya langsung kepada teman-teman yang sedang menempuh pendidikan lanjutnya di Arab Saudi. Mereka hanya tertawa menyaksikan ceramah salah satu ustadz akhir zaman ini. Menurut teman saya, video yang ditampilkan Rahmat Bayquni ini adalah video salah satu daerah di Arab Saudi yang setiap musim hujan akan tumbuh rerumputan dan bunga-bunga indah. Kejadian seperti ini, menurut teman saya, tidak hanya terjadi sekarang, tapi juga sudah terjadi dari dahulu setiap musim hujan tiba.

Habib Husein Ja’far al-Haddar, salah satu habib dan dai muda menyebutkan bahwa berita datangnya dukhan yang dikutip oleh ustadz-ustadz tersebut bersumber dari hadis palsu. Dalam hadis tersebut ada seorang perawi yang bernama Ibn al-Haris al-Hamdani yang divonis tukang pembohong. Bahkan Ibn al-Jauzi menyebutkan bahwa hadis ini dipalsukan atas nama Nabi Muhammad SAW.

Dalam penelusuran penulis, dalam rangkaian sanad hadis tersebut ada juga seorang rawi bernama Ibnu Lahi’ah, yaitu seorang rawi yang hanya dhabit fil kitabah (hafalannya bergantung pada kitab), ketika kitabnya terbakar, hafalan hadis Ibn Lahi’ah ini menjadi kacau. Selain Ibn Lahiah, ada juga rawi lain yang divonis dhaif oleh para ulama.

Beberapa hal ini menunjukkan bahwa sumber-sumber yang digunakan oleh ustadz-ustadz akhir zaman ini bukanlah sumber yang valid, mulai dari kejadian yang disalahfahami di Arab Saudi, hingga hadis pertengahan Ramadhan yang bersumber dari hadis palsu.

Satu hal menarik dari obrolan penulis dengan Habib Husein adalah, menurutnya berbohong atas nama nabi kemudian digunakan untuk narasi-narasi yang dapat mempersulit banyak orang berdampak pada dosa yang berlipat-lipat.

“Orang-orang sudah ribut dengan Corona, sudah betul-betul “sesak napas” karena Corona, eh ini malah diperparah dengan hoaks atas nama nabi yang memperparah keadaan kita,” tutur Habib Husein saat ngobrol bersama penulis dalam program Islamitalk.

Menurut Habib Husein, jika tidak bisa membantu menghilangkan duka banyak orang yang terdampak Corona, tidak bisa memberi manfaat, minimal diam.

“Karena yang nabi katakan, kan, minimal kamu itu kalau tidak bisa memberi manfaat, ya diamlah!” ujar Habib Husein.

Habib Husein juga melanjutkan bahwa orang yang tidak bisa memberi manfaat, malah memperkeruh suasana, disertai berbohong atas nama nabi, dosanya bertumpuk-tumpuk.

“Itu bagi saya, dosanya kombo, lah. tiga dosa berturut-turut yang bertumpuk kayak hamburger,” terang Habib Husein.

Tanda-tanda kiamat seperti yang dijelaskan para ustadz akhir zaman ini, sebenarnya tidak hanya muncul kali ini. Dahulu juga kita pernah menemukan sebuah buku yang berjudul “Dajjal Sudah Keluar dari Khurasan” yang menceritakan seorang pendeta bernama Sai Baba yang memiliki ciri-ciri seperti Dajjal. Sayangnya, hingga Sai Baba meninggal tahun 2011 lalu, juga tidak berdampak banyak bagi perkembangan kiamat di alam semesta.

Pun pada tahun 2012, ketika diramalkan kiamat akan terjadi pada akhir tahun ini atas dasar kalender suku Maya, bahkan telah dibuatkan filmnya, juga tidak terjadi hingga sekarang kiamat yang sebenarnya. Menurut hemat penulis, tanda-tanda kiamat yang diberikan Nabi itu hanya sebatas pada tataran bahwa kiamat akan terjadi.

Nabi sendiri tidak memperjelas kapan terjadinya tanda-tanda kiamat tersebut. Bisa jadi, salah satu tujuannya adalah agar kita bertakwa dan menjadi hamba-Nya yang beriman kapan saja, tidak menunggu tanda kiamat sudah muncul atau belum.

Urusan ustadz-ustadz akhir zaman ini masih melanjutkan dakwah ala-ala cocokologinya, hemat penulis dibiarkan saja, memang rezeki mereka dari sana. Siapa tahu, selanjutnya akan dibuka jurusan “kiamat” di berbagai perguruan tinggi, dan ustadz-ustadz tersebut jadi guru besarnya.

Wallahu a’lam.

Video selengkapnya: