Dunia Kaligrafi Sang Imam Besar (2, Habis)

Dunia Kaligrafi Sang Imam Besar (2, Habis)

Dunia Kaligrafi Sang Imam Besar (2, Habis)

Robert Nasrullah  menyampaikan rencananya “Tour The Kaligrafi” ke pesantren-pesantren di Indonesia. Dia akan mengawali tournya di Pesantren Ora Aji, Kalasan, Jogjakarta, setelah lebaran nanti.

“Saya niati tour ini karena Allah. Misi keindahan Allah,” tegasnya, saat dihubungi islami.co pertengah Ramadan ini.

Berikut ini kelanjutan perbincangan islami.co dengan Robert, tadi pagi via sambungan facebook. Roberta yang tinggal di Jogja, tadi malam sudah mudik di kampung halamannya, di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Mengapa pesantren?

Karena santri sudah memiliki bekal pemahan terhadap aksara dan bahasa Arab. Selain itu, suasana pesantren itu dinamik. Saya suka berjalan di lorong-lorongnya melewati kamar-kamar, ruang ustadz, halaman rumah kiai. Berada di pesantren itu seperti melewati sebuah kota yang riuh. Itu inspiratif dan menarik.

Apa pendapat Anda tentang pesantren dan kaligrafi?

Alumni pesantren banyak yang mahir kaligrafi. Cuma ketika masuk ke kancah seni rupa kontemporer memang susah. Idealnya di samping mahir mengolah huruf, juga harus membekali diri dengan teknik melukis dan pengetahuan media seni rupa.

Gus Mus misalnya, bisa terkenal kaligrafinya, karena belajar teknik melukis secara umum, tidak hanya kaligrafi. Lebih dari itu, beliau seorang alim yang amat peduli dan perhatian terhadap umat. Sehingga peka dengan dinamika sosial yang terkait, utamanya dengan masalah umat.

Misal hanya Gus Mus, kaligrafer yang berkunjung ke gunung Kendeng Rembang, kawasan yang hendak dirusak sebagai sumber air. Sebab itulah, karena itu tema karya Gus Mus selalu aktual, faktual dan kaya makna

Dunia kaligrafi di Indonesia dinilai tidak berkembang. Makin tidak dikenal masyarakat. Hanya ramai di masjid. Apa komentar Anda?

Di situlah tantangannya. Di tengah hiruk pikuk seni rupa maka seorang kaligrafer harus mampu membangun gagasan yang dinamis, terkait dengan pemilihan tema dan penggunaan media yang beragam.

Dunia kaligrafi itu penuh perjuangan. Menjadi seorang kaligrafer pun bukan pilihan. Tetapi sebuah sikap berani untuk berkarya sekaligus berkorban melestarikan seni Islam.

Bagaimana agar kaligrafi ini memasyarakat, dan mereka juga menikmati seni Islam?

Kaligrafi harus masuk kurikulum pesantren, madrasah dan institusi-institusi pendidikan Islam. Kegiatan kaligrafi harus dibarengi dengan sering membaca, diskusi-diskusi, pameran, agar spirit kaligrafi bisa lebih meluas.

Kita punya wadah bagus di MTQ. Kaligrafi dilombakan di sana. Karyanya bagus-bagus. Kita harus bersma-sama mengembangkannya. Kaligrafi dalam konsep kekinian harus digali dan dikembangkan. Berwawasan ingklusif sebagai watak dari Islam nusantara, Islam rahmaran lil’alamin.

Anda ingat festival istiqlal?

Nah itu! Jujur diakui pada Orde Baru kaligrafi malah mendapat tempat, lepas dari motif-motif lain sang penguasa. Saat Orde Baru memang banyak momen kaligrafis yang terlaksana, salah satunya Festival Istiqlal tadi, meski cuma sebentar, tapi membekas. Iya kan?

Pak Soeharto juga sering menjadikan kaligrafi sebagai cendramata tamu negara.

Bagaimana Anda belajar kaligrafi?

Saya belajar kaligrafi dengan membaca buku. Secara khusus saya tidak pernah berguru. Cuma kalau mengingat proses eksprimen saya memang panjang. Pada proses itulah saya menemukan kebahagiaan, bahwa dengan berkaligrafi seakan bertamasya ke taman lain.

Tentu saja UIN juga dan Seni Rupa UST, tempat saya kuliah, banyak memberi saya pelajaran berharga. Alhamdulillah.

Di antara sekian model, khufi, tsulus, naskhi, dll. Mana yg paling Anda suka?

Saya suka Tsulus. Hurufnya elastis. Bertumpuk menembus spasi. Seakan-akan mengajarkan kebersamaan di antara kita.

Siapa idola kaligrafer Anda?

Almagfurlah Prof. Sadaly. Karya beliau sangat dalam. Indah visualnya. Indah sosialnya. Indah spritualnya.

Apa pesan Anda untuk lebaran kali ini?

Seperti halnya huruf-huruf arab yg elastis, membentuk kata dan kalimat syarat nilai. Mari kita rajut kebersamaan. Mari kita tebarkan salam. bersilaturahim dengan semuanya. []

 

 

Ikuti tulisan eksklusif tentang Kaligrafi di islami.co lainnya di tautan ini:

Masjid di Bandung dan aliran Kaligrafi (Bagian-1)

Mesjid di Bandung dan Aliran Kaligrafi (Bagian-2) 

Mesjid di Bandung dan Aliran Kaligrafi (3-Habis) 

Kaligrafi, Pesantren hingga Getar Spiritual

Misteri kaligrafi Gus Mus

Wawancara: Dunia Kaligrafi Sang Imam Besar (Bagian-1)

Wawancara: Dunia Kaligrafi Sang Imam Besar (Bagian-2)