Di Ceramah Ustadz Khalid, Perempuan dan Laki-laki kok Agak Gimana gitu, Diskriminatif?

Di Ceramah Ustadz Khalid, Perempuan dan Laki-laki kok Agak Gimana gitu, Diskriminatif?

Ini terkait relasi antara laki-laki perempuan dalam ceramah Ustadz Khalid Basalamah, kalau istri atau suami kerja sebagai sopir transportasi online, bagaimana?

Di Ceramah Ustadz Khalid, Perempuan dan Laki-laki kok Agak Gimana gitu, Diskriminatif?
Ustaz Khalid Basalaman (Source: khalidbasalamah.com)

Ini sekali lagi tentang salah satu ceramah ustadz Khalid Basalamah. Dalam ceramahnya di salah satu akun youtubenya menyinggung masalah perempuan dan laki-laki yang bercampur baur. Dia mencontohkan seorang perempuan tidak boleh disupiri oleh seorang laki-laki. Bahkan, banyak yang menyakini dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali setan akan menjadi yang ketiga.”

Hal lainnya yang sering diyakini di masyarakat adalah Dilarang bersafar (melakukan perjalanan jauh) bagi perempuan tanpa laki-laki yang menjadi mahramnya (suami, ayah, paman atau saudara laki-lakinya). Dari ceramah tersebut, saya kembali menarik napas yang cukup panjang. Di mana di era yang cukup modern ini, seringkali menemukan hal tersebut. Apalagi di ketika adanya transportasi online, tidak sedikit perempuan yang memiliki istri diantarkan oleh supir online dan hanya berduan di dalam mobil. Hal itu pun berlaku juga kepada saya.

Dari ceramah Ustad Khalid Basalamah, saya mengingatkan perkataan dari Cixous, salah satu tokoh feminis Postmodern Perancis. Di mana perempuan eksis dalam di dunia dari dunia yang telah diciptakan dan didefiniskan oleh laki-laki dalam aturan yang telah ditetapkan oleh laki-laki. Saya sepakat dengan perkataan dari Cixous, di mana Ustad Khalid Basalamah telah melanggengkan hal-hal yang boleh atau tidak dilakukan oleh perempuan dari kacamata laki-laki. Jika hal tersebut terus dipelihara, akan adakah kekerasan yang terjadi?

Dari hal tersebut, saya jadi teringat perkataan dari Kate Millet (1970) seorang feminis Amerika nenggaris bawahi bahwa kekerasan terhadap perempuan terjadi pada sistem masyarakat patriarkal di mana distribusi kekuasaan antara laki-laki dan perempuan yang timpang. Bahkan, tokoh ayah dan laki-laki mengokohkan hukum-hukum di masyatakat. Peran ini akan menghilangkan peran perempuan.

Sehingga, subordainasi atau kekerasan perempuan bukan lagi hal yang tanpa disengaja. Masyarakat yang patriarki akan memastikan garis keturunan laki-laki menjadi hal yang sangat penting. Hal ini pun terjadi pada budaya di Indonesia. Di mana suku Batak akan terus berusaha mempunyai anak-anak laki demi kelangsungkan garis keturunan. Bagaimana dengan kondisi di luar negeri? Di China terdapat salah satu perkataan jika satu anak laki-laki yang bongkok berguna daripada 10 anak perempuan yang sehat.

Baca juga: Ceramah Ustadz Khalid tentang perempuan

Dengan kata lainnya, hadist-hadist tersebut dikeluarkan untuk membuat ketakutan-ketakutan yang berlebihan pada isu fitnah, khalwat dan aurat. Pada akhirnya, hal tersebut akan membatasi perempuan dari ruang-ruang publik. Padahal, ruang public adalah milik laki-laki dan perempuuan yang manfaatnya bisa dirasakan bersama.

Perkataan dari Ustadz Khalid Basalamah sendiri bertentangan dengan apa yang terjadi di zaman Nabi SAW dulu. Menurut Anas bin Malik Ra dalam Shahih Bukkhari no 6141 bercerita, “Di Madinah, ada seorang budak perempuan yang memegang tangan Rasullullah SAW dan membawanya beliau ke tempat yang diinginkan.”

Bahkan di zamannya, terdapat sejumlah perempuan yang rumahnya seringkali dikunjungi oleh Nabi. Di antaranya, Ummu Sulaim Ra, Ummu Haram bin Hilman Ra, Ja’dah binti Abdullah al-Anshariyah, Syahidah Ummu Waraqah Ra dan lainnya. Dari gambaran tersebut, saya melihat jika ceramah Khalid Basalamah ini akan mendiskriminasi perempuan. Padahal Islam sendiri mengikis tradisi diskriminasi terhadap perempuan. Bahkan, perempuan dijadikan sebagai manusia yang utuh. Misalkan bayi perempuan yang lahir harus disyukuri sama seperti laki-laki.

Dalam sebuah konferensi dunia, Benazir Bhutto seorang mantan perdana menteri Pakistan menyatakan bila perempuan di Negara muslim ketinggalan, hal itu bukan disebabkan oleh agamnya. Akan tetapi, disebabkan oleh budaya tradisi laki-laki yang berkuasa dan telah mengingkari hak-hak perempuan yang dijanjikan oleh Islam. Bagaimana dengan Indonesia?

Nampaknya kita membutuhkan orang-orang tang vocal dan dapat menekan pihak kepentingan untuk membuat kebijakan nyata yang menguntungkan perempuan. Serta perlu banyak publikasi tentang ketidakadilan yang dialami perempuan dan terus berusaha melakukan consciousness raising. Penyadaran juga sangat penting dilakukan di keluarga, tempat kerja, sekolah dan sebagainya. Sudah banyak usaha yang dilakukan oleh banyak orang untuk memerangi ketidakadilan yang dialami perempuan.

Anda boleh kok tidak setuju dengan penerimaan saya terkait ceramah Ustadz Khalid ini. Toh, kita hidup di demokrasi, bukan?