Dunia Kaligrafi Sang Imam Besar (1)

Dunia Kaligrafi Sang Imam Besar (1)

Dunia Kaligrafi Sang Imam Besar (1)
Robert Nasrullah

Robert Nasrullah, pernah masyhur dengan nama tengah keris, Robert ‘Keris’ Nasrullah. Karena dia suka “menaruh” keris dalam karya-karyanya, termasuk karya kaligrafinya. Robert Nasrullah bukan nama asing di dunia kaligrafi.

Meski belum sesenior AD Pirous atu Sirojuddin Abbas, nama Robert telah dikenal luas dalam jagat kaligrafi di Indonesia. Karya kaligrafinya yang khas dengan sentuhan lokal, keris misalnya, telah turut menyegarkan seni kaligrafi Islam di Indonesia yang lekat dengan ornamen-ornamen khas Timur Tengah atapun Arabesque.

Berikut ini obrolan islami.co dengan Robert, yang juga Imam Besar Masjid UIN Sunan Kalijaga Jogjarkarta.

Bagaiman mulanya Anda tertarik dengan dunia kaligrafi?

Tertarik kaligrafi pada saat duduk di bangku madrasah Aliyah, di Kalimantan Selatan dulu. Kaligrafi begitu indah. Saya kesengsem. Itu bersamaan ayah saya tiap pergi, selalu titip dibawain buku kaligrafi

Apa yang waktu itu terbersit dalam pikiran Anda?

Tulisan indah mengandung nilai kebaikan. Kalam Allah yang mulia. Walau kaligrafi tidak selalu dari Alquran

Apakah imajinasji keindahan kaligrafi ditemui dalam pengalaman?

Kaligrafi mengilhami saya untuk selalu berbuat baik, ingin selalu mencari keindahan, keharomonisan dan menghadapi hidup dengan optimis. Yang sering tidak puas hanya membaca ayat atau kata dari khot atau tulisan biasa saja, apalagi hanya didengar.

Saya selalu merasa tergerak dari kata-kata yang ditulis dengan indah. Melihat teks indah yang terpajang dalam sebuah ruang itulah yang yang selalu memberi kesan, selalu mengingatkan pada kita tentang nilai kebaikan.

Apa yang melatarbelakangi Anda menggelar pameran di bulan puasa?

Untuk mengisi bulan penuh berkah dengan indah.

Itu saja?

Ya, itu saja. Apalagi sih yang dicari? Transaksi jual beli dan ingin diapresiasi sudah pasti ada…hahaha..  Tapi kalau melulu itu, tahun ini saya tidak pameran. Karena pameran tahun lalu tidak ada transaksi jual beli dan apresiasi juga, yaa..biasa saja.

Bulan puasa tahun ini 2017 atau bertepatan dengan 1438 Hijriah, Robert Nasrullah kembali menggelar pameran tunggal di kampus tempatnya mengajar, UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Pameran yang berlangsung 27 Mei hingga 17 Juni itu mengusung tema “Air”, di selasar UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Mengapa air?

“Air bagian terpenting dalam kehidupan. Tapi dunia sekarang krisis air,” jawab Robert.

Sementara, bulan puasa tahun lalu, pameran tunggalnya mengajukan tema “Paling Timur”. Dengan tema itu, perupa yang juga dikenal dengan “Robert Keris” ingin mengangkat kembali semangat budaya Timur yang dikenal santun, cinta damai, tepo seliro, gotong royong, dan menerima perbedaan.

Secara eksplisit, tahun lalu Robert menyebut-nyebut Pancasila. Banyak orang Islam tidak baca sejarah Indonesia berdiri, sehingga banyak orang tidak paham bahwa Pancasila itu yang merumuskan juga orang Islam, ulama-ulama yang mumpuni.

“Kiai-kiai, ulama-ulama ikut merumuskan Pancasila. Yang memperjuangkan ya Kiai-kiai kita juga, dari NU dan Muhammadiyah,” terangnya.

Seperti tahun lalu, pameran tahun ini Robert banyak menyuguhkan karya tiga dimensi. Lelaki kelahiran Banjarmasin 13 Februari 1977 menyampaikan alasan bahwa karya-karya tiga dimensi sesuatu yang jarang muncul dalam pameran kaligrafi.

Robert menyuguhkan wadah-wadah kecil terbuat dari almunium dan kaca berisi air. Wadah-wadah itu diletakkan di atas meja, sehingga sepintas terlihat seperti “kobokan” untuk cuci tangan sebelum makan. Ada juga wadah yang ukurannya lebih besar berisi isi air dan huruf-huruf latin. Robert juga memasang empat daun pintu berwarna hijau, biru, merah dan kuning.

Karya-karya tiga dimensi tersebut jauh dengan apa yang kita disebut dengan kaligrafi Islam. Di sana tidak ada huruf Arab, tidak ada goresan ayat Alquran, ataupun simbol-simbol yang identik dengan simbol keislaman, seperti “bulan bintang”.

Tapi justru dari karya tersebut saya memandang ada tulisan, fi’il amr (perintah), ayat pertama Alquran yang sangat populer: Iqro! Bacalah! Di samping tentu saja Robert menampilkan “Iqra bismi robbiakal-ladzi khalaq”, ayat yang selalu disajikan dalam pameran kaligrafi di manapun.

Kehadiran empat daun pintu sekelebat biasa saja. Namun, “pintu” adalah metafora yang cukup dikenal dalam Islam. Sebut saja misalnya ayat 67 dalam surah Yusuf:

Dan Yakub berkata: ‘Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain(an)

Pintu, dalam bahasa Arab bab (tunggal) atau abwab (jamak), juga disebut untuk surga dan neraka, pintu surga dan pintu neraka, baik dalam hadis ataupun dalam Alquran. Wal hasil, jelaslah bahwa yang dihadirkan Robert adalah sesuatu yang dikenal dalam Islam. Dalam konteks ini, dia telah mengembangkan seni Islam, tidak berhenti pada karya berupa karya kaligrafi, aksara, tapi juga benda-benda.

Pameran kali ini, Robert kembali menghadirkan perahu, seperti tahun lalu. “Pengantar Salam”, demikian judulnya. Kepada saya dia mengatakan bahwa perahu merupakan ilustrasi proses datangnya Islam ke Nusantara dengan jalan damai dan kebudayaan.

Namun lebih dari itu, perahu yang dalam bahasa Arab disebut safinah, mengandung banyak makna. Dalam dunia sufi misalnya, perahu merupakan symbol kendaraan menuju keselamatan. Sampai di sini, mari sejenak menikmat bait-bait Syair Perahu karya Hamzah Fansuri yang bikin merinding itu:

Perteguh jua alat perahumu/hasilkan bekal air dan kayu/dayung pengayuh taruh di situ/supaya laju perahumu itu

Sudahlah hasil kayu dan ayar/angkatlah pula sauh dan layar/pada beras bekal jantanlah taksir/niscaya sempurna jalan yang kabir

Perteguh jua alat perahumu/muaranya sempit tempatmu lalu/banyaklah di sana ikan dan hiu/menanti perahumu lalu dari situ

Muaranya dalam, ikanpun banyak/di sanalah perahu karam dan rusak/karangnya tajam seperti tombak/ke atas pasir kamu tersesak

Robert memilih tempat pameran di selasar masjid UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta, bukan di ruang pameran atau galeri seni rupa yang lazim. Selasar masjid adalah tempat umum, sehingga kita akan kesusahan membedakan mana yang sedang mengunjungi pameran mana yang bukan.

Pameran Robert terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ada mahasiswi yang sedang membaca buku di samping karya instalasi, keluar dari tempat wudlu langsung berhadapan meja-meja yang di atasnya tabung kaca berisi air, ada yang baru buka alas kaki langsung menjumpai kaligafi indah gaya Tsulus bertuliskan:

Iqra bismi robbikal-ladzi khalaq. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan!

Seorang tampak sedang menikmati sebuah lukisan. Photo by Hamzah Sahal

 

 

Ikuti tulisan eksklusif tentang Kaligrafi di islami.co lainnya di tautan ini:

Masjid di Bandung dan aliran Kaligrafi (Bagian-1)

Mesjid di Bandung dan Aliran Kaligrafi (Bagian-2) 

Mesjid di Bandung dan Aliran Kaligrafi (3-Habis) 

Kaligrafi, Pesantren hingga Getar Spiritual

Misteri kaligrafi Gus Mus

Wawancara: Dunia Kaligrafi Sang Imam Besar (Bagian-1)

Wawancara: Dunia Kaligrafi Sang Imam Besar (Bagian-2)